Pasca Demo GenZ Besar Gulingkan Rezim, Negara Muslim Ini Pilih PM Baru

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), Tarique Rahman, kini bersiap mengambil alih tonggak kepemimpinan negara Asia Selatan berpenduduk 170 juta jiwa tersebut. Setelah lama berada di bawah bayang-bayang kedua orang tuanya sebagai pewaris dinasti politik terkuat di Bangladesh, Rahman akhirnya tampil ke panggung utama setelah partainya mengklaim kemenangan besar dalam pemilihan parlemen yang digelar pada Kamis waktu setempat.

Kemenangan ini diraih satu setengah tahun pasca-pemberontakan mematikan yang menggulingkan rezim tangan besi Sheikh Hasina. Meski hasil resmi belum diumumkan secara keseluruhan, Amerika Serikat telah menyampaikan ucapan selamat kepada Rahman atas kemenangan yang disebut sebagai pencapaian bersejarah tersebut.

Berbicara kepada AFP, dua hari sebelum pemungutan suara, Rahman menegaskan komitmennya untuk melanjutkan warisan politik keluarganya dengan visi yang lebih maju. Ia menyatakan bahwa meskipun ia menghormati pencapaian orang tuanya, ia memiliki ambisi personal untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi negaranya.

Pemimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), Tarique Rahman. (Facebook/tariquerahman.bdbnp)Foto: Pemimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), Tarique Rahman. (Facebook/tariquerahman.bdbnp)

"Mereka adalah mereka, saya adalah saya. Saya akan mencoba melakukan yang lebih baik daripada mereka," ujar Rahman saat ditemui di kantornya yang dihiasi potret mendiang kedua orang tuanya, dikutip Jumat (13/2/2026).

Kebangkitan politik pria berusia 60 tahun ini menandai titik balik luar biasa setelah ia menghabiskan 17 tahun dalam pengasingan di Inggris. Rahman baru kembali ke Bangladesh pada Desember lalu, tepat di tengah badai politik yang masih menyelimuti Dhaka. Ia merupakan putra dari mantan presiden Ziaur Rahman yang tewas terbunuh pada 1981, dan ibunya, Khaleda Zia, mantan perdana menteri tiga periode yang wafat hanya beberapa hari setelah kepulangannya.

Rahman mengungkapkan perasaan yang campur aduk saat pertama kali menginjakkan kaki kembali di tanah airnya. Kegembiraan karena bisa pulang seketika sirna karena ia harus menghadapi kenyataan pahit meninggalnya sang ibu yang selama ini berada dalam perawatan intensif.

"Ini adalah negara saya, saya lahir di sini, saya dibesarkan di sini, jadi tentu saja itu adalah perasaan yang sangat bahagia. Ketika Anda pulang setelah sekian lama, setiap anak pasti ingin memeluk ibunya. Saya tidak mendapatkan kesempatan itu," ungkap Rahman dengan nada sedih.

Sejarah hidup Rahman memang lekat dengan konflik politik sejak kecil, di mana ia sempat ditahan saat masih anak-anak dalam perang kemerdekaan 1971. Karier politiknya pun terbangun secara bertahap saat ia mulai mendampingi ibunya berkampanye di berbagai wilayah selama masa pemerintahan Khaleda Zia.

"Di kursi-kursinya (wilayah pemilihan), saya biasa pergi dan berkampanye. Jadi, begitulah perlahan dan bertahap saya mulai terlibat dalam politik," jelasnya mengenai awal mula perjalanannya di dunia politik.

Namun, perjalanan kariernya tidak lepas dari kontroversi, termasuk tuduhan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang sempat dilaporkan oleh pihak diplomatik Amerika Serikat pada masa lalu. Rahman sempat ditangkap pada 2007 dan mengaku disiksa selama dalam tahanan sebelum akhirnya melarikan diri ke London pada tahun berikutnya untuk menghindari berbagai kasus hukum.

Menanggapi masa lalunya yang kontroversial tersebut, Rahman secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan yang mungkin terjadi di bawah pengaruh atau kepemimpinannya di masa lalu.

"Jika ada kesalahan yang tidak diinginkan, kami meminta maaf untuk itu," kata Rahman kepada AFP.

Setelah jatuhnya rezim Sheikh Hasina, Rahman dibebaskan dari tuduhan paling serius yang pernah menjeratnya, yakni hukuman seumur hidup terkait serangan granat pada tahun 2004. Kini, dengan mandat baru yang ia klaim, Rahman mengakui bahwa tanggung jawab untuk membangun kembali Bangladesh yang ia sebut telah hancur oleh rezim sebelumnya adalah tugas yang sangat berat.

(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |