7 Kesaksian Eks Stafsus Nadiem Sampai Ditanya Hakim IQ Berapa

3 hours ago 2
Jakarta -

Mantan staf khusus (stafsus) dari eks Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, Fiona Handayani, dihadirkan dalam sidang lanjutan kasus korupsi pengadaan Chromebook. Fiona bersaksi terkait keberadaan buron Jurist Tan hingga ditanya soal IQ oleh hakim.

Dirangkum detikcom, Jumat (6/2/2026), Fiona bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Kamis (5/2). Terdakwa dalam sidang ialah Mulyatsyah selaku Direktur SMP Kemendikbudristek 2020, serta Sri Wahyuningsih selaku Direktur Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah tahun 2020-2021.

1. Gaji 'Wah' Konsultan Era Nadiem

Fiona ditanya hakim terkait pengetahuannya perihal gaji fantastis yang diterima konsultan di Kemendikbudristek era Nadiem, Ibrahim Arief alias Ibam. Fiona mengaku baru mengetahui gaji Ibam dari berita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fiona mengaku mengetahui gaji Ibam dari pemberitaan saat perkara ini disidangkan. Untuk diketahui, Ibam juga merupakan terdakwa dalam perkara ini.

"Kemudian termasuk bahwa Ibrahim Arief bukan stafsus, tetapi gajinya dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat dari Anda juga, tahu kapan itu?" tanya hakim ad hoc Tipikor Jakarta, Andi Saputra.

"Baru kemarin saat saya melihat di berita," jawab Fiona.

"Baru kemarin, ya?" tanya hakim.

"Betul," jawab Fiona.

Selama proses pengadaan Chromebook, Fiona mengaku tidak mengetahui berapa gaji Ibam. Dia mengaku baru saja mengetahui nominal gaji Ibam.

"Waktu proses 5 tahun itu tidak tahu?" tanya hakim.

"Tidak tahu," jawab Fiona.

2. Ditanya IQ Berapa oleh Hakim

Hakim menyentil Fiona Handayani karena memiliki IQ 147 tapi banyak lupa saat memberikan keterangan sebagai saksi kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management. Hakim penasaran dengan IQ Fiona karena terlihat tenang dan lugas saat memberikan keterangan.

"Jadi dari beberapa saksi yang saya perhatikan Saudara kelihatan tenang ya, lugas, cepat begitu. Jadi kalau misalnya saya boleh tahu IQ-nya berapa? Nggak, ya ini kalau mau menjawab," kata hakim anggota Sunoto.

"Saya nggak ingat," jawab Fiona.

"Biasanya kan SMA pernah tes IQ. Ya kalau anak-anak yang sekarang biasanya kelas 2 itu sudah cuma pengen tahu saja. Antara 120-130 atau 130 ke atas gitu?" tanya hakim.

"147," jawab Fiona.
Hakim menilai tingkat IQ Fiona sangat superior. Hakim menyentil Fiona yang memiliki IQ tinggi tapi juga banyak lupa saat menjawab pertanyaan di persidangan.

"Oh 147, 147 itu oh sangat superior ya. Kan sudah di atas 130. Jadi kalau diajak bicara fisika kuantum gitu nyambung Saudara," ujar hakim.

"Saya tidak menguasai fisika kuantum, Yang Mulia," jawab Fiona.

"Nggak, orang bisa diajak bicara itu manakala IQ-nya ya 130 ke atas. Makanya saya perhatikan tadi Saudara tap-tap-tap. Tapi ya banyak lupanya," sentil hakim.

"Betul, saya pikun banget," jawab Fiona.

Hakim mengatakan memori ingatan Fiona seharusnya tajam karena memiliki tingkat IQ 147. Fiona mengatakan IQ bukan segalanya.

"Harusnya kalau sudah IQ segitu itu memorinya tajam, nggak ada istilah lupa itu nggak ada," ujar hakim.

"IQ kan bukan segalanya, Yang Mulia," jawab Fiona.

3. Hakim Tanya Keberadaan Buron Jurist Tan

Fiona juga ditanya oleh hakim tentang keberadaan buron Jurist Tan. Jurist juga diketahui merupakan mantan stafsus Nadiem.

"Gini loh, Saudara nggak disebut di sini. Yang disebut sekarang malah di mana? Jurist Tan yang disebut ada di mana?" tanya hakim.

"Saya tidak tahu," jawab Fiona.

4. Bantah Jadi Perpanjangan Tangan Nadiem

Fiona juga membantah menjadi perpanjangan tangan Nadiem. Fiona mengaku hanya bertugas memberi saran dan masukan sesuai kompetensinya.

