Jakarta -
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan terkait gempa berkekuatan magnitudo (M) 7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga pukul 14.00 WIB tadi, BMKG mencatat sebanyak 235 kali gempa bumi susulan (aftershocks).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real time. Menurutnya, berdasarkan histori dan karakteristik wilayah itu, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.
"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya," kata Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, BMKG mengonfirmasi pemutakhiran data gempa tektonik dangkal itu menjadi M 7,7 dengan kedalaman 15 km. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian secara cepat dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya dalam waktu 2 menit 16 detik pascagempa utama.
Petugas pemantau kemudian memutakhirkan peringatan dini tsunami setelah parameter gempa stabil dan presisi 10 menit setelahnya. Guncangan gempa itu sempat memicu gelombang tsunami yang menerjang beberapa kawasan pesisir.
Kemudian, BMKG menguji sistem running model multi-skenario dan membagi status ancaman ke dalam kategori 'Siaga' (potensi tinggi 0,5 meter hingga 3 meter) serta 'Waspada' (ketinggian di bawah 0,5 meter).
Jaringan observasi muka air laut mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter. BMKG resmi mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut mengonfirmasi kondisi air laut telah aman kembali.
Faisal menjelaskan bahwa gempa bumi ini tergolong jenis gempa bumi dangkal yang timbul akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust).
Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa M 7,8 pada kedalaman 28 km yang melanda kawasan tersebut pada tahun 1992. Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal, sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan peta intensitas guncangan, BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa, Kabupaten Nagekeo; Riung, Kabupaten Ngada; Kota Ambai, serta hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae, Nagekeo dan Kota Bajawa. Sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan sekitarnya.
Guna mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim ahli untuk mengelola survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis. Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT menyisir wilayah Ngada, Nagekeo, dan titik-titik rawan lainnya di Pulau Flores.
Survei mikro-analisis ini bertujuan mengukur jenis tanah dan respons terhadap gempa bumi. BMKG akan langsung menyerahkan hasil analisis lapangan tersebut kepada stakeholder sebagai rujukan teknis utama dalam meletakkan dasar rekonstruksi maupun penguatan struktur bangunan tahan gempa.
BMKG mengimbau masyarakat untuk senantiasa mempercayai data rujukan resmi yang bersumber dari jaringan nasional yang ditopang oleh lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf khusus di seluruh Indonesia.
BMKG terus memperkuat koordinasi dan memberikan dukungan penuh di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, TNI-Polri, serta pemerintah daerah. BMKG meminta masyarakat untuk tidak terpancing oleh hoaks yang tidak bertanggung jawab, tetap menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan, serta aktif mengonfirmasi pemutakhiran informasi kebencanaan melalui kanal resmi BMKG.
(fas/jbr)


















































