Ukraina Jadi Korban Baru Perang AS-Iran, Nasibnya di Ujung Tanduk

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkap kondisi kritis stok rudal pencegat Patriot buatan Amerika Serikat (AS) yang dimiliki negaranya. Di tengah serangan rudal Rusia yang terus berlangsung, Ukraina disebut hanya memiliki sekitar 1% dari stok rudal yang dibutuhkan untuk menghadapi musim dingin.

CNN International melaporkan mendapat akses eksklusif untuk melihat salah satu sistem Patriot di Ukraina dan menemukan 16 tabung peluncur yang menunjukkan tanda-tanda penggunaan rutin. Namun, kepala teknisi Ukraina yang hanya disebut bernama Dmytro demi alasan keamanan mengatakan unit tersebut sudah berminggu-minggu tidak menembakkan rudal karena keterbatasan amunisi.

"Sungguh pemandangan yang memilukan ketika Anda memiliki peralatan tetapi tidak mampu mencegat satu pun rudal," ujar Dmytro, dikutip Selasa (18/8/2026). "Rudal balistik melintas tepat di atas kepala Anda dan Anda tidak bisa berbuat apa-apa, padahal di belakang Anda ada warga sipil."

Zelensky mengatakan Ukraina membutuhkan sekitar 5% dari cadangan rudal pencegat AS untuk mampu bertahan melewati musim dingin. Namun, saat ini Kyiv hanya memiliki sekitar 1% dari jumlah yang dibutuhkan tersebut, sementara serangan udara Rusia terus memberikan tekanan terhadap sistem pertahanan Ukraina.

Dmytro mengatakan pengalaman pertama ketika unitnya tidak memiliki rudal pencegat untuk ditembakkan terjadi pada Desember 2025.

"Sulit untuk menggambarkannya, perasaan yang kuat sekaligus buruk," katanya. "Rasanya seperti saat Anda belajar berjalan, tetapi tidak bisa melangkah."

Perang Iran Jadi Biang Keladi

Krisis pasokan Patriot tidak hanya terjadi di Ukraina. Penggunaan besar-besaran rudal pencegat tersebut di Timur Tengah turut menguras persediaan global, terutama ketika negara-negara Teluk menggunakannya untuk menghadapi serangan Iran.

Menurut Foreign Policy Research Institute, pasukan koalisi menggunakan rata-rata 225 rudal pencegat per hari selama empat hari pertama perang dengan Iran. Angka itu berbanding jauh dengan produksi Lockheed Martin yang hanya mencapai 620 rudal sepanjang 2025 atau sekitar 1,7 rudal per hari.

Kesenjangan tersebut membuat Ukraina khawatir karena rudal yang digunakan untuk menghadapi serangan di Timur Tengah merupakan jenis amunisi yang juga sangat dibutuhkan untuk melawan rudal balistik Rusia.

"Kami sangat terkejut melihat banyaknya rudal yang mereka luncurkan secara bersamaan... rudal-rudal yang sebenarnya bisa kami gunakan untuk melawan rudal balistik Rusia," kata Dmytro.

Zelensky kemudian mendorong AS memberikan izin kepada Ukraina untuk memproduksi rudal Patriot di dalam negeri. Ia bahkan menawarkan kepada Raytheon dan Lockheed Martin untuk memiliki serta mengendalikan fasilitas produksi tersebut, dengan Ukraina menyediakan tenaga kerja dan insinyurnya.

Di sela-sela KTT NATO di Ankara pada Juni, Presiden Donald Trump disebut menawarkan lisensi kepada Ukraina untuk mulai memproduksi rudal Patriot. Namun, Gedung Putih menegaskan belum ada keputusan atau jaminan terkait produksi tersebut dan menyatakan perlindungan teknologi AS tetap menjadi prioritas.

Bagi Ukraina, persoalannya bukan sekadar memiliki peluncur Patriot, melainkan memastikan tersedia cukup rudal untuk mengoperasikannya. Dmytro menilai Ukraina bahkan belum bisa langsung memproduksi rudal tersebut jika mendapat izin karena prosesnya sangat kompleks dan membutuhkan pengetahuan serta informasi teknis yang besar.

(tfa/tps) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |