Utang RI Cetak Rekor, Pinjamnya Bukan Pakai Dolar-Rupiah

3 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 June 2026 19:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang luar negeri (ULN) Indonesia dari dua negara dengan ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat (AS) dan China, kompak mengalami penurunan. Meski begitu, jarak nilai utang dari kedua negara tersebut masih terbilang cukup dekat.

Bank Indonesia (BI) merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Juni 2026 pada Senin (15/6/2026). Dalam laporan tersebut, posisi ULN Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$439,7 miliar atau tumbuh 1,9% secara tahunan (yoy).

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 1,0% yoy. Bila dikonversi ke rupiah, posisi ULN Indonesia setara sekitar Rp7.773,9 triliun dengan asumsi kurs Rp17.680/US$.

BI menjelaskan, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah kontraksi ULN sektor swasta yang masih berlanjut.

ULN pemerintah pada April 2026 tercatat sebesar US$216,4 miliar. Secara tahunan, ULN pemerintah tumbuh 3,7% yoy, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 yang sebesar 3,8% yoy.

Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh posisi pinjaman luar negeri yang tumbuh melambat. Sementara itu, aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) tetap mencatatkan net inflow, yang mencerminkan terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Sementara itu, posisi ULN swasta pada April 2026 tercatat sebesar US$193,2 miliar. Secara tahunan, ULN swasta masih mengalami kontraksi 0,7% yoy, lebih rendah dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya yang sebesar 1,4% yoy.

Utang RI ke AS dan China Sama-Sama Turun

Jika melihat dua negara dengan ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat dan China, posisi utang luar negeri Indonesia pada April 2026 bergerak seirama. Keduanya sama-sama mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Posisi ULN Indonesia dari AS tercatat sebesar US$27,99 miliar pada April 2026. Angka ini turun dari posisi Maret 2026 yang sebesar US$28,02 miliar.

Artinya, ULN Indonesia dari AS berkurang sekitar US$0,03 miliar atau turun 0,11% secara bulanan. Penurunannya memang relatif tipis, tetapi tetap menunjukkan adanya koreksi setelah posisi utang dari AS sempat meningkat pada awal 2026.

Sementara itu, ULN Indonesia dari China tercatat sebesar US$25,43 miliar pada April 2026. Nilai tersebut juga lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang sebesar US$25,62 miliar. Dengan demikian, ULN dari China turun 0,74% secara bulanan. 

Meski sama-sama turun, posisi ULN Indonesia dari AS masih lebih besar dibandingkan China. Pada April 2026, selisih utang dari kedua negara tersebut mencapai US$2,56 miliar.

Jika dikonversi menggunakan asumsi kurs Rp17.680/US$, selisih tersebut setara sekitar Rp45,26 triliun. Dengan jarak yang tidak terlalu lebar, AS dan China masih menjadi dua negara besar yang memiliki peran penting dalam struktur pembiayaan luar negeri Indonesia.

Selama beberapa tahun terakhir, pembiayaan dari China banyak dikaitkan dengan proyek-proyek infrastruktur dan konektivitas, termasuk transportasi, energi, dan pembangunan kawasan ekonomi. Sementara itu, pembiayaan dari AS lebih banyak terlihat melalui instrumen pasar keuangan, investasi, serta dukungan pada sektor bernilai tambah tinggi seperti teknologi, energi, dan industri.

Utang dalam Yuan China Tembus Rekor Tertinggi

Meski utang luar negeri Indonesia dari China secara negara kreditur mengalami penurunan, posisi utang Indonesia dalam mata uang yuan China justru terus melesat. Bahkan, nilainya mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. 

Pada April 2026, posisi ULN Indonesia dalam denominasi yuan China tercatat sebesar US$17,24 miliar. Nilai tersebut naik dari posisi Maret 2026 yang sebesar US$16,99 miliar.

Artinya, utang dalam yuan China bertambah sekitar US$248 juta hanya dalam sebulan. Secara persentase, kenaikannya mencapai 1,46% secara bulanan.

Kenaikan ini terjadi di tengah semakin eratnya kerja sama keuangan antara Indonesia dan China.

Terbaru, Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) menggelar pertemuan tingkat tinggi atau High Level Meeting Joint Work Program di Shanghai, China, pada Rabu (11/6/2026).

Dalam pertemuan tersebut, kedua bank sentral kembali menegaskan komitmen untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.

Kerja sama ini mencakup penguatan Local Currency Transaction (LCT), penjajakan peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), hingga pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia.

Pembentukan fasilitas kliring renminbi tersebut dinilai penting karena dapat memperkuat ekosistem yuan di dalam negeri. Dengan likuiditas yuan yang lebih memadai, transaksi perdagangan, investasi, dan aktivitas keuangan antara Indonesia dan China berpotensi menjadi lebih efisien.

Selain itu, BI dan PBOC juga meluncurkan implementasi pembayaran QR lintas batas Indonesia-China serta kepesertaan Bank Mandiri sebagai direct participant dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS). Langkah ini memperkuat konektivitas sistem pembayaran kedua negara dan mempermudah penyelesaian transaksi lintas batas.

Dengan berbagai kerja sama tersebut, penggunaan yuan dalam transaksi dan pembiayaan lintas negara berpotensi semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan tren kenaikan ULN Indonesia dalam denominasi yuan China yang terus menanjak dalam beberapa tahun terakhir.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |