Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/4/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan dengan depresiasi 0,09% ke level Rp17.110/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah sepanjang masa baru bagi mata uang Garuda.
Pelemahan tersebut juga memperpanjang tren negatif rupiah menjadi empat hari perdagangan beruntun sejak 9 April 2026.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB justru terpantau melemah sekitar 0,20% ke level 98,176.
Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi di tengah kondisi dolar AS yang justru sedang melemah di pasar global. Artinya, rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan greenback untuk berbalik menguat.
Dolar AS saat ini bergerak di dekat level terendah dalam enam pekan, seiring munculnya harapan bahwa konflik Iran dapat mereda. Kondisi ini menekan harga minyak dan mendorong perbaikan selera risiko investor.
Presiden AS Donald Trump mengatakan masih ada pihak-pihak yang menginginkan kesepakatan antara AS dan Iran, meski pembicaraan kedua negara pada akhir pekan lalu belum membuahkan hasil.
Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan kepada mitranya dari Prancis, Jean-Noel Barrot, bahwa negosiasi telah mencatat kemajuan dalam banyak isu meskipun belum mencapai kesepakatan final.
Perkembangan ini membuat dolar AS melemah karena perannya sebagai aset safe haven mulai berkurang.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneternya untuk menjaga stabilitas rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral akan tetap hadir di pasar secara terukur, baik di pasar spot, NDF, maupun DNDF.
"Secara terukur, continue BI akan masuk di market, spot, NDF, DNDF, kita juga akan perluas basis pelaku nanti untuk NDF di luar. Hari ini NDF terbang di atas Rp 17.100/US$. Itu belum ada transaksi real di sana," kata Destry dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia, dikutip Selasa (14/4/2026).
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]


















































