Sinyal Kuat Harga BBM per 1 Desember Besok Turun: Begini Hitungannya!

20 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi diperkirakan turun per 1 Desember 2025 jika melihat tren pelemahan harga minyak dunia.

Harga minyak mentah dunia sepanjang November 2025 bergerak dengan kecenderungan melemah, setelah pada awal bulan sempat menunjukkan penguatan.

Merujuk data Refinitiv, rata-rata harga minyak Brent berada di level US$63,66 per barel pada November, turun 0,44% dibandingkan rata-rata Oktober 2025 yang sebesar US$63,94 per barel.

Sedangkan rata-rata harga minyak WTI turun lebih dalam, berada di US$59,44 per barel atau melemah 1,00% dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar US$60,04 per barel.

Harga minyak dunia di November kembali masuk ke fase pelemahan akibat meningkatnya kekhawatiran oversupply di pasar energi global.

OPEC melaporkan bahwa pasokan minyak global telah melampaui permintaan pada kuartal ketiga 2025, mempertegas sinyal kelebihan suplai yang menyerupai kondisi pada 2019-2020.

Sentimen negatif turut diperparah oleh proyeksi produksi Amerika Serikat yang kembali meningkat, setelah Badan Informasi Energi (EIA) menaikkan estimasi produksi minyak mentah AS menjadi 13,58 juta barel per hari untuk tahun depan. Kenaikan ini menunjukkan bahwa produsen shale oil tetap agresif meski harga berada di bawah US$60 per barel.

Di pasar berjangka, harga minyak juga bergerak dalam struktur contango, yaitu ketika harga kontrak jangka panjang berada di atas kontrak jangka pendek. Pola ini mengindikasikan bahwa pasokan jangka pendek melimpah dan permintaan fisik melemah.

Konsumsi bahan bakar di Asia dan Eropa menunjukkan perlambatan, sementara pemulihan manufaktur China masih terhambat oleh lemahnya ekspor dan aktivitas industri. Kondisi tersebut membuat investor menilai bahwa permintaan global belum cukup kuat untuk menyerap tambahan produksi dari sejumlah negara utama.

Sementara itu, posisi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada November ini menunjukkan tren menguat. Sepanjang bulan ini, rupiah menguat 0,15% dari dolar AS.

Adapun rupiah bergerak pada rentang Rp16.610/US$ - Rp16.763/US$, dengan rata-rata kurs berada di level Rp16.684/US$. Penguatan rupiah ini dapat berdampak pada menurunnya biaya impor minyak dan produk BBM, mengingat porsi impor dalam rantai pasokan energi Indonesia masih cukup besar.

Harga Minyak Turun Ditambah Penguatan Rupiah, Harga BBM Berpeluang Turun?

Sebagai informasi, pemerintah menentukan harga BBM berdasarkan formulasi tertentu. Dua variabel yang dipakai adalah rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah, mengingat besarnya komponen biaya impor dalam penetapan harga BBM non-subsidi.

Keputusan Menteri ESDM Nomor 19 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak menjelaskan bahwa formula harga menggunakan rata-rata publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) dengan satuan USD/barel, berdasarkan periode tanggal 25 pada dua bulan sebelumnya sampai tanggal 24 pada satu bulan sebelumnya untuk penetapan harga bulan berjalan.

Merujuk Refinitiv, rata-rata harga minyak Brent pada dua bulan terakhir (Oktober-November 2025) adalah sebesar US$63,82 per barel. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan dua bulan sebelumnya (September-Oktober 2025) yang berada di US$65,72 per barel.

Sementara itu, rata-rata harga minyak WTI pada dua bulan terakhir (Oktober-November 2025) adalah sebesar US$59,78 per barel, turun dari dua bulan sebelumnya (September-Oktober 2025) yang berada di US$61,76 per barel.

Dengan harga minyak yang lebih rendah dan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat, maka formulasi harga dasar mengarah pada penurunan harga BBM non-subsidi.

Pada periode sebelumnya, yaitu 1 November 2025, Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga khusus pada produk BBM diesel non-subsidi.

Harga Dexlite di DKI Jakarta naik menjadi Rp13.900 per liter dari sebelumnya Rp13.700 per liter pada Oktober 2025. Begitu juga dengan Pertamina Dex yang naik menjadi Rp14.200 per liter dari sebelumnya Rp14.000 per liter.

Sementara untuk harga BBM jenis bensin tidak mengalami perubahan harga. Pertamax (RON 92) tetap dibanderol Rp12.200 per liter, Pertamax Green (RON 95) berada di Rp13.000 per liter, dan Pertamax Turbo (RON 98) masih di Rp13.100 per liter. Adapun harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami penyesuaian dan tetap berada pada level masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Sepanjang 2025, harga BBM non-subsidi menunjukkan pola penyesuaian yang cukup dinamis. Harga mengalami kenaikan pada Januari hingga Februari, kemudian turun sebagian pada Maret dan turun kembali pada April hingga Juni. Harga kembali naik pada Juli, kemudian turun sebagian pada Agustus dan September. Pada Oktober dan November, harga kembali naik sebagian seiring kondisi pasar energi global.

Dengan perkembangan harga minyak dunia yang melemah di November dan rupiah yang bergerak lebih kuat, maka harga BBM non-subsidi berpotensi turun per 1 Desember 2025. Keputusan resmi akan mengikuti pengumuman Pertamina, namun tren dua variabel utama tersebut memberikan sinyal kuat bahwa penyesuaian harga menuju penurunan cukup berpeluang terjadi pada awal Desember.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |