Jakarta -
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan belum ada kasus virus Nipah ditemukan di Jakarta. Pramono meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta untuk tetap siaga mengantisipasi potensi penyebaran.
"Alhamdulillah sampai hari ini di Jakarta belum ditemukan yang terkena virus Nipah. Tapi saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan untuk segera mengantisipasi dan menangani itu," kata Pramono di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat,Selasa (3/1/2026).
Pramono mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri Kesehatan terkait virus Nipah. Ia berharap hal itu bisa memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan sistem kewaspadaan dini berjalan optimal, termasuk pemantauan kesehatan masyarakat dan kesiapan fasilitas layanan kesehatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap virus Nipah, penyakit zoonotik berbahaya yang dapat menular dari hewan ke manusia hingga antarmanusia. Virus ini dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menjelaskan bahwa penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar pemakan buah. Selain itu, penularan bisa terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta kontak erat dengan penderita.
"Penularan bisa terjadi dari hewan ke manusia dan juga antar manusia, terutama jika ada kontak erat," kata Ani saat dihubungi, Senin (2/2).
Ani menjelaskan, gejala awal infeksi virus Nipah umumnya berupa demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Namun, dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan hingga radang otak atau ensefalitis yang berpotensi fatal.
Untuk mencegah penularan, Dinkes DKI Jakarta mengimbau masyarakat agar menjaga kebersihan pangan, termasuk mencuci buah sebelum mengonsumsinya. Warga juga diminta menghindari kontak dengan hewan yang sakit serta tidak mengonsumsi buah yang terbuka, rusak, atau diduga terpapar gigitan kelelawar.
"Masyarakat juga diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala setelah melakukan kontak berisiko," ujar Ani.
(bel/ygs)

















































