Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria buka-bukaan soal alasan mengapa BUMN Karya mengalami banyak persoalan. Padahal dulu kata Dony, BUMN Karya memiliki banyak modal.
Ia bercerita, ternyata ada masanya BUMN Karya gencar melakukan ekspansi di berbagai sektor di luar konstruksi seperti fiber optik, air, properti, hotel, hingga jalan tol.
Tren ekspansi tersebut akhirnya membuat perusahaan BUMN Karya tidak lagi fokus mengembangkan bisnis intinya.
Melihat hal itu, Danantara bakal membenahi proses konsolidasi dan transformasi BUMN Karya, sehingga mereka bisa kembali fokus menjalani bisnis kontraktor.
"BUMN karya ini dulu, mungkin karena cash-nya banyak. Mereka kemudian ada temptation untuk membangun bisnis-bisnis di luar daripada core-nya. Soalnya bisa bayangkan bahwa karya kita ini punya bisnis fiber optic, punya water, punya property, punya hotel, punya jalan tol, ada yang punya macam-macam bisnisnya yang lari daripada core-bisnis sebagai kontraktor. Ini satu-satu kita lakukan pembersihan pasca daripada konsolidasi karya ini, transformasi karya ini," ujar Dony dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Kamis (27/8/2026).
Dony Oskaria menuturkan, sejauh ini upaya transformasi BUMN Karya sendiri belum terealisasi sepenuhnya lantaran skala perbaikan yang dibutuhkan cukup besar. Terlebih lagi, dari 7 perusahaan BUMN Karya yang dikelola Danantara, hanya tiga perusahaan saja yang dinilai berada dalam kondisi keuangan sehat, yakni PT Nindya Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Hutama Karya. Sementara sisanya menghadapi persoalan finansial yang cukup dalam.
Oleh karena itu, Danantara tidak ingin perbaikan BUMN Karya hanya bersifat sementara. Lebih dari itu, Danantara hendak membangun kembali fundamental dan peta jalan bisnis perusahaan BUMN Karya.
"Walaupun ini sedang kami upayakan untuk melakukan perbaikan, tetapi sekali lagi, saya tidak mau melakukan perbaikan yang sifatnya itu temporary. Bagi kami itu tidak bisa, tidak boleh melakukan perbaikan yang sifatnya temporary untuk moles-moles, bukan itu yang kita ingin lakukan," ujar Dony.
Maka dari itu, lanjut Dony, salah satu skenario yang tengah dipertimbangkan Danantara adalah konsolidasi jumlah perusahaan BUMN Karya. Untuk ke depannya, Danantara menginginkan hanya ada tiga perusahaan BUMN Karya yang beroperasi. Sebab, semakin banyak perusahaan dengan kondisi keuangan bermasalah, maka risiko akan semakin meningkat sehingga sulit bagi perusahaan tersebut menghasilkan nilai tambah optimal.
Dony juga menyebut, persoalan BUMN Karya tidak hanya berada di level induk usaha, melainkan juga terjadi pada anak perusahaan. Oleh sebab itu, proses perbaikan BUMN Karya harus dilakukan satu per satu.
"Dan dampaknya ini juga kita pikirkan. Karena tidak hanya kita berpikir hanya finansialnya saja yang selesai," ungkap dia.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]


















































