Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
12 April 2026 09:45
Minyak Sepekan, Lonjakan Panik ke Koreksi Tajam, Pasar Masih Dibayangi Hormuz
Harga minyak dunia menutup pekan dengan volatilitas ekstrem. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak Brent untuk pengiriman terdekat ditutup di US$95,20 per barel pada 10 April 2026, turun 13,28% dibanding penutupan 31 Maret di US$109,77 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$96,57 per barel, terkoreksi 14,09% dari posisi 6 April di US$112,41 per barel. Dalam hitungan hari, pasar bergerak dari fase panik pasokan menuju fase tunggu arah baru.
Awal pekan diwarnai lonjakan harga ketika Brent sempat bertahan di area US$109 dan WTI di atas US$112 pada 6-7 April. Kala itu pasar masih menghitung dampak tersendatnya arus kapal di Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global. Kekhawatiran bertambah setelah serangan terhadap fasilitas energi kawasan Teluk memperbesar risiko gangguan distribusi.
Namun setelah itu arah berbalik tajam. Pada 8 April Brent jatuh ke US$94,75 dan WTI ke US$94,41. Koreksi tersebut terjadi usai muncul harapan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu ekspektasi terbukanya kembali jalur pasokan energi. Pasar yang sebelumnya menumpuk premi risiko mendadak melepas sebagian posisi lindung nilai.
Meski demikian, reli penurunan harga tidak berlangsung mulus. Pada 9-10 April harga kembali menguat ke kisaran US$95-97 setelah investor menilai gencatan senjata masih rapuh. Lalu lintas kapal tanker belum pulih normal, premi asuransi pelayaran masih tinggi, dan operator kapal menunggu kepastian keamanan sebelum kembali melintas penuh di Hormuz. Artinya, kertas perdamaian belum otomatis mengembalikan barel ke pasar.
Sentimen lain datang dari kabar Washington berpeluang memperpanjang waiver pembelian sebagian minyak Rusia. Kebijakan ini dibaca pasar sebagai upaya menambah fleksibilitas suplai global agar lonjakan harga bahan bakar tidak makin menekan konsumen AS. Jika benar diperpanjang, pasokan Rusia berpotensi menjadi bantalan sementara saat distribusi Timur Tengah belum sepenuhnya pulih.
Batubara Sepekan: Banyak Kabar Positif, Harga Tetap Terseret Turun
Harga batubara dunia masih bergerak turun sepanjang sepekan terakhir meski dibanjiri sentimen yang seharusnya menopang pasar. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak Newcastle Futures ditutup di US$132,4 per ton pada perdagangan 9 April 2026, melemah 9,1% dibanding posisi 31 Maret di US$145,6 per ton. Bahkan jika dibanding puncak singkat pada 30 Maret di US$148,6 per ton, koreksinya sudah mendekati 11%.
Pergerakan pekan ini terbelah dua fase. Pada awal April, harga masih bertahan di area US$139 per ton, didukung lonjakan harga energi global akibat konflik Timur Tengah. Gangguan pasokan LNG dan LPG dari kawasan Teluk sempat memicu perpindahan konsumsi bahan bakar dari gas ke batubara, terutama di negara importir utama seperti Jepang dan Korea Selatan yang memiliki fasilitas pembangkit fleksibel.
Namun dorongan itu memudar cepat. Pada 7 April harga masih sempat menyentuh US$141 per ton, lalu ambruk ke US$132,45 pada 8 April dan bertahan di US$132,4 sehari setelahnya. Dalam dua hari, pasar kehilangan sekitar 6,1%. Koreksi ini terjadi seiring turunnya harga minyak dan gas, sehingga urgensi beralih ke batubara ikut menurun. Saat energi substitusi mulai mendingin, daya tarik pasir hitam ikut berkurang.
Dari Amerika Serikat, pemerintahan Donald Trump mengusulkan pelonggaran besar aturan limbah abu batubara atau coal ash. Aturan baru ini berpotensi mengecualikan lebih dari 100 lokasi pembuangan dari kewajiban pembersihan EPA serta melonggarkan syarat pemantauan air tanah. Kebijakan tersebut memberi napas lebih longgar bagi utilitas listrik dan industri tambang, tetapi gagal menjadi katalis harga dalam jangka pendek.
Dari Eropa, Italia malah menunda penutupan permanen empat PLTU hingga 2038. Langkah ini ditempuh karena mahalnya biaya listrik berbasis gas setelah perang Timur Tengah. Keputusan itu memperlihatkan satu realitas lama, saat krisis energi datang, batubara sering kembali dipanggil ke panggung utama. Meski begitu, pasar global menilai dampaknya terhadap permintaan fisik masih terbatas.
China juga memberi sinyal penyangga. Harga batubara termal di mulut tambang beberapa wilayah naik tipis didorong restocking dan pembelian ulang pengguna akhir. Selain itu, raksasa tambang China mulai memperbesar investasi batubara ke sektor kimia seperti olefin dan plastik, memanfaatkan mahalnya bahan baku berbasis minyak. Artinya, batubara sedang dicari jalur hidup baru di luar pembangkit listrik.
Meski sentimen dari AS, Italia, dan China cukup ramai, pasar tetap memilih fokus pada perlambatan harga energi global dan pasokan yang masih memadai. Selama China belum masuk fase permintaan besar dan harga gas terus landai, batubara berpotensi bergerak berat di kisaran rendah. Banyak kabar baik datang bertamu, tetapi belum ada yang cukup kuat mengangkat tuan rumah.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)


















































