Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Pangan menjadi salah satu kunci kedamaian global sekaligus energi. Kekacauan sering dimulai karena kondisi pangan. Saat ini, pangan bisa menjadi senjata mematikan bagi mereka yang berkuasa terhadap pangan. Kekalahan Sultan Agung dalam perang melawan VOC dahulu karena lumbung pangan dibakar oleh VOC dan Sultan Agung kekurangan logisitik pangan.
Kasus era modern bisa dibaca ketika tahun 2016 Venezuela mengalami inflasi sampai level 65.000 %. Negara yang memiliki cadangan minyak terbesar dunia itu pun harus kolaps karena harga sepuluh butir telur harus ditebus dengan 650 juta rupiah yang dibawa dalam dua koper besar.
Jepang saat ini juga sudah merasakan, kenaikan harga BBM 20% membuat negara melepaskan cadangan minyak yang selama ini belum pernah dilakukan. Kenaikan harga BBM pasti akan memicu kenaikan harga pangan global.
Indonesia mulai ancang-ancang melakukan efisiensi APBN karena prediksi membengkaknya subsidi energi dan kemampuan fiskal yang mulai terganggu karena krisis akibat perang Iran dan Amerika Serikat (AS).
Belum ditambah fakta persediaan bahan baku pupuk nitrogen dan fosfat yang 30% pasokannya melewati Selat Hormuz saat ini terganggu. Di India, Afrika, AS, Eropa ketersediaan pupuk sudah terganggu karena perang Iran-AS. Lalu bagaimana posisi pangan dunia dalam kondisi perang ini?
Pangan saat ini: Lampu Kuning?
Sisi produksi pangan dunia sebenarnya cukup. Produksi beras dunia sekitar 525 juta ton beras, di mana sebanyak 90% dihasilkan dari kawasan Asia sebagai produsen beras dunia. Ada guncangan dalam hal manajemen terkait distribusi yang mengakibatkan kenaikan dan terkonsentrasi pangan di negara produsen.
Dampak perang Rusia-Ukraina mencatat kurang lebih 13 juta penduduk dunia mengalami ancaman kelaparan. Data FAO tahun 2022 menyebut rakyat Indonesia yang tidak mampu memenuhi gizi sekitar 183 juta jiwa dengan standar 69.000/hari.
Evaluasi kondisi pangan dalam program yang diprakarsai oleh PBB melalui FAO menyebut bahwa kondisi 10 tahun terakhir kondisi pangan dunia sedang tidak baik-baik saja. Tandanya? Kegagalan dunia dalam menekan angka kelaparan.
Program MDGs dan SDGs terkait pengurangan angka kelaparan 1 miliar penduduk gagal, pembangunan pertanian dan pemenuhan gizi dunia juga mengalami kontraksi sejak perang Rusia-Ukraina. Tekanan global pangan akibat perang Iran-AS membuat distribusi dan harga pangan diprediksi akan mengalami kenaikan kisaran 32%-40%, apalagi dari sembilan pangan strategis nasional, kita baru swasembada di Beras dan Jagung khusus konsumsi harian.
Sebanyak tujuh bahan pangan yang hampir 70%-80% kita harus impor, mulai dari gandum sebesar 11 juta ton/tahun, kedelai 2,5 juta ton/tahun, gula 3,1 juta ton/tahun, dan garam 550 ribu ton/tahun. Telur dan daging ayam kita surplus di kisaran 300 ribu ton/tahun. Artinya dengan data di atas kemungkinan guncangan krisis pangan akan tetap ada, tetapi khusus makanan pokok Indonesia masih mampu dan relatif aman karena kemampuan sendiri.
Kenaikan harga enam jenis pangan strategis dalam lima tahun terakhir menjadi peringatan. Sejak tahun 2020-2025, ada kenaikan rata-rata 32%, mulai dari beras naik 28,3%, kedelai 64,45%, daging sapi 16,3%, daging ayam 26,2%, gula konsumsi 27,5%, dan minyak goreng 34,6%. Rata-rata semua komoditas naik hampir 32%, kenaikan yang melebihi kemampuan daya beli dan pertumbuhan ekonomi rakyat kecil.
