Jakarta, CNBC Indonesia - Dua raja teknologi dunia, Apple dan Intel, akhirnya bersatu. Hal ini diungkap resmi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Trump, melalui unggahan di platform Truth Social, mengumumkan bahwa Apple telah menyepakati kerja sama dengan Intel untuk merancang dan memproduksi chip di Amerika Serikat.
Dalam unggahan tersebut, ia juga menuding para pemimpin AS sebelumnya membiarkan industri semikonduktor berpindah ke luar negeri.
"Presiden-presiden yang bodoh menganggap ekonomi kita akan baik-baik saja dan membiarkan Taiwan serta negara lain mencuri pabrik semikonduktor kita," tulis Trump, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (19/6/2026).
"Apple telah setuju bekerja sama dengan Intel untuk merancang dan membangun chip mereka di Amerika," lanjutnya.
Kabar tersebut langsung disambut positif oleh pasar. Saham Intel sempat melonjak 10% dan terakhir tercatat naik 8,8% pada perdagangan pra-pasar. Sementara itu, saham Apple menguat tipis 0,3%.
Reli saham Intel dalam setahun terakhir terbilang luar biasa. Setelah bertahun-tahun kehilangan dominasi di industri chip dan menghadapi berbagai tantangan bisnis, saham perusahaan itu telah melesat 464% dalam 12 bulan terakhir. Kapitalisasi pasarnya kini mencapai US$608,7 miliar.
Hingga kini, Intel, Apple, Gedung Putih, maupun Kantor Perwakilan Taipei di Inggris belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir, Intel relatif tertinggal dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterlambatan manufaktur hingga kesulitan mendapatkan pelanggan besar untuk bisnis fabrikasi chip atau foundry yang mereka bangun.
Namun kondisi itu mulai berubah setelah Lip-Bu Tan mengambil alih posisi CEO pada awal tahun lalu. Di bawah kepemimpinannya, Intel kembali menarik perhatian investor Wall Street setelah berhasil mendapatkan dukungan investasi dari Nvidia dan pemerintahan Trump.
Trump mengatakan dirinya sengaja membantu Intel karena ingin produksi chip kembali dilakukan di dalam negeri.
"Saya memutuskan membantu Intel karena kita harus merancang dan membangun chip kita di sini, di Amerika," kata Trump.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah lebih dulu mendorong kerja sama Intel dengan Nvidia.
"Pertama, kami membantu menghadirkan Nvidia, dan mereka setuju membangun chip tingkat pertama mereka bersama Intel," ujar Trump.
Trump kemudian menambahkan bahwa Elon Musk juga berkomitmen membangun proyek pabrik chip raksasa bersama Intel.
"Berikutnya, Elon setuju membangun TerraFab miliknya, pabrik chip terbesar di dunia, yang dirancang bersama tim teknologi Intel," tambahnya.
Proyek TerraFab menjadi komitmen eksternal besar pertama bagi bisnis foundry Intel yang selama ini lebih banyak memproduksi chip untuk kebutuhan produknya sendiri.
Di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global dan mendorong harga minyak melonjak, saham-saham terkait AI sejauh ini masih menunjukkan ketahanan kuat.
Demam AI yang terus berlangsung membuat investor tetap memburu saham perusahaan teknologi, khususnya yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur AI seperti produsen chip.
Hal itu tercermin dari kinerja indeks PHLX Semiconductor Sector Nasdaq yang berisi 30 perusahaan chip terbesar yang diperdagangkan di AS. Sepanjang tahun ini, indeks tersebut melonjak sekitar 90%.
(fab/fab)
Addsource on Google

















































