Jakarta, CNBC Indonesia - Keterkaitan antara perubahan lingkungan akibat letusan Samalas dan tinggalan arkeologis di Bali menjadi salah satu perhatian riset arkeologi di BRIN. Letusan Gunung Samalas di Lombok pada 1257 Masehi tidak hanya meninggalkan jejak material yang tersebar hingga Bali, tetapi juga membuka perspektif baru dalam memahami perubahan lingkungan dan dinamika kehidupan masyarakat Bali Kuno.
Bukti arkeologis dan geologis menunjukkan bahwa bencana vulkanik dapat menjadi salah satu faktor yang turut membentuk perjalanan masyarakat dan pemerintahan pada masa lalu.
"Hubungan antara fenomena alam dan tinggalan arkeologis merupakan aspek penting yang perlu terus dikaji," ujar Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Heri Jogaswara dalam Webinar Forum Kebinekaan Seri ke-39 bertema "Dampak Letusan Gunung Samalas terhadap Kondisi Tinggalan dan Masyarakat Bali Kuno", Rabu (26/8/2026) lalu dikutip Sabtu (5/9/2026).
Menurut Heri, penelitian mengenai dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat masa lalu berpotensi membuka temuan dan pemahaman baru mengenai sejarah Nusantara. Namun, untuk membaca kembali sejarah masyarakat masa lalu melalui jejak perubahan lingkungan diperlukan pendekatan lintas disiplin, khususnya arkeologi dan geologi.
"Oleh karena itu, kolaborasi antara BRIN, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAI), perguruan tinggi, serta berbagai pihak terkait perlu diperkuat untuk mengembangkan riset sekaligus menjaga warisan budaya Indonesia," tegasnya.
Membaca Kembali Sejarah Bali Kuno
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN, I Gusti Made Suarbhawa, mengatakan material erupsi Samalas berupa tefra ditemukan pada lapisan tanah di sejumlah situs arkeologi di Bali.
Temuan tersebut menjadi petunjuk penting dalam membaca perubahan yang terjadi pada masyarakat Bali Kuno. Selama ini, perubahan atau kekosongan pemerintahan pada periode tertentu lebih banyak dikaitkan dengan dinamika politik dan hubungan Bali dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Bukti geologis dan arkeologis membuka kemungkinan untuk melihat faktor lingkungan sebagai bagian dari rangkaian penyebab yang turut memengaruhi perubahan tersebut.
Salah satu temuan penting berada di Pura Gelang Agung, Pelaga, Badung Utara. Penelitian arkeologi dan geologi pada 2018 mengidentifikasi lapisan tefra berupa pasir dan batu apung pada kedalaman sekitar 100-130 sentimeter.
Lapisan material vulkanik tersebut ditemukan berasosiasi dengan struktur dan artefak yang diperkirakan berasal dari abad XI-XII. Kerusakan pada sejumlah struktur dan temuan arkeologis di situs tersebut diduga berkaitan dengan dampak letusan besar Samalas.
"Jejak material letusan Samalas tidak hanya ditemukan di Lombok. Material erupsinya juga tersebar hingga Bali, Sumbawa, dan Jawa," kata Suarbhawa.
Menurut Suarbhawa, data geologi menunjukkan endapan letusan menutupi sebagian wilayah Bali dengan ketebalan yang berbeda-beda. Informasi tersebut penting untuk mempertemukan bukti geologi dengan data arkeologi sehingga peneliti dapat menelusuri hubungan antara perubahan lingkungan dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Dengan pendekatan tersebut, sejarah Bali Kuno tidak hanya dibaca melalui perubahan kekuasaan dan hubungan politik. Faktor lingkungan, termasuk bencana alam, juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari konteks yang membentuk kehidupan masyarakat dan perkembangan peradaban.
Dampak Melampaui Wilayah Letusan
Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Marsis Sutopo, mengatakan berbagai jejak letusan gunung api di Indonesia menunjukkan bahwa bencana alam dapat membawa dampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Pengaruhnya bahkan dapat berkaitan dengan keberlangsungan permukiman, kerajaan, hingga peradaban.
Menurutnya, letusan Samalas menjadi salah satu peristiwa penting untuk melihat bagaimana fenomena alam dapat memengaruhi kehidupan manusia lintas wilayah.
Sejalan dengan itu, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bali, Ida Bagus Oka Agastya, mengatakan Skala letusan Samalas memperlihatkan bahwa dampak erupsi tidak dapat dipahami hanya dari kerusakan di sekitar gunung.
"Abu vulkanik dapat menutupi vegetasi, mengganggu produksi pertanian, memengaruhi sistem hidrologi tanah, serta menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Gangguan terhadap sumber pangan dan lingkungan juga dapat berdampak pada perpindahan penduduk serta perubahan pola kehidupan masyarakat," jelas Oka.
Menurut Oka, pengalaman Samalas menunjukkan bahwa bencana gunung api tidak dapat dipahami hanya dari perspektif geologi. Dampaknya dapat merambat ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan, pangan, kesehatan, dan ekonomi hingga tata sosial masyarakat.
Karena itu, kajian lintas disiplin mengenai respons masyarakat masa lalu terhadap bencana memiliki relevansi bagi upaya mitigasi masa kini. Pola evakuasi, kemampuan beradaptasi, serta proses pemulihan yang tercermin dalam tinggalan arkeologis dan sumber sejarah dapat menjadi bagian dari pengetahuan untuk memahami ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.
(wur/wur)
[Gambas:Video CNBC]

















































