Survei Terbaru: Warga AS Emosi, Akui Kalah di Perang Lawan Iran

4 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait konflik dengan Iran menuai sorotan tajam di dalam negeri. Hasil jajak pendapat (polling) terbaru menunjukkan bahwa di balik layar kesepakatan damai yang diteken pemerintahannya, terdapat sentimen negatif yang masif dari publik AS yang menganggap langkah tersebut sebagai sebuah kekalahan strategis.

Mengutip analisis dari CNN, Selasa (23/06/2026), survei nasional terbaru yang dirilis oleh CBS News-YouGov memaparkan fakta bahwa mayoritas warga AS sejatinya tidak menyukai poin-poin dalam nota kesepahaman (MoU) yang disepakati dengan Teheran.

Alasan utama publik mendukung penghentian perang saat ini murni karena mereka sudah jenuh dan menganggap keterlibatan militer AS di wilayah tersebut sebagai sebuah kegagalan besar.

Kesepakatan yang Buruk

Berdasarkan data jajak pendapat tersebut, sebanyak 78% warga AS memang memilih opsi untuk segera mengakhiri perang sekarang, dibandingkan hanya 22% yang ingin melanjutkan konfrontasi militer demi mendapat konsesi lebih dari Iran. Meskipun penasihat politik Trump mengklaim angka ini sebagai bentuk dukungan politik, rincian survei justru berkata sebaliknya.

Ketika diminta menilai isi perjanjian, hanya 22% warga yang merasa kesepakatan itu menguntungkan AS. Sebaliknya, 37% menilai kesepakatan tersebut jauh lebih menguntungkan pihak Iran, dan 41% menganggapnya berimbang.

Bahkan di internal partai pendukung Trump, hanya sekitar 39% warga Republik yang percaya bahwa pemerintahan mereka memenangkan negosiasi ini. Secara umum, sebanyak 45% berbanding 29% warga sepakat menyatakan perang ini gagal dari sudut pandang strategis.

Menerima Kekalahan Strategis

Poin paling krusial yang menjadi target utama Trump-yakni menghentikan program nuklir Iran secara permanen-juga dinilai gagal total oleh publik. Sebanyak 69% warga AS secara keseluruhan, dan 45% dari pemilih Republik, meyakini perjanjian ini tidak akan mampu membendung ambisi nuklir Iran.

Sentimen ini sejalan dengan survei Fox News pada pertengahan Juni lalu yang menunjukkan 64% pemilih terdaftar sangsi Iran akan berhenti memproduksi senjata nuklir.

Sentimen negatif publik juga meluas ke berbagai sektor strategis lainnya. Sebanyak 68% responden menilai kesepakatan ini tidak akan menghentikan langkah Iran untuk mengancam negara lain di masa depan. Selain itu, sebanyak 79% menyatakan kesepakatan tersebut sama sekali tidak membuat para pemimpin Iran menjadi lebih pro-AS.

Hal ini diperparah dengan penilaian dari 74% warga yang menganggap perang ini gagal membuat rakyat Iran menjadi lebih aman dan bebas, padahal poin tersebut sempat digaungkan sebagai salah satu tujuan utama Trump pada awal tahun ini.

Perang Dianggap Kontraproduktif

Meskipun Trump berulang kali mengeklaim bahwa serangan militer AS telah melumpuhkan kekuatan tempur dan infrastruktur nuklir Iran, publik Amerika tidak mempercayai narasi tersebut. Hanya 37% warga yang merasa posisi Iran melemah pasca-perang.

Sisanya, lebih dari 60% warga menilai kekuatan Iran masih sama kuatnya (38%) atau bahkan menjadi lebih kuat (25%) dibanding sebelum perang dimulai.

Secara militer Iran memang menderita kerugian besar, namun Teheran berhasil mendemonstrasikan posisi tawar yang masif secara global melalui kemampuannya memblokade Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital untuk komoditas energi dunia tersebut sempat terkunci dan mengancam stabilitas ekonomi global.

Oleh karena itu, mayoritas mutlak sebesar 57% warga AS menilai perang ini lebih banyak mendatangkan masalah baru daripada menyelesaikan masalah yang ada.

Trump Dinilai Terkecoh dan Salah Prediksi

Publik Amerika juga menilai bahwa pemerintahan Trump sejak awal tidak memahami dampak ekonomi masif yang akan ditimbulkan oleh perang ini. Sebanyak 64% responden, termasuk 51% warga Republik, menilai dampak terhadap ekonomi dunia jauh di luar ekspektasi pemerintah. Hal ini diperkuat oleh laporan internal yang menyebut Gedung Putih meremehkan nekatnya Iran dalam menutup Selat Hormuz.

Pada akhirnya, kejenuhan menjadi faktor utama di balik kompromi ini. Awalnya, pemerintahan Trump memprediksi perang hanya akan berlangsung sekitar empat hingga enam minggu, namun konflik ini justru berlarut-larut hingga hampir empat bulan tanpa hasil nyata.

Sekitar dua pertiga warga AS akhirnya menyimpulkan bahwa Trump buru-buru menyepakati perdamaian bukan karena seluruh target misinya telah tercapai, melainkan karena sang presiden sudah frustrasi dan hanya ingin konflik ini segera berakhir.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |