Badan Siber dan Sandi Negara Tiba-Tiba Singgung Presiden Venezuela

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Rachmad Wibowo menyinggung operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro hingga serangan di Teheran saat membahas ancaman hybrid war dan perang siber modern.

Mulanya, Rachmad menyinggung peristiwa yang disebut terjadi usai perayaan malam tahun baru itu

"Pada tanggal 3 Januari, setelah kita pesta malam tahun baru, tiba-tiba ada penjemputan, penculikan, penangkapan terhadap seorang Kepala Negara Venezuela, Presiden Nicolas Maduro, beserta istrinya, Silvia Flores, dengan tuduhan penyebaran narkotika," kata Rachmad saat Forum Nasional: Indonesia Digital Leap, Akselerasi Ekosistem Data Center, AI, dan Keamanan Siber untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Ia kemudian menyinggung serangan lain yang terjadi tidak lama setelahnya di Teheran, Iran.

"Tidak lebih dua bulan setelah itu, Amerika dan Israel melakukan serangan yang sangat presisi di Teheran yang menewaskan pimpinan tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei," ujarnya.

Rachmad menegaskan pihaknya tidak membahas benar atau tidaknya tuduhan terhadap setiap pihak, melainkan fokus pada pola operasi yang dilakukan.

Menurut dia, yang menjadi perhatian BSSN adalah bagaimana operasi di Caracas dan Teheran dilakukan secara sangat presisi melalui penguasaan sistem elektronik dan intelijen digital.

"Saya tidak berbicara tentang perang Iran dan bagaimana mereka mengadop Maduro dari rumahnya. Yang kita cermati dan kita kaji adalah bagaimana Amerika melaksanakan operasi di Venezuela dan bersama Israel melaksanakan operasi di Teheran yang sangat presisi," kata Rachmad.

Ia mengatakan beberapa hari setelah peristiwa itu terjadi, informasi di media menunjukkan adanya pengakuan soal operasi surveillance dan reconnaissance terhadap sistem elektronik negara target.

"Itu terbuka bahwa mereka mengakui bahwa mereka melakukan surveillance, melakukan reconnaissance terhadap sistem elektronik yang ada di negara itu," jelas Rachmad.

Rachmad menjelaskan seluruh aktivitas pemimpin negara disebut dapat dipantau melalui peretasan sistem elektronik, termasuk kamera pengawas hingga alat komunikasi.

"Amerika mengetahui apapun yang dilakukan oleh Maduro, demikian juga apapun yang dilakukan oleh Ali Khamenei. Kapan dia pulang, sedang apa dia, CCTV yang ada di jalan itu bisa diretas. Alat komunikasi bisa diretas," ujarnya.

Ia lalu mengutip pernyataan seorang petinggi militer yang menyebut pasukan telah mempelajari kehidupan sehari-hari Maduro selama berbulan-bulan. Seluruh detail kehidupan target diketahui, mulai dari lokasi keberadaan hingga pakaian yang dikenakan.

"Termasuk dia sedang berada di mana, dia sedang makan apa, segala detail tentang dia, termasuk binatang peliharaan dan pakaian apa yang dia gunakan. Berarti semua sudah lancar dan itu dilakukan berbulan-bulan," ujarnya.

Rachmad mengatakan operasi utama berlangsung sangat singkat dibanding proses pengumpulan informasi yang panjang.

"Sedangkan operasinya sendiri itu cuma terjadi dua jam, kalau nggak salah, dua jam 20 menit, nggak sampai tiga jam," ujarnya.

Ia juga menyinggung masuknya ratusan pesawat Amerika ke Caracas tanpa diketahui angkatan bersenjata Venezuela. Menurut Rachmad, operasi tersebut merupakan bentuk hybrid war.

"Mereka mengombinasikan pemanfaatan artificial intelligence untuk melakukan psychological warfare atau information warfare, untuk menyerang kognitif orang. Ini adalah pre-positioning operation," ujarnya.

Ia menjelaskan pembentukan opini publik dilakukan terlebih dahulu untuk memperoleh dukungan internasional sebelum operasi utama dijalankan.

"Jadi mereka membentuk dulu opini bahwa si A itu begini, si B itu begini sebagai bahan untuk mereka mendapat dukungan secara internasional," kata Rachmad.

Selain itu, ia menyebut adanya electronic warfare untuk melumpuhkan radar dan sistem pertahanan udara lawan.

"Kemudian mereka juga melakukan electronic warfare untuk melumpuhkan komunikasi radar dan sistem pertahanan udara lawan. Jadi 150 pesawat rame-rame masuk ke dalam suatu daerah tidak ada yang tahu," pungkasnya.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |