Tak Hanya SAR, Nelayan Ikut Cari Jurnalis-Kru Hilang di Selat Sunda

1 hour ago 1

Jakarta -

Basarnas mengungkap kendala dalam pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Helikopter yang diterjunkan untuk melakukan pencarian via udara terkendala asap Gunung Anak Krakatau.

"Hari ini saya hadir di sini, tadi juga kita dengan sarana udara, kita juga sempat masuk di perairan. Tapi memang kondisi bahwa yang terjadi saat ini jarak pandang memang terbatas dengan kalau kita lihat memang judulnya asap," ujar Kepala Basarnas, Marsekal Madya M Syafii, di Pos SAR Nasional, Pantai Marina Carita, Pandeglang, Kamis (10/9/2026).

Menurut Syafii, asap vulkanik masih ada di ketinggian 1.500 meter ke bawah. Kondisi tersebut membuat proses pencarian belum bisa dilakukan lewat udara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau saya pribadi dengan pesawat tadi memang belum melihat," katanya.

Basarnas Kerahkan Helikopter

Untuk membantu proses pencarian, Basarnas juga menurunkan helikopter. Tim SAR berharap helikopter bisa memudahkan proses pencarian.

"Dalam rangka mendukung operasi SAR terhadap delapan orang yang masih dalam pencarian akibat speedboat hilang kontak di perairan Selat Sunda, helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604 dikerahkan untuk mendukung pelaksanaan operasi SAR di wilayah Gunung Anak Krakatau, Banten," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad, Kamis (10/9/2026).

Helikopter HR-3604 berangkat dari Lanud Atang Sendjaja (ATS) pada pukul 12.36 WIB dan direncanakan tiba di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada pukul 12.52 WIB. Rute penerbangan meliputi JIExpo Kemayoran-Pantai Carita-BPBD Banten-Helipad/JIExpo Kemayoran.

"Pengerahan helikopter ini menjadi bagian dari upaya penguatan pencarian melalui dukungan udara, khususnya dalam pemantauan wilayah operasi SAR di sekitar Perairan Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau," katanya.

Pencarian Diperluas

Pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di area Gunung Anak Krakatau memasuki hari ke-3. Hari ini, petugas mengerahkan enam kapal, termasuk Kapal Republik Indonesia (KRI) milik TNI AL, serta dibantu nelayan.

Amrad menyebutkan ada enam sektor pencarian. Nelayan akan membantu proses pencarian di sektor E atau area pesisir pantai Banten.

"Yang di sektor E, untuk di sektor E itu kita nanti setelah dari rekan-rekan kita mendampingi para nelayan yang melakukan searching, itu akan mereka melakukan searching di pesisir-pesisir Banten," ujar Amrad.

Untuk pencarian hari ini, akan dikerahkan enam kapal. Kapal-kapal tersebut adalah KRI Lepu, KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KAL Pohawang, KP Sanjaya, dan RIB 02 Banten.

Tim SAR gabungan memperluas area pencarian para korban hingga 2.109 NM².

Nelayan Bantu Proses Pencarian

Tak hanya dari SAR, sebanyak 130 nelayan di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, ikut membantu pencarian lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Para nelayan diminta memantau laut saat mencari ikan untuk menemukan keberadaan rombongan tersebut.

Kepala Desa Tejang, Pulau Sebesi, Syamsiar mengatakan para nelayan langsung dikerahkan setelah pihak desa menerima informasi hilangnya rombongan yang sebelumnya melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK).

"Kami sudah share ke grup-grup kelompok nelayan dan juga menginformasikan kepada ketua RT serta kepala dusun. Kalau saat melaut melihat keberadaan speedboat tersebut atau menemukan sesuatu yang mencurigakan, diminta segera melapor," kata Syamsiar, Kamis (10/9/2026).

Menurut Syamsiar, Desa Tejang memiliki 13 kelompok nelayan dengan total sekitar 130 anggota. Mereka diminta ikut memantau keberadaan speedboat di sela aktivitas melaut.

"Setiap nelayan yang pergi melaut tetap kami imbau untuk ikut memantau. Sambil mencari ikan, mereka juga membantu tim SAR mencari keberadaan speedboat itu," ujarnya.

Upaya pemantauan dilakukan di tengah kondisi cuaca laut yang kurang bersahabat. Syamsiar menyebut ombak di sekitar jalur menuju Gunung Anak Krakatau cukup besar disertai angin kencang.

"Kalau arah menuju Krakatau memang cuacanya lagi tidak bagus. Ombaknya agak besar dan anginnya juga cukup kencang. Nelayan sekarang mencari ikan dengan mengambil arah lain," katanya.

Pulau Sebesi merupakan salah satu wilayah yang berada dekat dengan kawasan GAK. Dari Desa Tejang, perjalanan menuju kawasan Krakatau menggunakan kapal nelayan membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam.

Keluarga Harus Mendapatkan Pendampingan Psikologis

Sementara itu, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memberi pendampingan terhadap keluarga jurnalis hingga kru kapal yang hilang kontak. Puan ingin mereka mendapat informasi hingga pendampingan psikologis selama proses pencarian berlangsung.

"Kami ikut merasakan kekhawatiran keluarga atas musibah ini. Pencarian teman-teman jurnalis beserta seluruh anggota rombongan di perairan Selat Sunda harus dimaksimalkan," kata Puan dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

"Dan penting agar pihak keluarga mendapat pendampingan dari Pemerintah, termasuk jaminan update informasi serta kebutuhan untuk psikologis mereka," ujar Puan.

Puan mengatakan perlunya perlindungan optimal terhadap jurnalis yang mengabdi memberikan informasi kepada publik. Perlindungan harus dilakukan dengan operasi pencarian maksimal.

"Pengabdian untuk kepentingan masyarakat harus diikuti kepastian perlindungan. Dan tentunya dukungan dan perlindungan tersebut dapat diwujudkan melalui operasi pencarian yang maksimal," kata Puan.

"Bagi masyarakat, jauhi dulu area berbahaya. Dan selalu patuhi imbauan petugas atau pihak-pihak yang berwenang," sambungnya.

Saksikan pembahasan selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Jumat (11/9/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube, TikTok dan Facebook detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi"

(vrs/vrs)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |