Pulau Jepang Geser, Ilmuwan Kaget Tiba-Tiba Bergerak ke Arah Timur

7 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Peristiwa gempa bumi berkekuatan 9,0 skala Richter yang melanda lepas pantai Jepang pada tahun 2011 ternyata menyimpan rahasia ilmiah yang baru terungkap. Saking dahsyatnya gempa, beberapa wilayah Jepang sampai bergeser.

Gelombang seismik yang dihasilkan dari bencana dahsyat itu tidak hanya merambat di permukaan atau lapisan atas bumi, tetapi menembus hingga kedalaman 2.900 kilometer, tepat di batas antara lapisan mantel dan inti luar bumi yang berwujud cair, lalu memantul kembali ke permukaan dan diduga kuat menggeser sebagian wilayah Jepang.

Temuan ini diungkap dalam analisis data terbaru yang dipimpin oleh ahli seismologi Sunyoung Park dari Universitas Chicago, dan telah dipublikasikan dalam jurnal Science. Para peneliti menyoroti sinyal seismik bernama ScS, gelombang geser yang bergerak ke bawah, memantul di batas inti-mantel, lalu kembali ke permukaan.

Pada kasus gempa Tōhoku 2011, sinyal ini sangat jelas dan besar hingga bisa terdeteksi bahkan di wilayah China, serta terekam dengan baik oleh jaringan pengamatan bumi GNSS milik Jepang yang bernama GEONET.

Data yang paling mengagetkan ilmuwan data pengamatan GPS yang menunjukkan sejumlah titik di Jepang bergeser ke arah timur sejauh 5 hingga 6 milimeter. Awalnya, pergeseran ini dianggap sebagai kesalahan pemrosesan data. Namun, setelah peneliti melakukan pengecekan ulang dan mengoreksi berbagai kemungkinan kesalahan, pergeseran itu tetap tercatat nyata dan bersifat permanen.

Fenomena ini juga tidak bisa dijelaskan oleh faktor lain seperti longsoran bawah laut atau pergerakan utama lempeng saat gempa terjadi.

Pergeseran itu terjadi tepat saat gelombang ScS yang memantul dari batas inti bumi kembali sampai ke wilayah Jepang. Melalui pemodelan ilmiah, tim peneliti menemukan bahwa gelombang yang kembali ini memicu pergerakan kecil di antarmuka dua lempeng tektonik, yaitu Lempeng Pasifik yang meluncur ke bawah lempeng yang menopang bagian utara Jepang.

Pergerakan ini bukan berupa retakan besar, melainkan pergeseran halus yang terjadi di wilayah yang sangat luas, dengan jarak pergeseran hanya beberapa milimeter hingga centimeter saja.

Secara sederhana, mekanismenya mirip saat dua permukaan kasar saling ditekan bersudut. Gaya gesek menahan pergerakan sampai gaya yang bekerja cukup kuat untuk mengatasinya, lalu keduanya bergerak tiba-tiba. Dalam skala besar, itulah yang terjadi saat gempa besar, sedangkan dalam kasus ini, gelombang yang kembali berfungsi seperti dorongan halus pada patahan yang sudah berada di bawah tekanan tinggi akibat gempa utama.

Meskipun lebih lemah dibandingkan guncangan awal gempa, gelombang ScS tiba secara serentak di hampir seluruh wilayah Jepang. Dorongan yang terjadi bersamaan ini cukup untuk memicu pergerakan kecil di batas lempeng yang sudah tertekan. Secara total, energi yang dilepaskan dari pergerakan kecil ini setara dengan gempa berkekuatan 7,5 skala Richter, tetapi energi itu tersebar di wilayah yang sangat luas sehingga tidak menyebabkan guncangan tambahan yang parah.

Jika interpretasi ini benar, ini adalah contoh pertama pergerakan patahan dipicu oleh gelombang seismik yang memantul dari batas inti dan mantel bumi. Temuan ini membuka wawasan baru tentang kompleksitas bencana gempa bumi yang selama ini mungkin terabaikan.

Para peneliti menekankan bahwa hasil ini mengingatkan pentingnya mempertimbangkan bahaya seismik yang sebelumnya tidak dikenali. Wilayah pusat gempa dan sekitarnya masih berisiko mengalami pengaktifan kembali pergerakan tanah, bahkan puluhan menit setelah gempa utama terjadi.

Pengamatan lebih lanjut terhadap gempa-gempa besar lainnya diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini, sekaligus menyempurnakan pemahaman tentang bagaimana kekuatan alam bekerja jauh di dalam perut bumi.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |