Pedagang Ungkap Beras Premium Makin Langka, Bisa Jadi Ini Penyebabnya

5 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (KOPIC) Dedy, mengklaim stok beras premium semakin langka di pasaran dan harganya terus merangkak naik, karena produsen beras kini memilih beralih memproduksi beras khusus atau beras fortifikasi yang dinilai lebih menguntungkan.

Hal itu, katanya, karena produsen beras kini kesulitan menjual beras premium sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) karena harga gabah sebagai bahan baku terus meningkat.

"Sepengetahuan saya Bulog mau memproduksi beras SPHP yang premium, mungkin ini dampak dari kekosongan beras premium di tingkat ritel. Karena banyak produsen beras tidak mampu lagi menjual di tingkat ritel yang harganya dipatok Rp14.900 per kg. Jelas ini sangat beralasan karena mereka mendapatkan bahan dasarnya (gabah) mahal," kata Dedy kepada CNBC Indonesia.

Pandangan tersebut sejalan dengan analisis Pengamat Pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh berkurangnya pasokan beras premium di tengah lonjakan harga gabah yang membuat produsen beralih memproduksi beras fortifikasi.

Eliza menilai, harga gabah yang terus meningkat membuat margin keuntungan produsen beras premium semakin tipis. Di sisi lain, produsen juga terbentur aturan harga eceran tertinggi (HET), sehingga ruang untuk menaikkan harga menjadi terbatas.

"Sekarang para penggilingan besar beralih memproduksi lebih banyak beras fortifikasi karena harga gabahnya sudah tinggi," kata Eliza dihubungi terpisah, Rabu (22/7/2026).

Penjualan beras premium di sejumlah gerai ritel modern terpantau masih langka hingga Selasa (2/9/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Penjualan beras premium di sejumlah gerai ritel modern terpantau masih langka hingga Selasa (2/9/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Penjualan beras premium di sejumlah gerai ritel modern terpantau masih langka hingga Selasa (2/9/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Ia menjelaskan, pergeseran tersebut merupakan keputusan bisnis yang wajar karena beras fortifikasi dinilai memberikan nilai tambah dan keuntungan yang lebih besar dibandingkan beras premium.

"Karena harga gabah sudah mahal saat ini, produsen lebih memilih memproduksi fortifikasi daripada premium karena produksi premium marginnya kecil banget, sementara harga bahan bakunya itu gabah sudah naik, sementara produsen nggak bisa menaikkan harga karena ada aturan HET," jelasnya.

"Pada dasarnya, perusahaan kan memaksimalkan profit. Jika insentif untuk memproduksi premium kurang, maka mereka akan beralih memproduksi yang lebih menguntungkan," sambung dia.

Akibat pergeseran produksi tersebut, pasokan beras premium di pasar menyusut sehingga membuat produk tersebut semakin sulit diperoleh. Menurut Eliza, konsumen yang sebelumnya membeli beras premium kini mulai beralih ke beras fortifikasi.

"Supply-nya berkurang. Konsumen menengah atas kan karena daya belinya tinggi, ketika premium tidak ada ya beralih ke fortifikasi," tutur Eliza.

Selain dipengaruhi pergeseran produksi, Eliza mengatakan kenaikan harga gabah juga terjadi seiring mulai menurunnya produksi setelah musim panen kedua. Produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni 2026 tercatat sebesar 4,19 juta ton, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,92 juta ton. Sementara itu, harga gabah di Lampung dan Jawa Timur telah berada di kisaran Rp7.600-Rp8.000 per kilogram (kg).

Di saat yang sama, Perum Bulog masih terus menyerap gabah petani untuk memenuhi target stok cadangan beras pemerintah (CBP). Kondisi tersebut membuat Bulog bersaing dengan korporasi dalam memperoleh gabah, sementara penggilingan kecil dan menengah semakin kesulitan mendapatkan bahan baku karena keterbatasan modal.

Eliza menambahkan, kondisi ini juga berdampak pada masyarakat kelas menengah yang daya belinya sedang tertekan. Ketika harga beras premium terus naik atau sulit diperoleh, sebagian konsumen terpaksa menurunkan pilihan ke beras medium atau mengurangi konsumsi beras.

"Betul (masyarakat menengah yang daya belinya lesu akan semakin berat membeli beras premiu). Namun, karena bahan pokok ini sifatnya inelastis jadi seberapapun harganya pasti dibeli, yang penting ada," ujarnya.

"Strateginya kelas menengah yang makin lemah daya belinya terpaksa ke segmen medium yang ada. Atau mengurangi konsumsi beras, menggantinya dengan produk gandum yang lebih murah dari beras dan beralih ke sumber pangan lainnya," pungkas Eliza.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |