PBNU Prihatin Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul: Harus Kedepankan Dialog

8 hours ago 1
Jakarta -

Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) merespons terkait viral ibadah jemaat salah satu gereja di Sewon, Bantul, dibubarkan oleh sekelompok orang. Gus Fahrur prihatin atas peristiwa intoleransi tersebut.

"Peristiwa pembubaran ibadah di Bantul sangat disayangkan dan tidak boleh terulang. Kebebasan beragama dan beribadah dijamin konstitusi sehingga semua pihak harus mengedepankan toleransi, dialog, dan penyelesaian secara hukum yang bijaksana," kata Gus Fahrur kepada wartawan, Selasa (26/5/2026).

Dia mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan serta tak mudah terprovokasi agar persatuan dan kedamaian tetap terpelihara. Selain itu, Gus Fahrur berharap pemerintah daerah hadir secara adil untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan ini secara bijaksana dan konstitusional agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kalaupun ada persoalan administratif atau perizinan, penyelesaiannya harus ditempuh melalui mekanisme hukum dan komunikasi yang baik, bukan dengan tindakan intimidasi atau pembubaran paksa. Kita berharap aparat pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh elemen warga dapat menahan diri serta bersama-sama menjaga kerukunan dan kedamaian sosial," ucapnya.

Ibadah Gereja di Bantul Dibubarkan

Seperti diketahui, viral unggahan bernarasi ibadah di salah satu gereja di Sewon, Bantul, dibubarkan oleh sekelompok orang. Gereja tersebut adalah Gereja Misi Sejahtera (GMS).

Dimintai konfirmasi, Plt Kepala Kesbangpol Bantul Yulius Suharta membenarkan adanya kejadian tersebut. Yulius menyebutkan peristiwa itu terjadi kemarin, Minggu (24/5).

"Kesbangpol tidak hanya pada posisi menunggu laporan, tapi dari informasi kemarin ketika berkembang akan ada penolakan terkait kegiatan GMS, kami sudah mengoordinasikannya," kata Yulius saat dihubungi wartawan, dilansir detikJogja, Senin (25/5).

Bahkan Yulius menyatakan Kesbangpol telah mencoba melakukan antisipasi terkait pergerakan tersebut. Akan tetapi peristiwa itu akhirnya tetap terjadi.

"Tapi yang terpenting kita sudah mencoba untuk langkah cepat dalam rangka bagaimana kondusivitas Kabupaten Bantul itu tetap terjaga," ujarnya.

Kronologi Kejadian

Terkait kronologi kejadian, Yulius mengungkapkan, awalnya GMS kerap melaksanakan kegiatan di salah satu hotel di Sewon. Karena setiap kegiatan memakan biaya sewa hotel, akhirnya GMS menyewa tempat baru untuk menjadi gereja.

"Kalau yang terkonfirmasi ke kita itu kan hari Kamis (21/5) itu memang ada kegiatan sosial yang dilaksanakan di tempat itu. Kemudian dilanjutkan, merupakan gedung sewa baru itu dari internal jemaat, itu kan semacam ada syukur tempat, rasa syukur untuk tempat ibadah yang baru yang dilaksanakan hari Minggu kemarin," katanya.

Terkait adanya penolakan dan berujung pembubaran ibadah di gereja, Yulius menyebutkan karena berkaitan soal izin.

"(Penolakan) masih berkaitan dengan apakah memang izinnya sudah dimiliki atau belum," ucapnya.

Padahal Yulius mengungkapkan GMS telah mengantongi surat keterangan tanda lapor (SKTL). Akan tetapi, pihaknya masih melakukan pencermatan terkait SKTL tersebut.

"Nah, cuma di sini yang nanti akan kita tindak lanjuti terkait dengan pemahaman keterangan di SKTL yang dikeluarkan itu, apakah memang benar sudah bisa dipakai sebagai tempat ibadah ataukah memang masih ada pengurusan administrasi yang lain," ujarnya.

Saksikan Live DetikPagi :

(fas/jbr)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |