Aneh! Bali Diserbu Turis Libur Nataru Tapi kok Check-in Hotel Sepi

22 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Bali tengah menghadapi situasi yang tak lazim. Jumlah wisatawan terus mencetak rekor kenaikan, namun tingkat hunian hotel justru tidak bergerak sebanding. Fenomena ini menjadi paradoks di tengah euforia pemulihan pariwisata Pulau Dewata.

Senior Associate Director Colliers Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan kondisi tersebut bukan tanpa sebab. Menurutnya, struktur pasar akomodasi di Bali telah berubah signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

"Kalau di Bali situasinya sekarang cukup unik, boleh dibilang cukup unik karena bahkan bisa dibilang paradoks ya. Jumlah wisatawan ini terus naik tapi okupansi hotel tidak ikut melonjak," ujar Ferry dalam konferensi pers, Rabu (7/1/2025).

Perubahan itu dipicu oleh lonjakan vila, khususnya vila yang tidak terdaftar secara resmi. Akomodasi jenis ini menawarkan ruang lebih luas dengan harga lebih kompetitif, sehingga menggeser preferensi wisatawan dari hotel ke vila.

"Salah satu jawabannya adalah ledakan vila, terutama yang tidak terdaftar yang menawarkan harga lebih murah dan ruang lebih besar sehingga merubah pangsa pasar hotel," jelasnya.

Tekanan terhadap hotel juga datang dari sisi permintaan domestik. Ferry menilai pasar yang selama ini menjadi tulang punggung hotel, khususnya dari pemerintah dan kegiatan korporasi, justru mengalami pelemahan.

"Pasar domestik khususnya dari pemerintah justru melemah. Anggaran juga dipangkas, MICE menyusut, dan ini juga memukul hotel-hotel yang selama ini bergantung pada event," katanya.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan pasar internasional. Wisatawan mancanegara kembali membanjiri Bali dan bahkan telah melampaui level sebelum pandemi.

"Sebaliknya tamu internasional justru tumbuh kuat. Wisatawan asing sudah melampaui level pra-pandemi. Australia masih dominan, kemudian China, India, dan Eropa," ungkap Ferry.

Dari sisi harga, hotel-hotel di Bali sebenarnya telah melakukan penyesuaian agresif dalam dua tahun terakhir, seiring kuatnya daya beli turis asing dan tren masa tinggal yang lebih panjang.

"Harga kamar hotel naik cukup agresif, didukung oleh daya beli turis asing dan juga length of stay yang sedikit lebih panjang," kata Ferry.

Namun, tantangan klasik Bali kembali mencuat dan berdampak pada perilaku wisatawan.

"Tantangannya adalah macet, sehingga ini membuat mobilitas wisatawan menurun dan banyak tamu jadi memilih untuk tidak pindah hotel," jelasnya.

Ke depan, Ferry melihat kebijakan moratorium pembangunan hotel dan vila baru sebagai peluang untuk membalikkan keadaan. Dengan suplai yang lebih terkendali, arah pariwisata Bali dinilai bisa bergeser ke segmen yang lebih berkualitas.

"Kita berharap moratorium hotel dan vila yang baru ini bisa menjadi titik balik. Bali diarahkan bukan lagi pariwisata massal, tapi destinasi premium yang lebih berkelanjutan," ujarnya.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |