Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan Timur Tengah kini tengah menghadapi ancaman ekologis paling mengerikan dalam sejarah modern. Sistem kembar Sungai Eufrat dan Tigris-yang menjadi urat nadi dan sumber kehidupan peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu-dilaporkan mulai lenyap dan diprediksi akan mengering total pada tahun 2040 mendatang.
Fenomena mengkhawatirkan ini sejalan dengan peringatan yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu mengenai tanda-tanda akhir zaman.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW secara spesifik bersabda: "Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas sehingga manusia menjadi saling berperang dan saling membunuh untuk mendapatkannya." (HR. Muslim No. 2894).
Secara ilmiah, ancaman mengeringnya sungai yang membelah Turki, Suriah, hingga bermuara di Irak ini bukanlah isapan jempol belaka. Laporan resmi dari Kementerian Sumber Daya Air setempat serta berbagai studi ilmiah internasional mengonfirmasi bahwa debit air di sistem sungai Eufrat-Tigris telah menyusut hampir setengahnya hanya dalam beberapa dekade terakhir.
Nasib 60 Juta Jiwa dan Ambruknya Mesopotamia
Wilayah di antara kedua sungai ini secara historis dikenal sebagai Mesopotamia (sekarang sebagian besar wilayah Irak). Wilayah ini merupakan tempat lahirnya kota-kota pertama di dunia, seperti Uruk dan Babilonia, berkat tanahnya yang sangat subur dan kondisi yang ideal untuk pertanian.
Namun, hantaman kiamat iklim, kenaikan suhu bumi yang ekstrem, serta penurunan curah hujan yang drastis memaksa wilayah subur ini berubah menjadi tanah kering nan tandus. Berdasarkan data citra satelit, kawasan ini telah kehilangan sekitar 144 kilometer kubik air tawar dalam rentang waktu sepuluh tahun saja.
Krisis ini menjadi alarm bahaya berskala masif bagi stabilitas kawasan. Parahnya, tercatat ada sekitar 60 juta orang di Turki, Suriah, dan Irak yang menggantungkan seluruh aspek kehidupan mereka pada aliran sungai ini-mulai dari akses air minum, sektor pertanian, hingga pasokan energi lewat pembangkit listrik.
Jika tren penurunan debit air ini terus berlanjut tanpa ada solusi ekstrem, hancurnya ekosistem ini diproyeksikan tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, melainkan juga menyulut konflik geopolitik baru akibat perebutan akses air bersih yang kian langka di masa depan.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































