AS Turun Tangan Selamatkan Yen Jepang, Ada Ancaman Besar Apa Mr Trump?

8 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang mengonfirmasi telah melakukan intervensi bersama Amerika Serikat (AS) untuk menopang nilai tukar yen yang terus tertekan. Tokyo juga menegaskan tidak akan ragu "mengambil langkah lanjutan apabila gejolak di pasar valuta asing kembali meningkat".

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pemerintah akan terus memantau perkembangan pasar dan menjaga koordinasi erat dengan Washington. "Kementerian Keuangan Jepang tetap memantau situasi dan menjalin komunikasi erat dengan rekan-rekan kami di Departemen Keuangan AS. Kami tidak akan ragu untuk melakukan intervensi bersama lebih lanjut," ujar Katayama dalam pernyataan resmi seperti dikutip Japan Times, dirilis Senin (3/8/2026).

Sebenarnya, intervensi tersebut dilakukan pada Jumat lalu bersama Departemen Keuangan AS untuk membeli yen di pasar valuta asing. Menurut Kementerian Keuangan Jepang, langkah itu bertujuan mengatasi "volatilitas berlebihan dan pergerakan yang tidak tertib" pada nilai tukar yen yang telah melemah dalam beberapa bulan terakhir hingga menyentuh level terendah dalam hampir 40 tahun.

Sebelum pengumuman resmi dari Tokyo, Presiden AS Donald Trump juga memberi pernyataan. Dikatakannya bahwa Washington membantu Jepang memperkuat yen sebagai bentuk persahabatan sekaligus demi menjaga stabilitas ekonomi global.

Ada Bahaya Besar Apa?

Intervensi bersama tersebut menjadi operasi pembelian yen pertama yang dilakukan AS dan Jepang sejak 1998. Yen sebelumnya sempat melemah hingga 163,73 per dolar AS pada Kamis pekan lalu sebelum akhirnya menguat ke kisaran 157,57 per dolar sehari kemudian.

Sejumlah analis menilai keputusan AS bukan semata-mata untuk membantu Jepang, tetapi juga demi melindungi pasar keuangan Amerika sendiri. Jepang diketahui merupakan pemegang surat utang pemerintah AS (US Treasury) terbesar di dunia.

Jika Tokyo harus melakukan intervensi sendirian, pemerintah Jepang berpotensi menjual sebagian besar kepemilikan obligasi AS untuk memperoleh dolar AS. Penjualan besar-besaran itu dikhawatirkan mengguncang pasar obligasi Amerika dan mendorong biaya pinjaman pemerintah AS semakin tinggi.

Kepala Ekonomi Asia Oxford Economics Louise Loo mengatakan ada unsur "kepentingan diri sendiri" dalam keputusan Washington. "Gejolak pasar yang dipicu kebijakan fiskal agresif Jepang bisa merembet ke pasar obligasi pemerintah AS dan mengganggu stabilitas dolar," ujarnya kepada CNBC International.

Untuk menghindari skenario tersebut, Jepang akan memanfaatkan fasilitas FIMA Repo milik Federal Reserve (Fed). Fasilitas ini memungkinkan bank sentral asing memperoleh likuiditas dolar tanpa harus menjual obligasi pemerintah AS.

Menurut Senior Macro Strategist State Street Masahiko Loo, keputusan menggunakan fasilitas tersebut bahkan lebih penting dibanding aksi intervensinya sendiri. Selain melindungi pasar obligasi AS, Washington juga memiliki kepentingan lain. Pemerintah AS selama ini menilai yen berada pada level yang terlalu murah sehingga memberikan keuntungan kompetitif bagi ekspor Jepang.

Dengan membantu memperkuat yen, AS berharap ketidakseimbangan tersebut dapat dikurangi. Ini sekaligus memberi waktu bagi Bank of Japan (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga secara bertahap.

U.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/IllustrationU.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Babak Baru Hubungan AS-Jepang?

Trump mengatakan keterlibatan AS dalam intervensi mata uang dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada Jepang sekaligus menjaga stabilitas ekonomi global. Namun, Pakar Monex, Jesper Koll, menyebut operasi bersama ini menandai babak baru hubungan ekonomi antara Washington dan Tokyo.

"Ketika Jepang meminta bantuan, Amerika menjawabnya," katanya juga menilai langkah tersebut mengirimkan sinyal geopolitik kepada China bahwa kerja sama AS-Jepang kini semakin erat.

Analis Mizuho Securities Vishnu Varathan menambahkan keterlibatan Departemen Keuangan AS dan Federal Reserve membuat pasar lebih percaya. Bahwa pemerintah siap kembali melakukan intervensi jika tekanan terhadap yen berlanjut.

Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa intervensi hanya memberikan efek sementara. Senior Fellow Brookings Institution Robin Brooks menilai pelemahan yen pada akhirnya ditentukan oleh fundamental ekonomi Jepang, terutama kondisi pasar obligasi dan kebijakan moneter Bank of Japan.

"Selama imbal hasil obligasi Jepang masih ditekan rendah melalui pembelian obligasi oleh BOJ, tekanan terhadap yen akan tetap berlanjut," tambahnya.

Senada dengan itu, Louise Loo mengatakan intervensi memang dapat membeli waktu dalam jangka pendek. Tetapi, tambahnya, arah yen dalam beberapa tahun ke depan tetap akan ditentukan oleh normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan, bukan oleh aksi intervensi pemerintah semata.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |