Potret Korban Gempa Jepang Tanpa Listrik dan Air di Cuaca "Neraka"

3 hours ago 1

Gempa M7,1 membuat ribuan warga masih hidup tanpa listrik dan puluhan ribu rumah kehilangan air bersih di tengah cuaca panas hingga 35 derajat Celsius.

Sebuah keluarga menggunakan lampu dari mobil dan generator pribadi mereka, setelah gempa bumi di Uki, Jepang, 30 Juli 2026. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Sebuah keluarga mengandalkan penerangan dari lampu mobil dan generator pribadi di Kota Uki, Prefektur Kumamoto, Jepang, Kamis (30/7/2026), setelah gempa bumi melanda wilayah tersebut. Hingga Kamis malam, ribuan warga masih hidup tanpa aliran listrik, dua hari setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang menewaskan sedikitnya 25 orang serta merusak infrastruktur kelistrikan dan berbagai layanan dasar. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Seorang pria menggunakan lentera di sebuah rumah di desa tanpa aliran listrik, setelah gempa bumi di Uki, Jepang, 30 Juli 2026.

Lebih dari 2.000 rumah tangga dilaporkan masih mengalami pemadaman listrik. Kondisi tersebut semakin menyulitkan warga karena terjadi di tengah cuaca panas dengan suhu mencapai sekitar 35 derajat Celsius. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Tsugumi Shimada (3), putri Hirosuke Shimada, menggunakan kipas angin portabel di dalam tenda setelah gempa bumi berkekuatan 7,1 melanda prefektur Kumamoto selatan Jepang, di tengah pemadaman air di daerah tersebut selama gelombang panas, di Yatsushiro, Jepang, 30 Juli 2026. Khawatir akan gempa susulan, ia dan anggota keluarganya tinggal di tenda di depan rumah mereka.

Banyak warga terpaksa menghabiskan malam tanpa pendingin ruangan, sementara sebagian lainnya memilih berlindung di dalam mobil untuk menghindari suhu tinggi di dalam rumah. (REUTERS/Issei Kato)

Warga setempat menerima bantuan air akibat pemadaman air yang disebabkan oleh gempa bumi di pusat komunitas di Yatsushiro, Jepang, 30 Juli 2026.

Di Kota Yatsushiro, dampak gempa juga membuat sekitar 58.000 rumah tangga kehilangan akses air bersih. Rutinitas harian warga berubah drastis karena mereka harus mengandalkan stasiun distribusi air darurat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Pasokan air yang tersedia hanya cukup untuk kebutuhan dasar, sehingga warga tidak dapat mandi, menyiram toilet, maupun mencuci peralatan rumah tangga seperti biasa. (REUTERS/Issei Kato)

Yuka Shimada (45) mencuci piring di depan rumahnya setelah menerima bantuan air karena pemadaman pasokan air di daerah tersebut setelah gempa bumi berkekuatan 7,1 skala Richter melanda prefektur Kumamoto selatan Jepang, di tengah gelombang panas, di Yatsushiro, Jepang, 30 Juli 2026. Khawatir akan gempa susulan, ia dan anggota keluarganya tinggal di tenda di depan rumah mereka.

Salah satu keluarga yang terdampak, keluarga Shimada, kini memusatkan aktivitas sehari-hari pada pengelolaan persediaan air. Warga harus menggunakan air secara hemat di tengah cuaca panas dan kelembapan tinggi yang memperberat kondisi mereka selama proses pemulihan berlangsung. (REUTERS/Issei Kato)

Yusuke Hashimoto, 50 tahun, pemilik Sport Bar 44, membersihkan barang-barang yang rusak dan berserakan di barnya setelah gempa bumi, sementara pemadaman listrik dan air masih berlanjut di Uki, Jepang, 30 Juli 2026.

Perusahaan listrik Kyushu Electric Power menyatakan tim teknis masih bekerja memperbaiki jaringan yang rusak akibat gempa. Perusahaan menargetkan pasokan listrik ke seluruh wilayah terdampak dapat kembali normal pada Jumat (31/7/2026) malam.  (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Sebuah rumah dengan penerangan dari generator dan mobil, di bawah bulan purnama, setelah gempa bumi di Uki, Jepang, 30 Juli 2026.

Sementara itu, otoritas setempat terus melakukan pemulihan layanan dasar serta menyalurkan bantuan bagi warga yang terdampak bencana. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |