China Gempur Amerika, The Fed Sampai NASA Jadi Sasaran Utama

3 hours ago 1

JAKARTA, CNBC INDONESIA - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China di medan tempur digital kian memanas. Pemerintah AS mengatakan jaringan spionase siber asal China secara agresif menyerang AS, khususnya instansi-instansi paling vital, termasuk NASA, Departemen Kehakiman (DOJ), Federal Reserve (The Fed), dan Senat.

Kendati demikian, Washington mengklaim berhasil melumpuhkan jaringan peretas asal China tersebut. Dalam operasi gabungan penegakan hukum, DOJ sukses menyita domain dari dua platform peretasan utama, yakni QScan dan QTRouter, yang digunakan sebagai motor penggerak kampanye spionase tersebut, dikutip dari Reuters, Kamis (27/8/2026).

NASA dan Infrastruktur Strategis Jadi Incaran

Berdasarkan dokumen afidavit pengadilan, sindikat peretas asal China ini tidak main-main dalam memilih target. Mereka secara sistematis membidik jantung pertahanan, riset antariksa, hingga lembaga riset medis AS, dengan NASA menjadi salah satu target utama yang berulang kali disusupi.

Rekam jejak serangan mencatat beberapa aksi krusial yang menyasar lembaga-lembaga paling sensitif di AS:

  • Sasaran NASA (Agustus 2019): Sindikat peretas melancarkan upaya penyusupan berintensitas tinggi ke jaringan internal NASA dengan memanfaatkan celah kerentanan pada virtual private network (VPN). Meskipun saat itu berhasil dipatahkan, serangan ini menunjukkan ambisi Beijing untuk mencuri teknologi kedirgantaraan rahasia milik AS.

  • Jaringan Pertahanan dan Lab Riset (September 2024): Para peretas sukses menerobos sistem keamanan di tiga laboratorium riset milik Departemen Energi AS, yang kerap berkaitan dengan teknologi nuklir dan pertahanan-serta sejumlah produsen perangkat keamanan strategis.

  • Kontraktor Pertahanan (Mei 2024): Laporan intelijen gabungan dari FBI, NSA, dan Komando Siber AS mengonfirmasi adanya pencurian data sensitif secara masif dari sejumlah kontraktor pertahanan utama AS.

Diotaki Perusahaan Swasta Bayaran China

Pihak DOJ membeberkan bahwa platform serangan siber tersebut dioperasikan oleh perusahaan swasta asal China, Nanjing Xinjiuwei Network Technology Company. Perusahaan ini diduga kuat bertindak sebagai kontraktor bayaran yang menjalankan misi kotor bagi badan intelijen sipil China, Kementerian Keamanan Negara (MSS), serta militer mereka, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Para pengamat keamanan siber menilai bahwa penggunaan kontraktor swasta kini menjadi strategi andalan Beijing untuk menutupi jejak spionase tingkat tinggi.

"Selama dekade terakhir, jumlah perusahaan yang menawarkan layanan serangan siber khusus telah melonjak pesat," ungkap Dakota Cary, analis China dari firma keamanan siber SentinelOne.

Meski pemerintah China melalui Kedubesnya di Washington konsisten membantah keterlibatan dan mengecam tuduhan AS sebagai bentuk politisasi keamanan nasional, eskalasi serangan siber yang terus berulang membuktikan bahwa perang dingin di dunia maya kini telah bergeser menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan teknologi global.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |