48 Masjid di Singapura Diserang, Tolak Bayar Hacker Tebusan

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan siber menimpa puluhan tempat ibadah dan lembaga pendidikan Islam di Singapura, negara tetangga terdekat Indonesia. Sebanyak 48 masjid serta empat madrasah terdampak insiden keamanan yang menargetkan sistem penggajian dan kepegawaian.

Otoritas keagamaan Singapura menegaskan tidak ada uang tebusan yang dibayarkan, namun kejadian ini menjadi peringatan nyata bagi seluruh lembaga serupa di tanah air, dikutip dari laporan CNA, Jumat (18/9/2026).

Insiden ini bermula dari perangkat lunak penyedia layanan pihak ketiga bernama Avelogic yang mengelola data kepegawaian dan penggajian. Sistem yang digunakan oleh Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) itu disusupi penjahat siber, sehingga data dan proses pembayaran gaji terancam terhenti.

Berikut perincian lembaga yang terkena dampak serangan tersebut:

  • 48 masjid di seluruh Singapura
  • 4 madrasah atau lembaga pendidikan Islam
  • Pusat Pembelajaran Islam
  • Kantor Pusat Pengelolaan Masjid, Madrasah, dan Wakaf

Sistem yang diserang adalah pengelolaan data pegawai dan daftar gaji. Artinya, ribuan tenaga pengajar, pengurus masjid, serta staf administrasi berisiko tidak menerima penghasilan tepat waktu.

MUIS menyatakan tidak ada pembayaran uang tebusan kepada penyerang. Langkah pengamanan segera dilakukan agar kegiatan keagamaan tidak terganggu:

  • Sistem penggajian alternatif sudah disiapkan sehingga gaji tetap dibayarkan tepat waktu.
  • Kegiatan ibadah, pelayanan publik, maupun kegiatan pendidikan tidak terhenti sedikit pun.
  • Data yang tersimpan dalam sistem dilindungi sandi tambahan, sehingga sejauh ini tidak ditemukan bukti bahwa data pribadi pegawai dicuri.
  • Laporan telah dibuat ke kepolisian Singapura dan penyelidikan masih berlangsung.

Penyedia perangkat lunak Avelogic telah memulihkan sistem yang terdampak dan memanggil pakar keamanan independen untuk menelusuri bagaimana peretasan itu bisa terjadi. Sistem resmi baru akan diaktifkan kembali setelah seluruh celah keamanan ditambal sepenuhnya.

Kejadian di Singapura ini menjadi peringatan penting bagi kita di Indonesia. Ribuan masjid, pesantren, dan lembaga keagamaan lain mulai beralih menggunakan sistem digital untuk pencatatan keuangan, pengelolaan wakaf, hingga pembayaran gaji pengurus. Namun tidak semua lembaga memiliki perlindungan keamanan yang memadai.

Sistem yang dikelola oleh pihak ketiga kerap menjadi celah yang tidak disadari. Selain itu, data pribadi pengurus, guru, maupun penerima bantuan bisa bocor jika tidak dilindungi sandi yang kuat.

Apalagi, penjahat siber kerap menargetkan lembaga yang dinilai lemah dalam pengamanan karena mengandalkan sumbangan dan dana sosial yang masuk secara rutin.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |