- Pasar keuangan RI ditutup beragam, IHSG dan Rupiah melemah sementara SBN menguat.
- Wall Street ambruk etelah keputusan The Fed
- Keputusan BI Rate serta Federal Funds Rate menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Rabu (17/6/2026). Bursa saham dan mata uang Rupiah ditutup melemah sementara Surat Berharga Negara (SBN)BN kembali di zona penguatan setelah bertubi-tubi mengalami pelemahan pada beberapa pekan terakhir
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tantangan pada hari ini dan sepanjang pekan ini di tengah banyaknya pengumuman penting. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini dan satu pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas koreksi pada akhir perdagangan kemarin, Rabu (17/6/2026).
Setelah turun 1% menjelang pukul 15.00, IHSG menutup perdagangan dengan koreksi 0,55% atau -34,23 poin ke level 6.220,74.
Sebanyak 391 emiten turun, 288 naik, dan 137 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 24,70 triliun, melibatkan 34,10 miliar saham dalam 2,37 juta saham. Kapitalisasi pasar pun parkir di level Rp 10.780 triliun.
Mengutip Refinitiv, utilitas menjadi sektor yang anjlok paling dalam, yakni -8,82%. Hal ini seiring dengan koreksi tajam pada saham Barito Renewables Energy (BREN). Emiten Prajogo Pangestu tersebut turun 12% membebani IHSG sebesar -18,81 poin.
Adapun IHSG memangkas koreksi digendong oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang dikerek ke atas pada akhir perdagangan. BBRI menutup perdagangan kemarin dengan kenaikan 3% dan menopang 14,11 poin ke IHSG.
Pada penutupan perdagangan kemarin tercatat net foreign inflow sebesar Rp2,51 triliun namun apabila ditelaah hal ini terjadi akibat saham Merdeka Gold Resources (EMAS) mengalami transaksi net foreign sebesar 2,81 triliun di pasar nego pada average 6.170.
Apabila transaksi ini dikeluarkan maka asing masih mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp300,68 miliar.
Emiten lain yang menjadi beban IHSG adalah Barito Pacific (BRPT), Impack Pratama Industri (IMPC), Astra (ASII), hingga Petrindo Jaya Kreasi (CUAN).
Sebagai informasi, hingga perdagangan Senin (15/6/2026),IHSG sudah naik 17,09% dalam lima hari perdagangan terakhir sejak penutupan terendah pada 8 Juni 2026.
Secara persentase, apabila indeks mengalami kenaikan sebesar 20% dari titik terendah tersebut, maka batas konfirmasi bull market akan berada di level 6.381,49.
Lebih lanjut, untuk benar-benar memvalidasi kembalinya pasar ke dalam fase bullish yang solid secara jangka menengah, IHSG masih memiliki satu target utama pada minggu ini.
Indeks dituntut untuk berhasil melakukan reclaim dan menutup weekly candle di atas level 6.452,78 pada akhir pekan ini. Tercapainya target teknikal mingguan tersebut tentu sangat bergantung pada asumsi dasar bahwa iklim investasi di Indonesia dan perekonomian dunia tetap berada dalam kondisi yang terkendali.
Di sisi domestik, pemulihan IHSG ditopang oleh langkah antisipatif dari pemerintah beserta jajaran pemangku kepentingan institusional. Pemerintah telah mengomunikasikan adanya sense of awareness yang tinggi terhadap dinamika pasar modal dan stabilitas makroekonomi nasional.
Lanjut ke mata uang Rupiah, mata uang Garuda harus mengakui kekuatan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Di tengah penantian pasar akan hasil keputusan suku bunga bank sentral AS malam nanti.
Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,23% terhadap greenback ke posisi Rp17.730/US$. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (15/6/2026), rupiah sempat ditutup menguat di bawah level Rp17.700/US$, tepatnya di posisi Rp17.690/US$.
Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah sudah mengawali perdagangan di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,25% ke level Rp17.735/US$, lalu konsisten berada dalam tekanan hingga penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 99,554.
Pergerakan dolar AS cenderung terbatas di tengah penantian pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi besar menjelang hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan kemarin. Keputusan tersebut menjadi perhatian karena merupakan rapat kebijakan pertama The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, pelaku pasar akan mencermati pernyataan kebijakan, proyeksi ekonomi, dan konferensi pers untuk melihat arah kebijakan The Fed ke depan.
Perhatian utama pasar tertuju pada apakah The Fed akan mulai meninggalkan bias pelonggaran kebijakan, terutama ketika risiko inflasi dinilai masih tinggi.
Sementara di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun kembali melemah ke 6,91% pada Rabu (17/6/2026) kemarin, dari hari sebelumnya yang ditutup di level 7,165%
Penurunan imbal hasil ini mengindikasikan bahwa kepercayaan dari investor domestik maupun asing mulai kembali ke pasar obligasi tanah air setelah mengalami penjualan secara ekstrim pada pekan lalu hingga mencapai 7,479% pada perdagangan Rabu (10/6/2026).
Addsource on Google


















































