Asia Kebakaran Hebat: Ringgit, Won Hingga Rupiah Ramai-Ramai Jatuh

3 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

01 September 2026 10:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia kembali berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini. Greenback yang berbalik menguat pagi ini membuat mayoritas mata uang Asia masuk zona merah.

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (1/9/2026) per pukul 09.16 WIB, dari sembilan mata uang Asia, sebanyak tujuh diantaranya melemah terhadap dolar AS. Sementara dua lainnya berhasil menguat.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Ringgit melemah 0,30% ke posisi MYR 4,034/US$.

Won Korea Selatan menyusul dengan pelemahan 0,24% ke posisi KRW 1.370,39/US$. Baht Thailand juga terkoreksi 0,12% ke THB 33,18/US$.

Rupiah turut bergerak melemah. Mata uang Garuda turun 0,06% ke posisi Rp17.720/US$. 

Dolar Singapura ikut melemah 0,05% ke SGD 1,271/US$, disusul yen Jepang yang turun 0,03% ke JPY 159,79/US$. Yuan China juga terkoreksi tipis 0,01% ke CNY 6,7206/US$.

Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia. Dolar Taiwan menguat 0,25% ke posisi TWD 31,613/US$.

Peso Filipina juga bergerak positif dengan penguatan 0,12% ke posisi PHP 62,290/US$.

Pelemahan mayoritas mata uang Asia pagi ini terjadi saat dolar AS kembali menguat. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau naik 0,08% ke posisi 99,503.

Penguatan DXY pagi ini terjadi setelah dolar AS sempat melemah pada perdagangan sebelumnya. Indeks dolar AS turun 0,24% ke posisi 99,43 setelah sebelumnya sempat menyentuh 99,73 pada Jumat pekan lalu hingga menjadi level terkuat sejak 17 Agustus.

Pasar saat ini masih mencermati arah suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) setelah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole dinilai bernada hawkish. Warsh menyatakan bank sentral AS masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan jika pembuat kebijakan belum yakin inflasi bergerak turun menuju target 2%.

Komentar tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali naik. Fed funds futures memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 64%, naik dari sekitar 35% sebelum komentar Warsh pada Jumat.

Elwin de Groot, head of macro strategy Rabobank, menilai pernyataan Warsh memang diarahkan untuk mengangkat kembali ekspektasi kenaikan bunga.

"Pernyataan tertulis Warsh tampaknya dirancang untuk menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga, menggeser perdebatan September ke arah kubu hawkish, dan membangun kembali kredibilitasnya dalam melawan inflasi," ujar de Groot, dikutip dari Reuters.

Selain itu, pasar juga menunggu data tenaga kerja AS pekan ini. Laporan ketenagakerjaan Agustus yang akan dirilis Jumat diperkirakan menunjukkan penambahan 55.000 pekerjaan. Data ini akan menjadi petunjuk penting sebelum The Fed menggelar rapat pada 15-16 September.

Marc Chandler, chief market strategist Bannockburn Global Forex, menilai data tenaga kerja akan sangat menentukan ruang gerak The Fed.

"Jika kita mendapatkan penurunan pekerjaan secara langsung, saya tidak melihat bagaimana The Fed dapat menaikkan suku bunga. Saya rasa mereka tidak pernah menaikkan suku bunga setelah ekonomi mengalami kehilangan pekerjaan dua kali berturut-turut," ujar Chandler, dikutip dari Reuters.

Tekanan untuk pasar Asia juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi global. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, kekhawatiran fiskal, serta harga minyak yang menguat membuat pasar cenderung berhati-hati.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |