Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
08 September 2026 19:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Penguatan tajam pada yen Jepang mulai mendorong investor keluar dari transaksi carry trade menjelang pertemuan Bank of Japan (BOJ) pada pekan depan.
Dalam transaksi yen carry trade, investor meminjam yen dengan biaya rendah karena suku bunga Jepang selama ini berada di level rendah. Dana tersebut kemudian ditempatkan pada mata uang atau aset negara lain yang menawarkan imbal hasil yang jauh lebih tinggi.
Strategi ini dapat memberikan keuntungan selama tren pergerakan yen yang lemah dan selisih suku bunga masih relatif lebar. Namun, risiko kerugian akan aktivitas ini bisa meningkat ketika yen mengalami penguatan atau suku bunga Jepang di kerek naik oleh bank sentral.
Saat ini, kenaikan suku bunga Jepang dan penguatan yen terjadi secara bersamaan.
Melansir data refinitiv, yen menguat ke posisi JPY 152,89/US$ pada perdagangan intraday Selasa (8/9/2026), sekaligus menjadi level terkuat sejak Februari. Penguatan terjadi dalam waktu yang cukup singkat karena kurang dari sepekan sebelumnya yen masih diperdagangkan di sekitar JPY 160/US$.
Sepanjang pekan lalu saja, yen berhasil menguat 2,37% dari greenback.
Pergerakan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi pada Juli lalu, ketika yen menyentuh level terlemah dalam 40 tahun. Pelemahan saat itu mendorong intervensi bersama oleh Jepang dan Amerika Serikat (AS).
Penguatan yen kali ini didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ pada pekan depan. Pasar juga memperkirakan bank sentral Jepang dapat mempercepat pengetatan kebijakan moneter.
Selain itu, mulai terlihat tanda-tanda kembalinya dana investor Jepang dari luar negeri. Tekanan AS terhadap pelemahan yen turut meningkatkan kehati-hatian investor dalam mempertahankan posisi jual mata uang Jepang.
Kondisi ini membuat investor yang sebelumnya meminjam atau menjual yen mulai menutup posisinya. Mereka harus membeli kembali yen untuk membayar pinjaman sehingga permintaan terhadap mata uang Jepang meningkat.
Kepala Strategi Investasi Saxo Charu Chanana mengatakan investor mulai meninggalkan transaksi carry trade bahkan sebelum BOJ benar-benar menaikkan suku bunga.
"Carry trade berada dalam posisi yang rentan karena pasar mulai menutup posisi, sebelum BOJ menyampaikan kenaikan suku bunga yang diperkirakan," kata Chanana, dikutip dari Reuters.
Menurutnya, sebagian posisi jual yen memang telah ditutup. Namun, jumlah posisi yang tersisa masih cukup besar sehingga penguatan yen lebih lanjut dapat mendorong semakin banyak investor keluar dari transaksi tersebut.
"Jika yen terus menguat, investor dapat beralih dari mengurangi posisi secara bertahap menjadi menutupnya secara cepat dan serentak," ujarnya.
Nilainya Mencapai Rp41.000 Triliun
Nilai transaksi yen carry trade sulit dihitung secara pasti. Namun, data pinjaman yen lintas negara dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk memperkirakan jumlah dana yang terlibat.
Berdasarkan analisis Jefferies terhadap data Bank for International Settlements (BIS), pinjaman yen lintas negara mencapai rekor JPY360 triliun atau sekitar US$2,35 triliun hingga Maret 2026.
Nilainya setara sekitar Rp41.431 triliun (asumsi kurs Rp17.630/US$). Jumlah tersebut menjadi akumulasi transaksi carry trade terbesar dalam tiga dekade terakhir.
Besarnya posisi tersebut membuat penutupan transaksi secara mendadak berisiko menimbulkan gejolak di pasar keuangan.
Kondisi serupa pernah terjadi pada Agustus 2024 ketika investor secara serentak keluar dari transaksi yen carry trade dan menekan pasar global.
Kepala Strategi Pasar Aozora Bank Akira Moroga mengatakan investor sebelumnya memperkirakan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akan mempertahankan kebijakan moneter longgar sekaligus menjalankan stimulus fiskal.
Perkiraan tersebut membuat investor melakukan transaksi yen carry trade dalam jumlah sangat besar. Namun, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan BOJ kini mendorong semakin banyak investor keluar dari transaksi tersebut.
"Pelaku yen carry trade telah mengambil posisi terlalu besar dan kini semakin cepat menutup posisi tersebut," kata Moroga.
BOJ telah meninggalkan kebijakan suku bunga sangat rendah yang selama bertahun-tahun menjadi dasar transaksi yen carry trade.
Perubahan dimulai pada Maret 2024 ketika BOJ mengakhiri kebijakan suku bunga negatif dan menetapkan suku bunga jangka pendek di kisaran 0%-0,1%. Suku bunga kemudian dinaikkan menjadi 0,25% pada Juli 2024 dan kembali naik menjadi 0,5% pada Januari 2025.
Pengetatan berlanjut dengan kenaikan suku bunga menjadi 0,75% pada Desember 2025. BOJ kembali menaikkan suku bunga menjadi 1% pada Juni 2026, level tertinggi dalam beberapa dekade.
Dengan demikian, suku bunga Jepang telah naik sekitar 100 basis poin hanya dalam waktu kurang dari dua setengah tahun. BOJ juga menyatakan akan terus menaikkan suku bunga apabila perkembangan ekonomi, inflasi, dan kondisi keuangan berjalan sesuai perkiraan.
Pasar kini menunggu rapat BOJ pada 17-18 September 2026. Bank sentral Jepang diperkirakan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%.
Kenaikan suku bunga tersebut akan meningkatkan biaya meminjam yen sekaligus mempersempit selisih imbal hasil antara Jepang dan negara lain. Kondisi itu membuat transaksi carry trade menjadi kurang menarik.
Investor juga harus memperhitungkan risiko intervensi apabila yen kembali melemah terlalu dalam.
Karena itu, posisi jual yen kini tidak hanya dipengaruhi oleh perbedaan suku bunga, tetapi juga oleh kebijakan pemerintah Jepang dan tekanan dari AS.
Chanana menilai posisi jual yen yang masih besar dapat memicu penutupan transaksi secara lebih cepat apabila mata uang Jepang terus menguat.
Penutupan posisi carry trade juga dapat berdampak terhadap aset yang sebelumnya dibeli menggunakan pinjaman yen. Investor berpotensi menjual saham, obligasi, serta mata uang negara dengan suku bunga tinggi untuk membayar kembali pinjaman tersebut.
Negara berkembang berisiko ikut tertekan karena aset mereka kerap menjadi tujuan dana carry trade. Ketika investor menarik dananya, pasar saham dapat melemah, yield obligasi meningkat, dan mata uang negara berkembang tertekan terhadap dolar AS.
Tekanan dapat semakin besar apabila investor keluar secara serentak dalam jumlah besar. Negara dengan ketergantungan tinggi terhadap modal asing dan kebutuhan pembiayaan eksternal yang besar akan lebih rentan menghadapi kondisi tersebut.
Keputusan BOJ pada pekan depan akan menentukan apakah investor keluar dari transaksi yen carry trade secara bertahap atau secara cepat dalam jumlah besar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
















































