Amalia Zahira, CNBC Indonesia
19 March 2026 02:28
Jakarta,CNBC Indonesia - Al-Qur'an turut memuat banyak kisah dan prinsip hidup, termasuk tentang perempuan.
Dalam berbagai ayat, perempuan digambarkan sebagai sosok yang memiliki peran penting bagi umat, baik dalam keluarga, masyarakat, hingga dalam dimensi spiritual.
Ajaran Islam sendiri menempatkan perempuan sebagai makhluk yang dimuliakan, dengan hak dan kewajiban yang seimbang. Nilai ini tercermin dalam sejumlah ayat yang menekankan penghormatan, perlindungan, hingga kesetaraan dalam amal dan pahala antara laki-laki dan perempuan.
Berikut lima ayat-ayat Al-Qur'an yang berkisah dan mengatur kehidupan perempuan:
1. Aturan Warisan untuk Perempuan
Dalam QS. An-Nisa: 11, Al-Qur'an mengatur pembagian warisan, termasuk hak perempuan. Ayat ini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak atas harta warisan, meski porsinya berbeda dengan laki-laki.
يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْٓ اَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِ ۚ فَاِنْ كُنَّ نِسَاۤءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۚ وَاِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ
Yūṣīkumu-llāhu fī aulādikum liż-żakari miṡlu ḥaẓẓil-unṡayain, fa in kunna nisā'an fawqaṡnataini falahunna ṡuluṡā mā tarak, wa in kānat wāḥidatan falahan-niṣf.
"Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan."
2. Perempuan sebagai Mitra dalam Kebaikan
QS. At-Taubah: 71 menyebut laki-laki dan perempuan sebagai penolong satu sama lain dalam kebaikan.
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Wal-mu'minūna wal-mu'minātu ba'ḍuhum auliyā'u ba'ḍ, ya'murūna bil-ma'rūfi wa yanhawna 'anil-munkar, wa yuqīmūnaṣ-ṣalāta wa yu'tūnaz-zakāta wa yuṭī'ūnallāha wa rasūlah, ulā'ika sayarḥamuhumullāh, innallāha 'azīzun ḥakīm.
"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana."
3. Kisah Kelahiran Anak Perempuan
Pada zaman jahiliyah, orang-orang Arab banyak yang mencela kelahiran anak perempuan. Tidak jarang bayi perempuan yang baru lahir langsung dikubur hidup-hidup karena dipandang sebagai aib keluarga.
Allah menghapuskan kesesatan tersebut lewat QS. Ali Imran: 36. Surat ini menceritakan tentang kelahiran anak perempuan yang tetap memiliki nilai di sisi Allah.
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ
Falammā waḍa'at-hā qālat rabbi innī waḍa'atuhā unṡā, wallāhu a'lamu bimā waḍa'at, wa laisaz-żakaru kal-unṡā.
"Maka ketika melahirkannya, dia berkata, Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan. Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan."
Ayat ini menceritakan tentang istri Imran yang bernazar mempersembahkan anaknya untuk beribadah kepada Allah. Namun, saat lahir ternyata anaknya perempuan. Ia pun menyadari bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik, dan bahwa anak perempuan tidak kalah dari laki-laki.
Anak tersebut kemudian diberi nama Maryam yang kelak menjadi ibu dari Nabi Isa as dan termasuk salah satu perempuan paling mulia dalam islam. Ayat ini menegaskan bahwa perempuan juga memiliki nilai dan peran yang mulia.
4. Kesetaraan Amal Laki-laki dan Perempuan
QS. Ali Imran: 195 menegaskan bahwa amal baik tidak dibedakan berdasarkan gender.
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى ۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍ
Fastajāba lahum rabbuhum annī lā uḍī'u 'amala 'āmilin minkum min żakarin au unṡā, ba'ḍukum min ba'ḍ.
"Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain."
5. Tanggung Jawab dalam Rumah Tangga
QS. An-Nisa: 34 menyebut laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga, terutama karena tanggung jawab nafkah.
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا
Ar-rijālu qawwāmūna 'alan-nisā'i bimā faḍḍalallāhu ba'ḍahum 'alā ba'ḍin wa bimā anfaqū min amwālihim. Faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-ghaibi bimā ḥafiẓallāh. Wallātī takhāfūna nusyūzahunna fa'iẓūhunna wahjurūhunna fil-maḍāji'i waḍribūhunna, fa in aṭa'nakum falā tabghū 'alaihinna sabīlā. Innallāha kāna 'aliyyan kabīrā.
"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya..."
(mae/mae)
Addsource on Google


















































