Wamendagri Klarifikasi Isu yang Berkembang soal Penanaman Sawit di Papua

1 day ago 7

Jakarta -

Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk menyampaikan klarifikasi isu terkait penanaman kelapa sawit di Tanah Papua. Ia menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada para kepala daerah di Papua menitikberatkan pada percepatan pembangunan daerah, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan.

Dalam konteks tersebut, Ribka menjelaskan kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Namun, kelapa sawit bukan sebagai satu-satunya pilihan yang harus dikembangkan oleh pemerintah daerah (Pemda).

"Ada opini yang sementara berkembang bahwa ada arahan Bapak Presiden untuk menanam sawit di Papua. Itu tidak benar," kata Ribka dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut disampaikannya merujuk pada pertemuan antara Presiden, jajaran menteri, serta kepala daerah dari enam provinsi dan 42 kabupaten/kota se-Tanah Papua di Istana Negara pada 16 Desember lalu. Dalam pertemuan itu, Prabowo mendorong Pemda untuk memiliki pemahaman yang sama mengenai upaya percepatan pembangunan di Papua.

Lebih lanjut, Ribka menjelaskan terdapat berbagai pilihan komoditas yang dapat dikembangkan untuk mendukung program ketahanan pangan di Papua. Hal ini di antaranya melalui pengembangan sagu, singkong, padi, talas, dan umbi-umbian lainnya.

Ia mengungkapkan beragam komoditas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk turunan bernilai tambah, termasuk energi alternatif seperti etanol. Menurutnya, kelapa sawit juga menjadi salah satu contoh komoditas yang memiliki nilai ekonomi, namun bukan sebagai satu-satunya pilihan.

"Bukan Bapak Presiden mengatakan bupati atau wali kota atau kepala daerah harus tanam ini-ini, tidak. Bapak Presiden menyampaikan itu supaya membuka wawasan, ada pemahaman yang sama mengenai program pemerintah pusat. Jadi tujuan dari Bapak Presiden adalah menyarankan para kepala daerah itu untuk lebih memperhatikan, lebih khusus pada program ketahanan pangan," paparnya.

Ribka pun menegaskan pentingnya percepatan pembangunan di Tanah Papua mengingat besarnya potensi sumber daya alam (SDA) yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Kondisi ini membuat adanya gap tingkat pembangunan maupun kesejahteraan masyarakat di Papua dengan daerah lain.

Oleh karena itu, Presiden pun menekankan pentingnya pembangunan yang mencakup aspek ekonomi, pemberdayaan sumber daya manusia (SDM), serta penguatan infrastruktur dasar.

Ribka menambahkan, percepatan pembangunan infrastruktur juga diperlukan untuk menekan tingginya biaya transportasi di Papua. Dengan infrastruktur dan ketahanan pangan yang memadai, ia berharap ketergantungan pasokan dari luar wilayah berkurang sehingga biaya logistik pun lebih efisien.

"Pada saat itu Presiden menyampaikan, ketahanan pangan di bidang pertanian, peternakan, dan lain-lain semuanya sudah harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah di Papua. Tujuannya apa? Tujuannya adalah untuk mengurangi biaya cost transportasi," jelasnya.

Ribka mengungkapkan arahan Presiden juga sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, yakni tidak boleh ada satu pun daerah yang tertinggal dalam proses pembangunan nasional. Untuk itu, Pemda di Tanah Papua didorong untuk memastikan masyarakatnya memiliki akses memadai terhadap pendidikan, lapangan kerja, dan sumber penghidupan yang layak.

"Semua masyarakat di Papua itu harus sejahtera, harus punya persediaan pangan, misalnya, tidak ada kekurangan makan, minum. Apalagi anak sekolah, harus punya persiapan keuangan untuk membayar biaya sekolah, adapun pemerintah daerah juga harus melakukan dukungan terobosan kebijakan, misalnya program pemerintah di Papua untuk pembebasan biaya sekolah dan lain-lain," tutupnya.

(akn/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |