Pendekatan Ipda Motalip Bangun Kepercayaan Warga di Tanah Nduga

3 hours ago 3

Jakarta - Kasat Samapta Polres Nduga, Polda Papua, Ipda Motalip Litiloly, dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat. Kedekatan dengan warga ini membuat Ipda Motalip lebih mudah meredam konflik antarsuku yang sering terjadi di Nduga.

Atas aksinya itu, Ipda Motalip diusulkan oleh sejumlah warga untuk Hoegeng Awards 2026. Salah satu pengusul adalah Iksana Murib, berikut usulannya:

Saya mengajukan sosok tersebut karena beliau adalah salah satu anggota kepolisian yang sangat ramah dan peduli dengan masyarakat. Beliau juga merupakan tokoh yang patut untuk dicontoh dalam keberaniannya dalam mengatasi konflik-konflik berbahaya yang sering terjadi di Kabupaten Nduga.

detikcom kemudian bertanya kepada Iksana mengenai usulannya. Dia memaparkan salah satu konflik yang berhasil diredam oleh Ipda Motalip adalah konflik suku akibat pemilihan DPRD Nduga 2024.

"Saya kan seorang guru di Kenyam. Kemarin tahun 2024 itu sempat terjadi konflik toh, perang suku. Bapak Talip itu langsung terjun ke lapangan. Meskipun mereka lagi perang, tapi Bapak Talip di situ, bagaimana caranya konflik itu tidak terjadi. Kami menyaksikan bagaimana beliau punya perjuangan," kata Iksana kepada detikcom, Jumat (27/3/2026).

Iksana mengatakan mayoritas masyarakat Nduga kenal dengan sosok Motalip. Bahkan warga memanggil Motalip dengan panggilan akrab Pak Salib.

"Dipanggil Salib itu karena memang ada banyak konflik, tapi beliau bagaimana pendekatan dengan masyarakat, jadi penengah antara kepolisian dengan masyarakat. Pokoknya kalau Nduga, kalau orang ngomong Pak Talip, semua orang kabupaten Nduga, kecil besar anak SD, SMP, tahu Pak Talip itu siapa," kata Iksana.

Ipda Motalip juga dikenal sebagai sosok yang suka membantu masyarakat Nduga. Bahkan warga sempat menolak dan demo ketika Motalip dimutasi.

"Cara dia berkomunikasi dan cara dia beradaptasi dengan kami, dia beda dengan polisi-polisi yang lain. Maksudnya, kalau Pak Talip itu betul-betul... di Nduga kan daerah konflik, jadi di Nduga banyak polisi yang takut juga, tapi Pak Talip ya tidak kayak gitu, dia kayak macam punya kepribadian yang beda, dari sisi keamanan," ucap dia.

Ipda Motalip LitilolyIpda Motalip Litiloly Foto: dok. Istimewa

Dhias Suwanti juga mengusulkan Ipda Motalip untuk Hoegeng Awards. Dhias adalah seorang wartawan di Jayapura yang sempat membuat artikel tentang sosok Ipda Motalip.

"Dia itu kan awal tugas dari mulai... di Nduga itu belum ada Polres, masih Pospol, Pak Talip itu termasuk salah satu yang awal ditempatin di situ. Kebetulan orang-orang penting di Nduga itu, sebelumnya banyak di Wamena, di Kabupaten Jaya Wijaya, Pak Talip sebelumnya tugas di situ, jadi dengan tokoh masyarakat itu sudah kenal," kata Dhias.

Atas kedekatan Ipda Motalip dengan tokoh masyarakat Nduga itu membuat dirinya diminta untuk mengisi Pospol di Nduga. Awalnya, warga sempat khawatir dengan kehadiran Motalip.

"Cuma waktu pertama kali Pak Talip masuk ke Nduga itu, di Nduga kan masyarakatnya punya trauma militerlah, istilahnya. Jadi kalau ketemu aparat macam sinis atau menghindar. Awalnya Pak Talip masuk ke Nduga gitu," jelas dia.

"Cuma akhirnya setelah dia tanya ke tokoh-tokoh yang dia kenal itu akhirnya dikasih tahu, jangan kalau ketemu masyarakat itu bawa senjata. Pak Talip ngikutin gitu dia nggak bawa senjata ke mana-mana, kalau ada masyarakat kedukaan datang dia bawa bantuan," jelas dia.

Dhias menyebut Ipda Motalip membutuhkan waktu 2 tahun hingga akhirnya bisa dekat dengan warga. Hingga saat ini, warga meminta agar Motalip tetap ditugaskan di Nduga.

"Kalau ada apa-apa di Polres itu tetap Pak Talip dicari. Pak Talip itu sudah 2 kali dimutasi dari Nduga, tapi masyarakat selalu demo dan minta Pak Talip dikembalikan," kata Dhias.

Cara Ipda Motalip Dekatkan Diri dengan Warga

Ipda Motalip juga menjadi salah satu kandidat yang diusulkan pada program Hoegeng Corner 2025. Sejak awal ditugaskan, Ipda Motalip memegang prinsip bahwa warga Nduga adalah keluarganya yang harus dilindungi dan dilayani.

Motalip berdinas di Nduga sejak tahun 2012. Saat itu dia ditugaskan sebagai Kepala Pos Pembangunan Nduga.

"Waktu kami penugasan di Nduga itu kan dari tahun 2012, pada saat itu ada kejadian salah satu anggota DPRD Fraksi PAN meninggal 10 Juni 2012, kalau nggak salah," kata Motalip dalam program Hoegeng Corner, Jumat (24/10/2025).

Kasus meninggalnya Anggota DPRD Paulina Ubruangge itu membuat situasi tidak kondusif. Motalip kemudian ditugaskan ke lokasi untuk mengamankan. Motalip ditunjuk Kapolres Wamena sebagai Kepala Pos Polisi Pembangunan Nduga yang baru saja dibentuk.

"Waktu itu Pak Kapolres panggil saya ke kediaman tanggal 13 hari Minggu, hari itu itu juga berangkat ke Nduga. Saya bilang 'Komandan, mohon maaf, Nduga itu beda dengan daerah lain, mohon izin kalau bisa ada perwira yang mendukung, karena saya bawa pasukan, harus ada salah satu perwira yang mendukung, pangkat saya waktu itu Brigadir junior kalau nggak salah'," jelasnya.

Ipda Motalip LitilolyIpda Motalip Litiloly Foto: dok. Istimewa

Ipda Motalip mengatakan dia ditunjuk sebagai Kepala Pos Polisi Pembangunan atas permintaan langsung Bupati Nduga pada saat itu Yairus Gwijangge dan juga atas permintaan tokoh masyarakat. Motalip sebelumnya telah mengenal dua orang tersebut.

"Setelah itu Pak Kapolres bilang 'Bupati yang perintahkan kamu ke sana, termasuk kepala suku yang minta kamu harus berangkat ke Nduga'. 'Oh siap, tapi dengan catatan saya pilih orang-orangku', 'silakan'. Ya udah saya pilih orang-orangku," jelasnya.

Ipda Motalip bersama lima anggota kepolisian lainnya berangkat ke Nduga dengan pesawat. Setiba di Distrik Kenyam, dia langsung disambut oleh tokoh adat.

"Alhamdulillah sampai di Bandara ada kepala suku juga menjemput, saya kaget, (sekarang) sudah meninggal almarhum kepala suku Ruben, salah satu tokoh di kabupaten juga. Di situlah pemerintah sudah siapkan kami satu tempat yaitu rumah dinas asisten satu dan asisten dua, dijadikanlah untuk Pos Pembangunan," ucap dia.

Ipda Motalip kemudian berkomunikasi dengan pihak almarhum Anggota DPRD yang meninggal dunia. Sebab pihak keluarga saat itu protes atas kemudian almarhumah hingga menimbulkan keributan.

"Saya sampai, saya komunikasi dengan pihak almarhumah Ibu Paulina mereka punya keluarga, mereka bawa panah, apa semua, mau palang bandara. Pertama saya cerita mereka, almarhumah Ibu Paulina menjadi DPR kita sudah kenal, karena tetangga rumahnya di Wamena, akhirnya sering komunikasi," tutur dia.

Setelah berkomunikasi dengan Ipda Motalip, pihak keluarga meminta 3 tuntutan. Motalip menyetujui dan menyampaikan ke Bupati Nduga saat itu.

"Akhirnya saya bawa tiga tuntutan, yang pertama itu, almarhumah punya pekerjaan kecil pembangun selokan di bandara, pas beliau meninggal itu dihentikan, mereka minta yang pertama itu yang dilanjutkan pekerjaannya oleh keluarganya," ucap dia.

"Yang kedua almarhumah ini kan punya suami calon bupati juga, karena dia kalah tahun 2011 itu, akhirnya pihak almarhumah itu minta kalau bisa iparnya mereka yang meninggal itu diangkat sebagai bergabung kembali dengan pemerintahan Pak Bupati. Yang ketiga, mereka minta pembangunan di Kenyam dipercepat, itu saja yang mereka minta," ucap dia.

Pada awal berdinas di Nduga, berbagai tantangan dihadapi Ipda Motalip untuk mendekatkan diri dengan warga. Saat berpapasan di jalan, warga selalu menghindar dan hanya diam saat disapa.

"Kemudian saya tanya tokoh masyarakat, saya tanya 'Bapak ini masyarakat Nduga kenapa saya sapa mereka, mereka lihat kita jauh mereka menghindar, kalau kita lewat depan mereka, mereka nunduk, sudah lewat baru lihat kita'," kata Motalip.

"Bapak bilang 'Orang Nduga masih trauma dengan kejadian penyanderaan '96, mereka trauma kalau lihat aparat TNI/Polri yang berseragam dan pegang senjata, mereka trauma tidak mau lihat muka kita'. Tokoh masyarakat sampaikan ke saya 'Adik, kalau kau ketemu mereka tidak usah bawa senjata'. 'Amankah?', 'aman, lihat senjata itu mereka takut'," ucap dia.

Sejak saat itu, Ipda Motalip tidak mengenakan seragam saat berkeliling ke warga sekitar. Dia juga tidak membawa senjata.

"Dari situlah saya mulai perhatikan mereka, saya jarang pakai baju dinas, kalau ada masalah baru saya pakai baju dinas, kalau saja jalan sehari-hari saya pakai baju preman sudah kalau jalan ke masyarakat," jelasnya.

Perlahan warga mulai terbuka dengan kehadiran Ipda Motalip dan anggotanya. Motalip pun sering berkunjung ke rumah warga.

"Dari situlah saya ke rumah-rumah mereka, bawa kopi, gula, rokok. Padahal zaman dulu saya tidak merokok, tapi karena situasional, sudahlah saya merokok. Rokok sama-sama dengan mereka, minum kopi, temani mereka depan kios, jalan ke mana-mana," ucap dia.

Simak juga Video 'Mimpi Polisi Berdedikasi Hoegeng Awards Bertemu Kapolri Jadi Nyata':

(lir/knv)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |