Siaga Perang Asia, Taiwan-AS Bersatu Bangun Senjata Mematikan Baru

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Taiwan memperkuat langkahnya menghadapi tekanan militer China dengan menguji coba teknologi drone serang terbaru bersama perusahaan pertahanan Amerika Serikat. Aksi ini menjadi bagian dari upaya Taipei untuk mempercepat pengembangan persenjataan berbiaya rendah namun dapat diproduksi dalam jumlah besar.

Perusahaan pertahanan berbasis di AS, Kratos Defense, bersama militer Taiwan, mengumumkan keberhasilan pengujian drone serang bermesin jet generasi baru.

Dalam pernyataan resminya pada Kamis (5/2/2026), sebagaimana dikutip Reuters, Kratos menyebutkan bahwa dalam kampanye uji coba terbaru di fasilitas mereka di Oklahoma City, para insinyur dari kedua pihak berhasil memvalidasi integrasi muatan misi buatan Taiwan pada drone serang Mighty Hornet IV.

Kratos menyebut uji coba ini sebagai sebuah "tonggak penting" yang dapat membuka jalan bagi kerja sama lebih dalam antara perusahaan tersebut dengan lembaga riset militer utama Taiwan, National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST).

Upaya ini berlangsung di saat Taiwan terus berusaha memperluas hubungan keamanan dengan AS, termasuk melalui pengembangan dan produksi senjata secara bersama. Di sisi lain, China semakin meningkatkan tekanan militernya untuk memaksa pulau yang diperintah secara demokratis itu menerima klaim kedaulatan Beijing.

NCSIST menilai kerja sama ini mampu memperpendek waktu pengembangan sistem senjata dan memenuhi kebutuhan Taiwan akan "langkah penanggulangan cepat dan serangan pendahuluan jarak jauh".

Drone Mighty Hornet IV sendiri dikembangkan sebagai senjata berbiaya rendah yang menyerupai rudal jelajah. Menurut Kratos, kedua pihak menargetkan penempatan "dalam jumlah besar" sistem ini di Taiwan, baik sebagai alat penangkal maupun aset penting dalam situasi perang.

China, yang memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya meskipun ditentang oleh pemerintah Taipei, terus mengirim pesawat tempur dan kapal perang ke wilayah udara dan perairan sekitar Taiwan hampir setiap hari. Aktivitas tersebut disebut Taiwan sebagai taktik "grey zone".

Beijing juga menggelar latihan perang skala besar terbaru di sekitar pulau itu pada akhir Desember lalu.

Menteri pertahanan Taiwan mengatakan pekan ini bahwa jumlah pesawat militer China yang terdeteksi beroperasi di sekitar Taiwan, termasuk jet tempur dan drone, meningkat 23% sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Seiring meningkatnya tekanan tersebut, Taipei semakin fokus mengamankan sistem tanpa awak yang lebih murah dan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Menurut pemerintah Taiwan, keberadaan drone semacam ini menjadi kunci untuk mempersulit potensi serangan China di masa depan.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |