Tangerang -
Penamaan suatu wilayah biasanya memiliki arti hingga latar belakang yang menarik untuk ditelusuri. Begitu juga dengan Kelurahan Jurumudi di Kota Tangerang, yang memiliki kisah unik di baliknya.
Nama Jurumudi bukan diambil dari sosok tokoh ataupun ulama wilayah setempat. Jurumudi ternyata berkaitan dengan kegiatan ziarah hingga pekerjaan yang dulu banyak dilakoni masyarakat di wilayah tersebut, yakni sebagai pengemudi alias sopir.
Staf Tata Pemerintahan Kelurahan Jurumudi, Marsudin, menceritakan asal-usul di balik nama Kelurahan Jurumudi. Dia mengatakan awalnya Jurumudi bernama Jaramudi karena banyak muda-mudi yang kerap berziarah di makam wilayah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi begini, sebenernya itu dulu bukan Jurumudi, awalnya itu disebut Jaramudi, karena di situ ada suatu makam yang dikunjungi oleh para muda-mudi, di RW 05 tuh makamnya. Jadi disebutnya jaramudi, karena ada tempat ziarah di situ ada makam, ada tempat ziarah, ada muda-mudi," kata Marsudin saat ditemui di Kantor Kelurahan Jurumudi, Benda, Kota Tangerang, Jumat (4/9/2026).
Staf Tata Pemerintahan Kelurahan Jurumudi, Marsudin. (Kadek/detikcom)
Seiring berjalannya waktu, banyak aktivitas galian pasir di dana. Saat itu, mayoritas masyarakat bekerja sebagai sopir galian pasir dan juga angkot.
"Untuk selanjutnya, lama kelamaan ada banyak galian pasir, galian pasir dan para mobil-mobil, ada mobil truk ada mobil Isuzu juga. Jadi berubahlah tuh nama menjadi Jurumudi pada tahun kurang tahu dah tahunnya, kebetulan orang tua saya, engkong saya, di situ juga di Jurumudi, jadi saya suka tanya-tanya ceritanya seperti itu," ujarnya.
Nama Jarumudi pun berubah menjadi Jurumudi lantaran mayoritas masyarakat bekerja sebagai sopir.
"Berubah jadi Jurumudi karena banyak sopir dan banyak galian pasir di situ galian pasir untuk diangkut dijual sama mobil truk, banyak mobil Isuzu juga jadi berubah lah disebutnya Jurumudi," ucapnya.
Jurumudi resmi menjadi kelurahan dengan terbitnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 16 Tahun 2000. Kelurahan Jurumudi berada di Kecamatan Benda sesudah dipecah dari Kecamatan Batuceper.
"Mulai dipecah sekitar tahun 2000-an karena mungkin terlalu luas wilayahnya. Kalau dulu kan Batuceper kelurahannya 13, nah dipecahlah Benda, menjadi 5 kelurahan," jelasnya.
Kendati demikian, Marsudin menuturkan kini galian pasir di sana sudah tidak ada. Masyarakat yang bekerja sebagai sopir pun tak sebanyak dulu.
"Kalau sekarang kalau sopir angkutan masih ada, kalau galian pasir udah nggak ada. Karena galian pasir sekarang udah diuruk, udah kena fasilitas jalan tol dan sebagainya. Jadi udah nggak ada galian-galian lagi. Udah pada dijualin, diuruk, jual sama pengusaha," imbuhnya.
Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Jurumudi, Dedi Karyadi, mengungkap mata pencaharian warga sana adalah sopir. Selain sopir pasir galian, juga ada sopir angkutan umum.
"Memang dulu Jurumudi mata pencaharian penduduknya itu sebagian rata-rata pengemudi atau supir. Sopir dengan perkembangannya dulu ada Bandara Soekarno-Hatta," kata Dedi.
"Jadi beliau mereka itu untuk mobilisasi pekerja dari Kebon Besar, Batuceper, arah Jurumudi daerah bandara itu memerlukan kendaraan dan yang dipakai rata-rata kendaraan tuyul apa yang mobil kecil itu. Juru jadi sopirlah semacam transportasi gitu," lanjutnya.
Dedi menjelaskan banyak perumahan dan pergudangan di wilayah Jurumudi. Warga yang tinggal di sana juga bervariasi.
"Jadi mayoritas di sini heterogen dan bermacam-macam campuran. Dengan perkembangannya zaman di sini tetap masih ada namanya Kampung Baru Kampung Jurumudi dan sebagian itu ada di sini pergudangan Nusa Indah, pergudangan dan pergudangan ada dua pergudangan termasuk juga ada perumahan," jelasnya.
Untuk diketahui, Kelurahan Jurumudi memiliki 8 RW. Jumlah penduduknya tercatat mencapai 14 ribuan orang.
"Sekarang itu kan dengan adanya teknologi maju karena memang mereka terus juga ya, tapi sebagian masih ada untuk mobil Isuzu, bukan Isuzu, mobil tuyul angkot ya dari Kebon Besar sampai Jurumudi sebagian orang-orang kita dan sebagian kalau ada yang bisa aplikasi yang ojek ada yang go-jek ada yang juga soal berjualan wiraswasta di pinggir jalan," imbuhnya.
(dek/dwr)


















































