25 Tahun Tragedi 9/11: AS Bakar Rp140.000 T untuk Perang Lawan Teror

4 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 September 2026 18:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Genap 25 tahun, dunia memperingati aksi teror yang mengguncang negara adidaya Amerika Serikat (AS). Serangan 11 September 2001 atau yang dikenal sebagai peristiwa 9/11 menewaskan hampir 3.000 orang.

Dalam serangan tersebut, 19 anggota kelompok teroris Al-Qaeda membajak empat pesawat komersial AS. Dua pesawat ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, satu pesawat menghantam Pentagon, sementara satu pesawat lainnya jatuh di Pennsylvania.

Peristiwa itu kemudian menjadi awal dari rangkaian perang dan operasi militer Amerika Serikat di berbagai negara.

Perang selalu datang dengan biaya yang sangat besar. Di balik peluncuran rudal, pengerahan kapal induk, dan berbagai operasi militer, terdapat tagihan yang nilainya bisa mencapai miliaran hingga triliunan dolar AS.

A satellite image shows a plume of smoke rising from the site of the World Trade Center after two planes crashed into the towers in the 9/11 attacks, in New York City, U.S., September 12, 2001. Vantor/Handout via REUTERSA satellite image shows a plume of smoke rising from the site of the World Trade Center after two planes crashed into the towers in the 9/11 attacks, in New York City, U.S., September 12, 2001. Vantor/Handout via REUTERS Foto: via REUTERS/VANTOR

Biaya tersebut tidak hanya muncul ketika perang berlangsung. Bebannya dapat terus ditanggung sebuah negara hingga bertahun-tahun setelah konflik berakhir.

Amerika Serikat Sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia, telah menggelontorkan dana dalam jumlah sangat besar untuk membiayai perang dan operasi militer di berbagai penjuru dunia.

Mulai dari perang pasca-serangan 9/11, bantuan militer kepada Israel, hingga operasi terbaru di Timur Tengah, semuanya menunjukkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankan perang.

Peristiwa 9/11 (Instagram/911wtcarchives)Peristiwa 9/11 (Instagram/911wtcarchives) Foto: Peristiwa 9/11 (Instagram/911wtcarchives)

Besarnya ongkos perang AS dapat dilihat dalam berbagai penelitian yang dipublikasikan oleh Proyek Costs of War.

Proyek tersebut meneliti dampak berkelanjutan dari perang Amerika Serikat setelah serangan 11 September, termasuk perang di Afghanistan dan Irak, operasi militer global AS, serta dampak belanja militer terhadap kondisi domestik negara tersebut.

Didirikan pada 2010 dan berpusat di Brown University's Watson Institute for International and Public Affairs, Proyek Costs of War melibatkan kontribusi lebih dari 70 akademisi, pakar, aktivis hak asasi manusia, dan dokter dari berbagai negara.

Biaya Perang Pasca-9/11 Tembus Rp140.800 Triliun

Biaya perang AS dalam 25 tahun terakhir tercatat sangat besar. Berdasarkan temuan Costs of War Project dari Brown University, total ongkos perang pasca-serangan 9/11 mencapai sekitar US$8 triliun.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp140.800 triliun (asumsi kurs Rp17.600/US$). Perhitungan itu mencakup perang di Afghanistan dan Irak serta operasi militer di Pakistan, Suriah, dan sejumlah wilayah lainnya.

Besarnya pengeluaran itu tidak terlepas dari luasnya operasi militer AS dalam perang melawan terorisme. Penelitian terbaru menunjukkan Washington masih menjalankan operasi kontra-terorisme di puluhan negara.

Antropolog sekaligus Direktur Proyek Costs of War, Stephanie Savell, yang juga menjabat Senior Fellow di Brown University, mencatat bahwa pemerintah AS melakukan operasi kontra-terorisme di 78 negara sepanjang 2021 hingga 2023.

Operasi tersebut mencakup pertempuran darat di sedikitnya sembilan negara serta serangan udara di setidaknya empat negara selama tiga tahun pertama pemerintahan Joe Biden.

Meski masih sangat luas, jumlah negara yang menjadi lokasi operasi itu sedikit menurun dibandingkan periode 2018-2020. Pada periode tersebut, operasi kontra-terorisme AS tercatat berlangsung di 85 negara.

Perhitungan biaya perang pasca-9/11 tersebut bahkan belum memasukkan bunga utang pada masa mendatang. Beban yang sebenarnya berpotensi jauh lebih besar karena sebagian perang dibiayai melalui utang, yang kemudian menambah kewajiban pemerintah dalam jangka panjang.

Biaya perang juga tidak berhenti ketika pertempuran selesai.

Brown University memperkirakan ongkos perawatan veteran perang pasca-9/11 akan mencapai US$2,2 triliun hingga US$2,5 triliun pada 2050. Sebagian besar beban tersebut bahkan belum sepenuhnya dibayarkan hingga saat ini.

AS Habiskan US$260 Miliar per Tahun Hadapi China

Pengeluaran militer AS tidak hanya melonjak ketika perang terbuka pecah. Dalam laporan yang sama, AS disebut menghabiskan sekitar US$260 miliar per tahun sejak 2012 untuk menghadapi China secara militer.

Pengeluaran itu meningkat seiring dimulainya strategi pivot to Asia pada era Presiden Barack Obama. Melalui strategi tersebut, AS memperkuat perhatian dan kehadiran militernya di kawasan Asia-Pasifik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa biaya militer juga dapat muncul dari ketegangan geopolitik, perlombaan persenjataan, dan penempatan kekuatan militer di kawasan strategis. Meski tidak selalu berbentuk perang terbuka, seluruh kegiatan tersebut tetap membutuhkan anggaran yang sangat besar.

Ongkos AS Setelah Serangan Hamas ke Israel

Beban baru kembali muncul setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.

Menurut Costs of War Project, dalam dua tahun setelah serangan tersebut, pemerintah AS telah menggelontorkan US$21,7 miliar untuk memberikan bantuan militer kepada Israel.

Pengeluaran AS tidak berhenti pada bantuan militer tersebut. Washington juga disebut menghabiskan tambahan sekitar US$9,65 miliar hingga US$12,07 miliar untuk menjalankan operasi militer di Yaman dan kawasan sekitarnya.

Jika digabungkan, total pengeluaran AS untuk perang dan operasi militer pasca-7 Oktober 2023 mencapai sekitar US$31,35 miliar hingga US$33,77 miliar. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring berlanjutnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Perang AS-Iran 2026 Tembus US$37,5 Miliar

Besarnya biaya perang juga terlihat dari konflik terbaru antara AS dan Iran. Pentagon memperkirakan biaya perang yang dimulai pada akhir Februari 2026 tersebut mencapai sekitar US$37,5 miliar atau setara Rp660 triliun.

Estimasi tersebut mencakup biaya yang telah dikeluarkan dan proyeksi pengeluaran hingga September 2026.

Nilainya meningkat tajam dibandingkan enam hari pertama perang, ketika biaya operasi militer AS diperkirakan telah menembus lebih dari US$11,3 miliar.

Meski demikian, estimasi tersebut belum tentu menggambarkan seluruh biaya perang yang sebenarnya. Sejumlah pengeluaran lain kemungkinan belum sepenuhnya dihitung, mulai dari pengerahan pasukan ke kawasan, biaya medis, dan logistik hingga penggantian pesawat militer yang hilang dalam perang.

Oleh karena itu, biaya sebesar US$37,5 miliar tersebut masih dapat bertambah apabila konflik dan operasi militer AS terhadap Iran terus berlangsung.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |