Partai Kecoa Bergerak Lagi, Turun ke Jalan Tuntut Menteri Ini Mundur

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang protes masif yang dimotori oleh gerakan pemuda Gen Z bersandi "Partai Kecoak" (Cockroach Janta Party) dilaporkan nekat menduduki jalanan ibu kota New Delhi. Mereka secara tegas mengabaikan barikade serta perintah pembubaran dari aparat kepolisian demi menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India.

Mengutip Al Jazeera, Senin (22/06/2026), puluhan demonstran nekat bermalam di atas aspal dan trotoar jalanan di tengah cuaca panas ekstrem yang menyengat wilayah New Delhi. Aksi demonstrasi yang awalnya lahir dari lelucon satir di media sosial ini dengan cepat berubah menjadi gerakan perlawanan nyata akibat akumulasi rasa frustrasi jutaan pemuda.

Gerakan ini dipimpin oleh Abhijeet Dipke, seorang lulusan Boston University yang baru saja kembali ke India untuk membawa protes digital ke ruang publik. Langkah berani ini diambil untuk menyuarakan kemarahan mendalam yang dirasakan oleh hampir setengah dari 1,4 miliar populasi India yang berusia di bawah 25 tahun.

"Jika pemerintah mengira mereka bisa membuat kami kelelahan hingga menyerah, mereka sangat keliru. Kami akan tetap bertahan di sini sampai tuntutan kami dipenuhi," tegas Abhijeet Dipke saat ditemui di sela-sela aksi unjuk rasa.

Awalnya, gerakan bertajuk Cockroach Janta Party (CJP) ini dibentuk sebagai tanggapan atas pernyataan kontroversial Hakim Agung India yang menyamakan pemuda dengan kecoak. Lelucon satir tersebut justru viral hingga membuat akun Instagram CJP meraup 22 juta pengikut, mengalahkan jumlah pengikut milik partai penguasa.

Kemarahan publik ini kian memuncak setelah kasus kebocoran dokumen soal ujian masuk fakultas kedokteran nasional mencuat ke publik bulan lalu. Skandal ini menghancurkan masa depan jutaan pelajar yang telah belajar keras, hingga memicu keputusasaan massal di kalangan generasi muda.

Situasi kian kritis setelah otoritas berwenang melaporkan adanya belasan kasus bunuh diri di kalangan siswa akibat depresi pasca-pembatalan ujian tersebut. Hal ini memicu gelombang kemarahan yang menuntut Menteri Pendidikan Federal, Dharmendra Pradhan, untuk segera meletakkan jabatannya dari kabinet.

Sebagai langkah darurat yang kontroversial, pemerintah India bahkan sempat memblokir secara total operasional aplikasi pesan Telegram demi membendung penyebaran dokumen ujian yang bocor. Kebijakan itu langsung menuai kritik tajam karena dianggap hanya sekadar solusi tambal sulam yang tidak menyentuh akar masalah.

"Aksi ini benar-benar menghancurkan tekad saya karena para siswa jatuh ke jurang depresi dan tidak ada satu pun pejabat yang peduli. Saya sudah kehilangan kepercayaan pada keadilan sistem ujian di negara ini," ungkap Sachin Kumar, salah satu demonstran berusia 18 tahun.

Meskipun pemerintah menggelar ujian ulang bagi 1,7 juta siswa pada hari Minggu, Kumar dan ribuan pemuda lainnya memilih untuk tetap bertahan di lokasi protes. Bagi mayoritas demonstran remaja ini, rezim nasionalis Hindu pimpinan PM Narendra Modi adalah satu-satunya era politik yang pernah mereka rasakan sejak 2014.

Hingga saat ini, pihak kepolisian Delhi dilaporkan terus menggunakan berbagai taktik tekanan psikologis untuk mengusir para demonstran dari area Jantar Mantar. Aparat bahkan sempat memutus akses pasokan makanan dan air bersih ke area barikade guna memecah konsentrasi massa.

Kendati demikian, kelompok pemuda ini menolak menyerah dan justru menghabiskan malam dengan berdiskusi politik serta menari mengikuti alunan musik hip-hop. Mereka menegaskan tidak akan beranjak pulang sampai menteri pendidikan resmi mundur, sebuah keputusan yang akan menjadi sejarah pertama dalam 12 tahun masa kepemimpinan Modi.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |