Jakarta, CNBC Indonesia — Sergey Brin, salah satu tokoh kunci di balik berdirinya Google, memutuskan untuk turun gunung dan kembali mengawal proyek riset kecerdasan buatan (AI) di Alphabet setelah sebelumnya sempat menarik diri dari aktivitas operasional harian.
Ia mengonfirmasi bahwa laju lompatan inovasi AI yang berkembang sangat masif membuat keputusan pensiun dininya beberapa waktu lalu menjadi tidak lagi relevan.
Dalam sebuah sesi diskusi di Universitas Stanford baru-baru ini, ia membagikan kisah personalnya yang sempat merasa kehilangan arah dan kurang terstimulasi secara intelektual pasca-menyudahi tugas-tugas teknisnya.
Pengalaman itulah yang mendorong dirinya untuk kembali terjun langsung ke dalam laboratorium riset dan pengembangan teknologi AI milik Google.
Brin sebelumnya memutuskan pensiun sekitar satu bulan sebelum pandemi Covid-19 dengan rencana mempelajari fisika.
Namun setelah rutinitas hilang, ia merasa kehilangan ruang stimulasi teknis.
Ketika Alphabet mulai membuka kantor secara terbatas, Brin kembali hadir dan akhirnya terlibat dalam pengembangan model Gemini AI yang ia sebut sangat memuaskan. Ia menilai memilih pensiun akan menjadi kesalahan besar.
Dalam kesempatan yang sama, Brin juga mengevaluasi perjalanan investasi AI Google. Ia menyebut perusahaan sempat kurang agresif setelah merilis riset Transformer pada 2017, yang kini menjadi fondasi model bahasa besar di berbagai perusahaan.
Ia mengatakan sikap hati-hati internal memperlambat peluncuran chatbot karena kekhawatiran soal akurasi, sementara pesaing seperti OpenAI bergerak lebih cepat dan memicu adopsi AI generatif secara luas.
Brin juga merefleksikan sejumlah langkah yang kurang tepat di masa lalu, termasuk Google Glass.
"Semua orang mengira mereka adalah Steve Jobs berikutnya. Aku juga pernah melakukan kesalahan itu," imbuhnya, dikutip Minggu (21/6/2026).
Meski demikian, Brin menilai Google tetap unggul berkat investasi jangka panjang di riset jaringan saraf, chip khusus, serta pusat data berskala global. Menurutnya, hanya sedikit perusahaan yang mampu mengoperasikan seluruh rantai teknologi AI mulai dari riset hingga infrastruktur komputasi.
Brin juga menyinggung kesiapan talenta di era AI. Ia mendorong mahasiswa agar tetap memilih bidang teknis dan tidak beralih hanya karena kemampuan AI menulis kode.
Menurutnya, pemrograman tetap memiliki nilai tinggi dan menjadi bagian fundamental dalam pengembangan sistem AI. Brin mengatakan keterlibatannya saat ini didorong oleh pesatnya dinamika riset.
"Jika melewatkan berita AI selama sebulan, kamu akan tertinggal jauh," ujarnya.
Keunggulan Google dalam pengembangan AI membuat harta Brin dan Larry Page sebagai pendiri Google makin melimpah. Bahkan, Brin kini adalah orang terkaya ketiga di dunia dengan harta US$ 253,5 milar atau Rp 4.512 triliun (kurs Rp 17.800).
(mkh/mkh)
Addsource on Google


















