Fiona mengatakan ada lima stafsus di era Nadiem. Dia menjelaskan lima stafsus itu bertugas memberikan saran dan masukan sesuai bidang kompetensinya. Fiona bertugas di bidang PAUDDasmen.

"Di antara lima staf khusus ini, ada batasan tidak, batasan untuk tugas-tugasnya masing-masing?" tanya ketua majelis hakim Purwanto S Abdullah.

"Jadi semuanya secara umum memberikan saran dan masukan Yang Mulia. Kalau saya terkait PAUDDasmen, lalu kalau Mas Day terkait pendidikan tinggi, kalau Mbak Jurist itu terkait lintas kementerian, kalau Mas Iwan itu terkait guru, kalau Mas Haikal itu terkait komunikasi publik," jawab Fiona.

Fiona mengatakan saran dan masukan dari stafsus disampaikan ke Nadiem. Dia menuturkan para stafsus juga bertugas memberikan saran dan masukan ke pejabat eseleon I dan II hingga staf di Kemnaker.

Hakim menanyakan apakah kapasitas Fiona saat memberikan saran dan masukan ke pejabat Kemnaker merupakan perpanjangan tangan dari Nadiem. Fiona membantahnya dan mengatakan saran serta masukan yang ia berikan berdasarkan pemikiran pribadi sesuai kompetensinya.

"Pada saat Saudara mengajukan atau memberikan saran kepada di luar dari Pak Menteri, ke direktur atau eselon I, eselon II, kapasitas Saudara pada saat itu apakah sebagai perpanjangan dari Pak Menteri atau seperti apa?" tanya hakim.

"Tidak. Saran masukan sebagai saya pribadi sebagai staf khusus menteri sesuai kompetensi saya," jawab Fiona.

5. BAP Fiona Dibacakan di Sidang

Hakim membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Fiona Handayani yang merasa ada hal berbahaya dalam pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management. BAP itu juga berisi ucapan Fiona tentang isu risiko monopoli dalam pengadaan tersebut.

"Ini masih ada kaitannya dengan BAP Saudara, 'bahwa saat itu Jurist Tan mengusulkan agar pengadaan lisensi Google software dipisah dengan pengadaan laptop hardware supaya memudahkan CSR atau co-investment revenue lisensi Google untuk kebutuhan anggaran timtek. Saat itu Jurist Tan menyampaikan bahwa Google mau melakukan perjanjian kerja sama tersebut. Namun saat itu saya merasa itu berbahaya seingat saya karena kemungkinan terkait isu risiko monopoli'. Betul?" tanya hakim anggota Sunoto.

"Betul makanya setelah itu seingat saya dicek ke KPPU," jawab Fiona.

Fiona lupa percakapan itu muncul dalam rapat atau chat. Hakim menilai Fiona mengetahui lebih banyak tentang norma dan aturan sehingga bisa menyebutkan hal tersebut.

"Oke kalau sudah ada percakapan 'Wah itu bahaya' berarti kan itu kan dalam rapat ya?" tanya hakim.

"Saya lupa dalam rapat atau dalam chat, kayaknya dalam chat deh Yang Mulia," jawab Fiona.

"Dalam chat. Karena kalau Saudara bilang orang kalau bilang 'Ah itu bahaya' berarti orang yang mengatakan itu tahu norma, tahu aturan," ujar hakim.

"Sejauh yang saya paham," jawab Fiona.

Fiona mengatakan formula revenue 30% CDM dari Google juga tidak pernah dilaksanakan. Hakim menyinggung tingkat IQ Fiona di angka 147 sehingga bisa mengatakan hal tersebut.

"Ya kan sampai Saudara bilang 'Eh jangan itu bahaya'. Nah kalau orang sudah bilang begitu itu orangnya pasti pengetahuannya lebih ya norma aturan apa tahu kalau orang yang nggak paham ya ngikut aja 'Udah saya ngikut aja'. Nah Saudara kan karena IQ-nya tinggi itu tadi. Oke begitu ya," ujar hakim.

6. Ngaku Tidak Punya Latar Belakang di Bidang Pendidikan

Fiona Handayani mengakui tak punya latar belakang keilmuan di bidang pendidikan. Namun Fiona mengatakan pernah menjadi tim Gubernur Jakarta era Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk program pendidikan kesehatan dan kepegawaian.

"Untuk S1 dari ITB, Teknik Industri ya?" tanya hakim ad hoc Tipikor Jakarta, Andi Saputra.