"Kelaparan" di Indonesia adalah kelaparan tersembunyi atau kekurangan mikronutrien yang mengakibatkan stunting di kalangan anak usia emas. Ada kurang lebih 19,8% penduduk kita mengalami stunting dengan sebaran terbesar di Jawa Barat (638.000), Jawa tengah (485.893), Jawa timur (430.780), Sumatera Utara (316.456), NTT (214.143) banten (209.600).
Tercatat sebanyak 1,7 juta balita yang mengalami akibat kekurangan pangan bergizi. Artinya kelaparan karena kekurangan gizi ini justru terjadi di daerah subur dan produksi pangan terbesar di Indonesia. Ini menandakan distribusi pangan sampai ke titik terkecil yaitu keluarga mengalami masalah.
Kekuatan Pangan Lokal
Dampak perang AS Iran akan menimbulkan guncangan pangan global, Indonesia harus bersiap dengan kekuatan sendiri agar mampu bertahan dan bahkan memiliki peran signifikan dalam percaturan pangan global. Semua memerlukan keberanian pemimpin bangsa untuk menerapkan kemampuan kita sendiri, kemampuan produksi lokal kita.
Ada tiga kunci utamanya. Pertama, pangan hasil produksi sendiri. Beras kita cukup lantaran ada 4 juta ton beras stok nasional yang cukup sampai tahun 2027. Sumber protein hewani bisa dari ayam dan ikan yang saat ini juga melimpah, bisa produksi sendiri dan harga ikan relatif terjangkau.
Budidaya satu kolam ikan lele dan ikan nila bisa memberikan nilai tambah ekonomis bagi keluarga. Bahkan telur bisa diusahakan dengan pelihara ayam sendiri, minimal 15 ekor sudah cukup untuk kebutuhan keluarga.
Sayur mayur bisa ditanam di pekarangan rumah. Bayam dan kangkung sudah cukup untuk kebutuhan harian. Gerakan pangan produksi sendiri harus diserukan oleh presiden, gubernur sampai level rumah tangga.
Kedua, Kembali ke pangan lokal, pangan masa depan dan pangan harapan. Pangan lokal sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pangan bukan semata komoditas. Pangan hakikinya adalah gizi yang memberikan nilai tambah bagi penguatan SDM saat ini.
Pangan lokal bisa berupa blue food atau pangan biru yang bersumber dari pesisir atau white food atau pangan putih yang berupa pangan tradisional. Ada 77 sumber karbohidrat, 75 sumber protein, 110 sumber rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis minuman.
Ini sudah lebih dari cukup jika peta pengembangan pangan lokal dioptimalkan oleh semua daerah dengan dorongan APBN/APBD sebesar 20% untuk fokus ketahanan pangan. Perlu keberanian politik pangan dan anggaran.
Ketiga, Bank Pangan Keluarga. Ide ini berangkat dari kasus pandemi Covid-19 2019 di mana kemampuan bertahan rakyat sangat kuat dengan spirit gotong-royong. Pangan kita cukup asal dikelola dengan baik, ada sampah makanan atau makanan sebanyak 23 juta ton per tahun hingga 48 juta ton per tahun senilai Rp 346 triliun hingga Rp 500 triliun setiap tahun.
Sampah makanan terbesar dari rumah tangga (35,26%) dengan penyebab utama perilaku konsumen/rakyat yang sering kelebihan makanan, porsi makanan terlalu banyak. Artinya makanan kita cukup banyak dan bahkan berlebih jika dikelola dengan baik. Perlunya Bank Pangan Keluarga untuk menjadi semacam "Bulog Keluarga" yang bersifat gotong royong antarkader dan lingkungan jika terjadi krisis pangan.
Indonesia tidak perlu panik berlebihan terhadap kondisi pangan dunia. Produksi utama pangan nasional ada di dapur sendiri, rakyat masih mampu bertahan dengan hanya memiliki beras dan sepotong lauk tempe atau telur. Saatnya kembali ke produksi sendiri, budayakan pangan lokal, gotong royong pangan untuk hadirkan pangan berkualitas di tengah perang global yang tidak pasti.
(miq/miq)
Addsource on Google


















































