Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menarik utang baru untuk pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) jauh lebih tinggi dari realisasi defisit APBN 2025.
Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengatakan, nominal realisasi pembiayaan anggaran sebesar Rp 744 triliun, atau 102,8% dari target pembiayaan anggaran 2025 sebesar Rp 616,2 triliun.
Padahal realisasi defisit APBN 2025 sebesar Rp 695,1 triliun atau 2,92% dari PDB, juga lebih tinggi dari target yang ditetapkan dalam UU APBN 2025 sebesar Rp 616,2 triliun atau 2,53% dari PDB.
"Pembiayaan APBN total realisasi 31 Desember Rp 744 triliun," ucap Thomas saat konferensi pers APBN, Kamis (8/1/2026).
Realisasi pembiayaan anggaran yang jauh lebih tinggi dari realisasi defisit itu membuat terjadinya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran atau SiLPA senilai Rp 48,9 triliun, lebih tinggi dari catatan pada 2024 sebesar Rp 45,7 triliun.
Adapun untuk komposisi realisasi pembiayaan anggaran itu terdiri dari pembiayaan utang atau penarikan utang baru sebesar Rp 736,3 triliun. Realisasi itu sekitar 94,9% dari target dalam APBN 2025 sebesar Rp 775,9 triliun.
Lalu, ditambah dengan pembiayaan non utang yang terealisasi Rp 7,7 triliun, atau jauh lebih tinggi dari target dalam APBN yang seharusnya minus atau menjadi pengurang total pembiayaan utang sebesar Rp 159,7 triliun.
Foto: Materi paparan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan konferensi Pers APBN KITA Edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/ Kementerian Keuangan RI)
Materi paparan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan konferensi Pers APBN KITA Edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/ Kementerian Keuangan RI)
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]


















