"Betul, Yang Mulia," jawab Fiona.

"S2 dari Northwestern University untuk MBA? MBA itu untuk apa?" tanya hakim.

"Master of Business Administration. Saya mengambil terkait apa, banyak major sih, Yang Mulia, termasuk salah satunya terkait policy seperti itu," jawab Fiona.

Hakim juga mendalami pengalaman kerja Fiona. Fiona ternyata lulusan S1 Teknik Industri, S2 Master of Business Administration, dengan pengalaman kerja sebagai konsultan manajemen di Unilever dan McKinsey, hingga terkait one degree solar di Kenya.

Hakim mendalami hubungan pengalaman Fiona dengan dunia pendidikan. Fiona mengatakan pengalaman di bidang pendidikan dimulai saat bekerja di Pemprov DKI Jakarta serta Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK).

"Terus hubungannya dengan pendidikan apa berarti?" tanya hakim.

"Saat yang selanjutnya setelah one degree solar itu, Yang Mulia. Sampai di Kenya itu belum berkaitan dengan pendidikan. Berkaitan dengan pendidikannya setelahnya. Jadi setelahnya saya di Pemprov DKI, lalu di PSPK," jawab Fiona.

Fiona mengaku menjabat direktur dan dewan pakar saat masih di PSPK. Dia mengatakan juga ikut jadi tim Ahok dalam mengelola program pendidikan kesehatan dan kepegawaian.

"Direktur dan dewan pakar padahal tidak punya latar belakang pendidikan?" tanya hakim.

"Sebelumnya di DKI saya menjadi tim gubernur untuk pendidikan kesehatan dan kepegawaian. Salah satunya terkait kartu Jakarta Pintar, pelatihan guru dan SMK BLUD," jawab Fiona.

"Oh, berarti gubernurnya siapa nih, 2015 ya?" tanya hakim.

"2015 sampai 2017," jawab Fiona.

7. Debat Panas dengan Terdakwa

Debat terjadi antara Fiona dengan salah satu terdakwa bernama Mulyatsyah. Terdakwa Mulyatsyah mengatakan Fiona sosok luar biasa ketika berdebat.

Mulanya, Mulyatsyah mendalami pengetahuan Fiona terkait 46 pejabat eselon II di Kemendikbud yang saat itu serempak di-Plt-kan. Fiona mengatakan penggantian itu karena ada perubahan struktur di kementerian.

"Ada 46 pejabat di Kemendikbud itu yang sudah di-Plt-kan. Anda tahu itu pada saat itu?" tanya Mulyatsyah.

"Waktu itu kan seingat saya ada pergantian struktur ya, Pak. Jadi semuanya Plt karena waktu itu ada struktur penggabungan dua kementerian," jawab Fiona.

Mulyatsyah menanyakan berapa lama waktu Plt tersebut. Fiona mengaku tidak ingat dan bukan tugasnya di struktural kementerian.

"Berapa lama itu Plt?" tanya Mulyatsyah.

"Saya tidak ingat," jawab Fiona.

"Loh kenapa tidak ingat? Sampai bertahun-tahun loh," ujar Mulyatsyah.

"Ya, tapi itu struktur kementerian, Pak, seingat saya awalnya tidak bisa," timpal Fiona.

"Yang Saudara tahu, Saudara kan orang profesional nih?" sahut Mulyatsyah.

"Saya bukan tugas saya, Pak, untuk itu," ujar Fiona.

Mulyatsyah mengatakan Fiona sering ikut dalam rapat. Fiona kembali menegaskan tentang tugasnya yang tak berkaitan dengan apa yang ditanyakan Mulyatsyah.

"Betul, tetapi kan Anda sering rapat-rapat di dalam," ujar Mulyatsyah.

"Iya rapat-rapat membahas rapor pendidikan, Pak, bukan membahas soal Bapak," ujar Fiona.

Perdebatan antara Mulyatsyah dan Fiona itu tak berlangsung lama. Mulyatsyah pun mengakhirinya dan menyebut kemampuan berdebat Fiona luar biasa, masih sama saat dulu menjadi stafsus Nadiem.

"Saya bukan bertanya soal saya, saya bertanya soal struktur karena ini menyangkut tentang sebuah kementerian," balas Mulyatsyah.

"Kan ada organ kementerian terkait, Pak, yang tugasnya itu, bukan tugas saya, Pak," sahut Fiona.

"Oke, Anda kalau berdebat luar biasa ya, seperti dulu-dulu juga, good," timpal Mulyatsyah

(ygs/rfs)


Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |