Jakarta, CNBC Indonesia - Studi menunjukkan pola diet tidak sehat di usia dua tahun berdampak negatif pada perkembangan otak manusia.
Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-olahan (contohnya sosis, nugget, mie instan, chiki) pada masa kanak-kanak berpotensi berdampak pada perkembangan kognitif mereka. Temuan yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah British Journal of Nutrition tersebut menemukan hubungan antara pola makan tidak sehat pada usia dua tahun dengan skor IQ yang lebih rendah saat anak memasuki usia sekolah.
Studi ini sekaligus menambah daftar bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pentingnya kualitas asupan gizi pada tahun-tahun pertama kehidupan.
Mengutip PSY Post, pada beberapa tahun pertama kehidupan manusia merupakan jendela biologis perubahan yang cepat. Otak tumbuh dengan cepat selama waktu ini dan membangun koneksi saraf yang diperlukan untuk belajar dan mengingat.
Proses ini membutuhkan pasokan nutrisi tertentu yang stabil agar berfungsi dengan benar. Tanpa cukup zat besi, seng, atau lemak sehat, otak mungkin tidak berkembang hingga kapasitas penuhnya.
Para peneliti dari Universitas Federal Pelotas di Brasil dan Universitas Illinois Urbana-Champaign menyelidiki masalah ini. Tim tersebut ingin menentukan apakah kebiasaan makan yang terbentuk pada usia dua tahun dapat memprediksi kemampuan kognitif beberapa tahun kemudian.
Tim tersebut menganalisis informasi dari lebih dari 3.400 anak. Ketika anak-anak berusia dua tahun, orang tua mereka menjawab pertanyaan tentang apa yang biasanya dimakan balita tersebut.
Ketika anak-anak mencapai usia enam atau tujuh tahun, psikolog terlatih menilai kecerdasan mereka. Mereka menggunakan tes standar yang disebut Skala Kecerdasan Wechsler untuk Anak-Anak (Wechsler Intelligence Scale for Children). Tes ini mengukur berbagai keterampilan mental untuk menghasilkan skor IQ. Para peneliti kemudian mencari hubungan statistik antara pola makan pada usia dua tahun dan hasil tes empat tahun kemudian.
Analisis menunjukkan hubungan yang jelas antara pola makan yang tidak sehat dan skor kognitif yang lebih rendah. Anak-anak yang sering mengonsumsi makanan olahan dan bergula pada usia dua tahun cenderung memiliki skor IQ yang lebih rendah pada usia sekolah.
Hubungan ini tetap ada bahkan ketika para peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain yang memengaruhi kecerdasan. Mereka menyesuaikan data dengan pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan seberapa banyak stimulasi mental yang diterima anak di rumah.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

















































