AS Batal Invasi Darat, Pilih Jatuhkan Bom Nuklir Demi Akhiri Perang

5 hours ago 3
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Keinginan Amerika Serikat (AS) mengakhiri perang Iran lebih cepat bukan sekadar omong kosong. Dalam sejarah, Washington pernah mengambil langkah paling ekstrem demi memaksa konflik selesai setelah rentetan ultimatum gagal, yakni meluncurkan bom nuklir alih-alih invasi darat.

Catatan kelam itu terjadi pada Juli-Agustus 1945, ketika Perang Dunia II (1939-1945) di front Pasifik melawan Jepang belum juga berakhir. Seperti ancaman militer Donald Trump terhadap Iran hari ini, Presiden AS Harry S. Truman (1945-1953) bersama Sekutu mengeluarkan ultimatum melalui Deklarasi Potsdam.

Jepang diminta menyerah tanpa syarat atau akan menghadapi "kehancuran cepat dan total." Namun, tak ada tanda-tanda Jepang bersedia menyerah, meski perang telah memakan korban besar. Menghadapi ini, awalnya Pentagon telah menyiapkan invasi darat besar-besaran ke daratan utama Jepang, dengan serangkaian operasi yang direncanakan sepanjang 1945.

Namun, skenario invasi darat itu dinilai terlalu mahal. Tentara Jepang dikenal siap mati demi kaisar dan negaranya. Para perencana militer AS memperkirakan pendaratan pasukan akan memicu perang panjang yang menguras waktu, biaya, dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah luar biasa.

Mengutip situs Truman Library, ketika ancaman menyerah tetap diabaikan Jepang, 11 hari kemudian, tepat pada 6 Agustus 1945, Truman mengambil langkah paling kontroversial dalam sejarah agar perang berakhir lebih cepat, yakni menjatuhkan bom nuklir.

Alhasil, di hari yang sama, bom pertama, Little Boy, dijatuhkan di Hiroshima. Lalu, tiga hari kemudian, AS kembali menjatuhkan bom kedua bernama Fat Man di Nagasaki. Dalam hitungan menit, kedua kota itu hancur tak bersisa.

Mengutip situs Britannica, tercatat ada 70.000-140.000 orang tewas di Hiroshima. Sementara di Nagasaki, ada 40.000-80.000 korban tewas. Ini belum memperhitungkan ratusan ribu warga lain yang mengalami efek radiasi jangka panjang.

Beberapa hari kemudian, serangan nuklir menjadi titik balik perang. Kaisar Jepang, Hirohito, akhirnya menyerah pada 15 Agustus 1945 dan menandai berakhirnya Perang Dunia II di Pasifik. Penyerahan resmi diteken pada 2 September 1945 di atas kapal perang USS Missouri di Teluk Tokyo.

Meski demikian, keputusan AS menjatuhkan bom nuklir demi mengakhiri perang tetap menjadi perdebatan hingga hari ini.

Salah satunya diungkap sejarawan Sergery Rachenko  dalam tulisan berjudul "Did Hiroshima Save Japan From Soviet Occupation?". Menurutnya tindakan itu tidak hanya soal memaksa Jepang menyerah, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan di hadapan Uni Soviet, yang saat itu diperkirakan akan ikut melakukan invasi darat dan dianggap kompetitor Paman Sam. 

Dampak jangka panjangnya pun terasa sampai kini. Peluncuran bom nuklir memicu perlombaan senjata global dan meninggalkan bayangan ancaman nuklir di setiap ketegangan internasional.

Sampai sekarang, pemerintah AS tidak pernah meminta maaf atas peluncuran senjata nuklir yang pertama dan satu-satunya di dunia tersebut. 

(mfa/sef)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |