Waspada! Efek Kebijakan Tambang, BI Rate Naik dan Kabar Buruk dari AS

3 hours ago 3
  • Pasar keuangan RI bergerak beragam, IHSG melemah sementara rupiah berbalik menguat setelah BI naikkan suku bunga
  • Wall Street kompak menguat di tengah melemahnya imbal hasil US Treasury dan harga minyak
  • Kebijakan pemerintah di sektor tambang, keputusan suku bunga serta data ekonomi internasional akan menjadi penggerak sentimen hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah, rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tipis.

Pergerakan pasar pada hari ini, Kamis (21/5/2026), diperkirakan masih akan bergerak volatil. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG bergerak bak roller coaster pada perdagangan Rabu kemarin. Setelah sempat naik turun sepanjang perdagangan intraday, IHSG akhirnya ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50.

Sepanjang perdagangan, sebanyak 483 saham melemah, 208 saham menguat, dan 126 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 41,13 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp22,36 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 2,47 juta kali. Meski demikan, asing justru melakukan aksi beli sebesar Rp249,17 miliar.

Pada pagi hari, menjelang pidato Presiden Prabowo Subianto di Gedung DPR, IHSG sempat berbalik arah dan melesat sekitar 1% ke level 6.430,97 setelah sebelumnya dibuka tertekan.

Namun, pasar kemudian merespons negatif pidato Prabowo mengenai ekspor satu pintu atas sumber daya alam strategis Indonesia, termasuk batu bara dan kelapa sawit. IHSG bahkan sempat ambruk hampir 2,5% setelah Prabowo mengumumkan inisiasi badan ekspor milik BUMN, sebelum akhirnya memangkas pelemahan pada akhir perdagangan.

Mayoritas sektor berada di zona merah. Pelemahan terbesar datang dari sektor infrastruktur dan barang baku, sementara sektor teknologi dan finansial masih mampu menguat.

Saham emiten tambang kompak rontok, terutama saham batu bara yang berpotensi terkena dampak aturan baru tersebut. Saham-saham emiten emas juga mayoritas melemah, kecuali PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Meski sektor batu bara tertekan, saham emiten batu bara BUMN PT Bukit Asam Tbk (PTBA) justru menguat lebih dari 6% pada perdagangan kemarin.

Sejumlah saham yang menjadi pemberat IHSG antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Rabu dengan penguatan terhadap dolar AS setelah BI menaikkan suku bunga acuan.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,54% ke level Rp17.600/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan posisi rupiah dari perdagangan sebelumnya, Selasa (19/5/2026), yang ditutup melemah di level Rp17.695/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup volatil. Pada awal perdagangan, rupiah dibuka melemah 0,20% di level Rp17.730/US$ dan sempat menyentuh Rp17.745/US$. Namun, rupiah kemudian berbalik menguat seiring pengumuman kenaikan BI Rate.

Penguatan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility ditetapkan sebesar 4,25%, sementara Lending Facility sebesar 6,25%.

"Kebijakan ini sebagai langkah lanjutan memperkuat stabilitas rupiah dari dampak gejolak Timur Tengah," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur, Rabu (20/5/2026).

Kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari ekspektasi mayoritas pasar tersebut menjadi sinyal bahwa BI memilih langkah tegas untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Sebelumnya, rupiah terus mencetak level terlemah baru dan bergerak di sekitar Rp17.700/US$.

Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun ditutup naik 0,22% ke level 6,794% pada perdagangan Rabu kemarin.

Kenaikan yield menunjukkan harga SBN kembali sedikit tertekan. Namun, pergerakannya relatif terbatas dibandingkan tekanan yang terjadi di pasar saham, seiring investor masih mencermati dampak kenaikan suku bunga BI terhadap pasar obligasi dan arus modal asing.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |