Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
31 March 2026 11:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di wilayah Timur Tengah meningkat setelah adanya laporan mengenai serangan terhadap fasilitas produksi aluminium oleh Iran.
Pasukan Garda Revolusi Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas industri aluminium di Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) selama akhir pekan ini.
Mengutip AFP, Minggu (29/3/2026), Garda Revolusi Iran menyatakan target serangan adalah industri yang mereka anggap terafiliasi dengan militer Amerika Serikat.
Serangan ini terjadi di tengah perang Timur Tengah yang pecah sejak akhir Februari dan kini memasuki bulan kedua. Sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, menjadi sasaran serangan Iran sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel.
Peristiwa ini berdampak pada kelancaran operasional industri logam di wilayah tersebut dan memicu perhatian pasar terhadap stabilitas supply global. Para pelaku pasar saat ini memantau kapasitas produksi dari perusahaan-perusahaan global lainnya untuk mengantisipasi potensi kekurangan stok di pasar internasional.
Meskipun tidak ada korban jiwa, serangan ini sangat mengganggu proses peleburan (smelting) yang memerlukan stabilitas teknis tinggi, sehingga prosedur pemulihan operasional diprediksi akan memakan waktu yang tidak sebentar.
Secara global, pasar komoditas langsung merespons dengan gejolak harga yang tajam. Harga aluminium di bursa internasional melonjak hingga 6% segera setelah berita serangan tersebut tersebar, menambah kenaikan total sekitar 15% sejak awal tahun.
Adapun pada perdagangan Senin (30/3/2026), harga aluminium naik lagi kisaran 5% menuju posisi US$ 3427.30 per ton, kian mendekati level tertinggi dalam empat tahun.
Foto: Trading economic
Harga aluminium
Berikut adalah data mengenai 10 perusahaan aluminium dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia per Maret 2026 yang dihitung dalam mata uang dolar AS..
Peringkat Perusahaan Berdasarkan Nilai Pasar
Dalam posisi pasar terbaru, China Hongqiao menempati urutan pertama dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar USD 43,94 miliar. Perusahaan ini memiliki basis operasional utama di Tiongkok dan mencatatkan nilai pasar tertinggi di sektor ini.
Di posisi kedua, terdapat Aluminum Corporation of China (Chalco) dengan nilai pasar sebesar USD 28,43 miliar. Sementara itu, perusahaan asal India, Hindalco Industries, berada di urutan ketiga dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 21,05 miliar. Perhitungan nilai pasar ini menggunakan basis harga saham terbaru serta jumlah saham beredar yang tercatat di bursa masing-masing negara.
Nilai kapitalisasi pasar tersebut dikonversi menggunakan kurs referensi yang berlaku, antara lain US$/HKD sebesar 7,84 untuk emiten di bursa Hong Kong dan US$/INR sebesar 94,05 untuk emiten di bursa India.
Penggunaan mata uang US$ bertujuan untuk memberikan standar perbandingan yang seragam bagi investor global. Secara umum, tiga posisi teratas masih didominasi oleh perusahaan yang memiliki integrasi operasional mulai dari pertambangan bauksit hingga pengolahan aluminium primer.
Distribusi Produsen Global dan Posisi Wilayah
Selain dominasi produsen dari Asia, beberapa perusahaan dari wilayah Eropa dan Amerika Serikat juga masuk dalam daftar sepuluh besar. Norsk Hydro yang berbasis di Norwegia mencatatkan nilai pasar sebesar US$20,65 miliar, menjadikannya perwakilan terbesar dari wilayah Eropa.
Alcoa Corporation dari Amerika Serikat berada pada posisi kelima dengan nilai US$ 16,68 miliar. Sementara itu, dari wilayah Asia Tenggara, Press Metal Aluminium asal Malaysia mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar USD 16,38 miliar dengan menggunakan kurs konversi US$/MYR sebesar 4,02.
Beberapa perusahaan lain asal Tiongkok, seperti Yunnan Aluminium dan Shandong Nanshan, masing-masing memiliki nilai pasar US$ 14,42 miliar danUS$ 9,80 miliar berdasarkan kurs US$/CNY 6,91.
United Company RUSAL berada di posisi kesembilan dengan nilai US$ 8,54 miliar, diikuti oleh National Aluminium Company (NALCO) dari India dengan nilai US$ 7,54 miliar.
Sebagian besar perusahaan dalam daftar ini merupakan entitas yang memiliki fokus bisnis utama pada produksi aluminium di atas 85 persen dari total pendapatan.
Kondisi keamanan di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang diperhatikan oleh pelaku pasar karena dampaknya terhadap jalur distribusi logistik dan valuasi emiten sektor logam di bursa global.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google


















































