- Pasar keuangan Indonesia akhirnya kompak menguat di tengah meredanya ketegangan geopolitik
- Wall Street melonjak setelah gencatan senjata perang Iran
- Perkembangan perang, data ekonomi hingga risalah FOMC menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak menguat pada akhir perdagangan kemarin. Baik pasar saham ataupun nilai tukar menguat.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa melanjutkan tren positif hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 3,39% pada perdagangan Rabu (8/4/2026).
IHSG ditutup di level 7.207,16 atau menguat 236,13 poin dari perdagangan sebelumnya. Sebanyak 566 saham naik, 134 turun, dan 114 tidak bergerak dengan nilai transaksi mencapai Rp 12,99 triliun dari 26,86 miliar saham dalam 1,44 juta kali transaksi.
Asing mencatat net buy sebesar Rp 632,9 miliar pada perdagangan kemarin.
Seiring penguatan tersebut, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut naik menjadi Rp 12.646 triliun. Kenaikan ini mencerminkan kembalinya minat beli investor di tengah sentimen global yang mulai membaik.
Beralih ke pasar valas, Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/4/2026), seiring pelemahan dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan apresiasi 0,50% ke level Rp17.005/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah yang terjadi dalam tiga hari perdagangan beruntun.
Penguatan rupiah pada perdagangan terutama didorong oleh faktor eksternal, yakni melemahnya dolar AS di pasar global setelah muncul pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks dolar AS jatuh ke level terendah dalam dua pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan melancarkan serangan luas terhadap infrastruktur sipil Iran apabila Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Bank Indonesia (BI) juga menegaskan fokusnya saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI). Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar," kata Destry dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih berada di posisi 6,624% selama tiga hari beruntun.


















































