Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria memastikan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pengurangan jumlah karyawan selama proses transformasi dan streamlining BUMN. Justru, perbaikan struktur BUMN diharapkan mampu menyehatkan kembali kondisi bisnisnya sehingga pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi para pekerja di perusahaan tersebut. "Ini tentu saya boleh sampaikan kepada seluruh karyawan kita bahwa transformasi ini pada akhirnya bagi saya, transformasi ini adalah untuk karyawan. Kalau perusahaannya sehat, perusahaannya kuat, perusahaannya tumbuh, manfaatnya tentu diterima oleh karyawan. Karena itu tidak usah terlalu khawatir, tidak usah khawatir," kata Dony dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Kamis (27/8/2026). Menurutnya, efisiensi dari proses streamlining ini kurang lebih menghasilkan sekitar Rp 70 triliun hingga akhir tahun. Salah satu sumber efisiensi berasal dari penghapusan transaksi antarperusahaan atau inter-company transaction yang selama ini membuat biaya di dalam ekosistem BUMN menjadi lebih mahal. "Tadi Rp 20 triliun nya direct loss-nya yang otomatis hilang, Rp 30 triliun nya inter company transactionnya. Nanti kalau saya elaborate itu panjang sekali ceritanya. Contoh misalkan, kita Indihome itu untuk mengorder fiber optic, memasangkan fiber optic itu dia harus lewat kepada Telkom induk," jelasnya.
Dirinya bilang, rantai transaksi tersebut membuat biaya yang ditanggung BUMN menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan kompetitor, mengingat setiap perusahaan yang terlibat ingin mengambil keuntungan margin. Di samping itu, Dony juga menyoroti soal hasil penggabungan usaha atau merger di BUMN seperti PT Pertamina (Persero). Ia menilai, langkah tersebut berdampak positif terhadap laba lantaran transaksi antar perusahaan dapat ditekan. Bukan hanya itu, pengurangan jumlah komisaris dan direksi BUMN turut menghasilkan efisiensi. Dony melanjutkan, transformasi turut digencarkan Danantara dengan catatan mempertimbangkan kondisi perusahaan dan para pekerja di dalamya. Ia mengambil contoh pada PT Pos Indonesia yang telah berdiskusi dengan serikat pekerja mengenai kondisi perusahaan dan langkah perbaikan yang diperlukan. "Serikat pekerja juga memahami bahwa inilah fakta perusahaan yang terjadi dan mari kita perbaiki kondisinya supaya ke depan karyawan mendapatkan manfaat lebih baik," terang dia. Tak ketinggalan, Danantara juga melakukan transformasi di sektor farmasi yang meliputi PT Kimia Farma dan PT Indofarma. Hal ini dilakukan mengingat Kimia Farma sempat dihadapkan oleh masalah finansial akibat investasi besar yang tidak diimbangi tingkat utilisasi dan pengembalian investasi yang memadai.
Melihat itu, Danantara memilih langkah restrukturisasi dengan mengganti manajemen, memperbaiki sistem teknologi informasi di Kimia Farma Apotek, restrukturisasi utang, sekaligus memberikan suntikan modal kepada Kimia Farma Holding. Pada akhirnya, upaya tersebut terlihat sudah mulai membuahkan hasil lantaran Kimia Farma mampu mencatatkan keuntungan tahun ini. Kendati begitu, Dony mengakui bahwa tidak seluruh perusahaan BUMN bisa diselamatkan. Dalam hal ini, ia mencontohkan Indofarma yang dinilai memiliki skala bisnis terlalu kecil, kapasitas produksi terbatas, minim produk unggulan, serta kondisi utang dan aset yang tidak lagi seimbang. Asal tahu saja, Danantara telah memiliki sejumlah parameter untuk menentukan BUMN mana saja yang masih layak diselamatkan atau harus masuk proses likuidasi. Dony menyebutkan proses penyelamatan BUMN akan dilakukan secara bertahap karena terdapat ribuan perusahaan dan entitas yang perlu ditangani.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]


















































