Startup Tak Terkenal Jadi Ujung Tombak Proyek Militer Baru Trump

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek kontroversial yang digagas Donald Trump, Golden Dome, sudah dimulai. Program pertahanan berbasis luar angkasa itu kini memasuki tahap awal setelah dua perusahaan teknologi pertahanan dipilih untuk membangun prototipe sistem inti.

Startup yang relatif belum dikenal banyak, Impulse Space, dan perusahaan teknologi militer, Anduril, disebut ditunjuk oleh Pentagon untuk mengembangkan teknologi pelacakan serta penargetan rudal dari orbit.

Sistem ini akan menjadi tulang punggung Golden Dome, jaringan satelit yang dirancang untuk mendeteksi hingga menggagalkan serangan udara sebelum mencapai wilayah Amerika Serikat.

Golden Dome merupakan proyek besar pemerintahan Trump sejak awal 2025. Melalui perintah eksekutif, Trump mendorong pembangunan "perisai" luar angkasa yang mampu menghadang rudal dan drone sejak fase awal peluncuran.

Namun hingga kini, jadwal pasti proyek tersebut masih minim informasi. Sejumlah laporan menyebut proyek ini bisa memakan waktu yang lama.

Congressional Budget Office memperkirakan pembangunan proyek inj membutuhkan hingga dua dekade. Tapi, ada laporan yang menyebut uji coba besar pertama ditargetkan sebelum pemilu presiden AS 2028. Penunjukan kontraktor teknologi ini menjadi sinyal bahwa proyek mulai bergerak.

Teknologi yang dikembangkan berpusat pada interceptor berbasis ruang angkasa. Sistem ini dirancang untuk menemukan, mengunci target, lalu menghancurkan rudal musuh dari orbit. Masalahnya, teknologi tersebut belum pernah diwujudkan dan masih dianggap tidak praktis oleh sebagian pakar.

Impulse Space, yang dipimpin mantan insinyur SpaceX Tom Mueller, akan bertindak sebagai subkontraktor Anduril. Kolaborasi ini dinilai penting karena menggabungkan kemampuan peluncuran dan sistem pertahanan berbasis AI.

Selain dua perusahaan itu, kontraktor besar seperti Northrop Grumman, Lockheed Martin, hingga startup True Anomaly juga dilaporkan ikut mengembangkan prototipe serupa. Mereka akan bersaing untuk mendapatkan kontrak produksi final Golden Dome.

Di satu sisi, proyek ini menuai kritik keras. Sejumlah analis menyebut sistem pertahanan ruang angkasa seperti ini sudah dicoba sejak era Ronald Reagan dan tidak pernah terealisasi. Biayanya pun diperkirakan sangat besar, bahkan bisa mencapai US$3,6 triliun hingga 2045.

Think tank Brookings Institution memperingatkan Golden Dome berpotensi memicu persaingan senjata baru. Jika AS mengerahkan interceptor di luar angkasa, China dan Rusia dinilai bisa mengikuti langkah serupa.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |