Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
20 January 2026 19:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Genap satu tahun kepemimpinan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), sejak dilantik pada 20 Januari 2025. Di tengah sorotan terhadap arah kebijakan ekonomi Trump, defisit anggaran AS pada tahun kalender 2025 justru menyusut menjadi US$1,67 triliun hingga menjadi level terendah dalam tiga tahun.
Berdasarkan data Departemen Keuangan AS menunjukkan defisit pada Desember 2025 sebesar US$145 miliar. Pada periode yang sama, penerimaan bea masuk justru melambat menjadi US$28 miliar, yang disebut sebagai perolehan terkecil sejak Juli.
Di sisi lain, meski kenaikan tarif Trump terhadap mitra dagang utama ikut mendongkrak penerimaan, data Desember juga memperlihatkan tekanan dari sisi pajak.
Penerimaan pajak korporasi turun menjadi US$65 miliar, turun 28% dibanding bulan yang sama setahun sebelumnya. Selain itu, gelombang pengembalian pajak individu juga diperkirakan mulai berjalan sejak bulan ini seiring dimulainya musim pelaporan pajak.
Sebagai catatan tambahan, untuk tiga bulan pertama tahun fiskal 2026 (yang dimulai 1 Oktober), defisit tercatat US$602 miliar.
Untuk tahun kalender 2025, defisit anggaran AS tercatat US$1,67 triliun. Kontribusi besar datang dari penerimaan tarif, yang pada 2025 mencapai US$264 miliar, naik sekitar US$185 miliar dibanding tahun sebelumnya. Namun, arus penerimaan tarif ini juga berpotensi terdampak karena Mahkamah Agung AS disebut siap memutuskan legalitas sejumlah pungutan tarif Trump.
Di saat yang sama, kebijakan dalam One Big Beautiful Bill Act diproyeksikan menambah defisit US$3,4 triliun selama 10 tahun hingga 2034, berdasarkan estimasi Juli dari Congressional Budget Office (CBO) yang nonpartisan.
Menteri Keuangan Scott Bessent menilai menyempitnya defisit fiskal menunjukkan keberhasilan kebijakan ekonomi Trump. Untuk tahun fiskal 2025 (berakhir 30 September), rasio defisit terhadap PDB diperkirakan turun menjadi 5,9% dari 6,3% pada tahun sebelumnya.
Namun, sejumlah analis menilai angka rasio itu dipengaruhi perubahan cara menghitung dampak pinjaman mahasiswa. Dengan menyesuaikan perubahan tersebut, analis JPMorgan menghitung defisit tahun fiskal 2025 sebenarnya lebih dari US$1,9 triliun, sehingga kembali melampaui 6% dari PDB.
Dari sisi pengeluaran, pendorong utama defisit disebut berada di luar perdebatan belanja diskresioner tahunan.
Pada kuartal fiskal pertama, bunga utang naik 15% menjadi US$355 miliar, sementara belanja Medicare naik 9%, Medicaid naik 11%, dan Social Security meningkat 7%.
Tiga pos yaitu Health and Human Services, Social Security, dan bunga utang menyumbang US$1,27 triliun dari total pengeluaran US$1,83 triliun pada kuartal tersebut.
Dari Kegaduhan Tarif Jadi Tambahan Pemasukan
Sepanjang 2025, kebijakan tarif resiprokal Donald Trump memicu ketegangan dagang global, menaikkan biaya impor, dan memunculkan kekhawatiran inflasi di dalam negeri AS. Namun, di balik kontroversi itu, data fiskal justru menunjukkan efek lain yang signifikan, tarif agresif ikut mendongkrak penerimaan pemerintah dan membantu menyempitkan defisit.
Lonjakan penerimaan terutama datang dari bea masuk dan kepabeanan yang meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Tarif baru yang diberlakukan sejak awal 2025 pada praktiknya bertindak seperti pajak tidak langsung atas barang impor, sehingga menambah pemasukan negara tanpa menaikkan pajak domestik.
Kenaikan penerimaan terlihat makin jelas sejak April 2025. Penerimaan tarif tercatat US$15,6 miliar pada April, naik menjadi US$22,2 miliar pada Mei dan US$26,6 miliar pada Juni. Memasuki paruh kedua tahun, penerimaan tarif bulanan konsisten berada di atas US$25 miliar dan sempat menembus US$30 miliar pada beberapa bulan.
Data terbaru menunjukkan penerimaan tarif pada Desember sebesar US$27,89 miliar, dengan total tahun kalender 2025 mencapai US$264,05 miliar. Meski begitu, angka Desember menjadi penurunan bulanan kedua setelah penyesuaian tarif pada November.
Puncak penerimaan terjadi pada Oktober sebesar US$31,35 miliar, lalu turun pada November menjadi US$30,76 miliar. Dibanding setahun sebelumnya, perubahan ini sangat tajam karena pada Desember 2024 penerimaan tarif baru US$6,81 miliar, sementara total sepanjang 2024 sekitar US$79 miliar.
Di sisi perdagangan, program tarif yang luas juga dikaitkan dengan menyempitnya defisit perdagangan AS pada November menjadi US$29,4 miliar, level terendah sejak pertengahan 2009, dengan rilis data yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintah pada musim gugur tahun lalu.
Pada akhirnya, perluasan basis tarif dan melonjaknya penerimaan bea masuk membuat kebijakan tarif yang awalnya dipandang sebagai sumber kegaduhan ikut berubah menjadi salah satu mesin pemasukan pemerintah, dan menjadi bagian dari alasan mengapa defisit fiskal AS pada 2025 menyempit.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)


















































