Jakarta, CNBC Indonesia - PT Ormat Geothermal Indonesia resmi ditetapkan sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada awal Januari 2026.
Adapun, penetapan pemenang lelang tersebut tercantum dalam Pengumuman Nomor 5.Pm/EK.04/DJE.P/2026 tertanggal 12 Januari 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan keputusan ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026 tanggal 8 Januari 2026 tentang Pemenang Pelelangan Wilayah Kerja Panas Bumi di Daerah Telaga Ranu.
"Menteri ESDM telah menetapkan Pemenang Lelang WKP Telaga Ranu melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026 tanggal 8 Januari 2026 tentang Pemenang Pelelangan Wilayah Kerja Panas Bumi di Daerah Telaga Ranu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, yaitu: Nama Badan Usaha : PT Ormat Geothermal Indonesia (TRU-01)," bunyi surat pengumuman pemenang pelelangan WKP Telaga Ranu, dikutip Kamis (19/2/2026).
Profil Ormat Technologies
Mengutip laman resmi perusahaan, Ormat Technologies didirikan pada 1965 oleh Lucien Y. Bronicki dan istrinya, Dita. Perusahaan ini awalnya fokus pada pengembangan turbin surya kecil berbasis teknologi Organic Rankine Cycle (ORC).
Pada 1980-an, Ormat bertransformasi dari sekadar pemasok peralatan menjadi penyedia pembangkit listrik turnkey (siap operasi), termasuk pembiayaan proyek. Perusahaan kemudian berkembang menjadi pemilik sekaligus operator pembangkit panas bumi, mencakup eksplorasi, pengembangan, hingga pengoperasian lapangan panas bumi.
Beberapa proyek penting ormat diantaranya yakni:
Pada 1984, Wubaska 700 kW menjadi ORC komersial pertama yang beroperasi di Amerika Serikat. Pada 1986, Ormesa I berkapasitas 30 MW mulai beroperasi.
Secara paralel, Ormat memasuki pasar pembangkit energi hasil pemulihan panas (Recovered Energy Generation), terutama dari panas buang di stasiun kompresor gas alam, serta di pabrik semen dan terminal regasifikasi LNG.
Pada 1995, Pembangkit Panas Bumi Siklus Gabungan 130 MW di Leyte, Filipina, mulai beroperasi.
Pada 1992, Ormat mengembangkan dan membangun Pembangkit Panas Bumi Siklus Gabungan pertama yang dipatenkan di Puna, Hawaii.
Sembari terus memasok peralatan secara global, Ormat memulai proyek BOT (Build-Operate-Transfer) dan BOO (Build-Own-Operate) di luar negeri.
Proyek pertama adalah Leyte Optimization 50 MW di Filipina, diikuti proyek pembangkitan awal Olkaria III berkapasitas 8 MW di Kenya, yang kini berkembang menjadi kompleks 150 MW yang dimiliki dan dioperasikan Ormat.
Ekspansi Global dan IPO
Memasuki 2000-an, Ormat terus tumbuh melalui pengembangan dan konstruksi proyek panas bumi dan energi pemulihan baru, serta akuisisi aset panas bumi di AS dan melakukan repowering jika diperlukan. Pada 2010, total kapasitas di AS mencapai 1.300 MW.
Pada 2004, Ormat melakukan IPO di Bursa Efek New York (NYSE: ORA). Transformasi menjadi perusahaan publik yang berkantor pusat di Reno, Nevada, memungkinkan pertumbuhan berkelanjutan dan partisipasi dalam lebih banyak proyek pembangkit global.
Pada 2006, Ormat memasuki Turki dengan membangun pembangkit panas bumi DORA 1 berkapasitas 7,4 MW. Turki kini menjadi salah satu pasar panas bumi dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan total kapasitas sekitar 900 MW di lebih dari 40 pembangkit lebih dari separuh kapasitas panas bumi operasional Turki.
Di sektor energi pemulihan, Ormat memperluas kepemimpinannya melalui proyek OREG di sepanjang pipa gas alam perbatasan utara AS. Antara 2006-2009, Ormat membangun serangkaian pembangkit REG yang mengubah panas buang kompresor turbin gas menjadi listrik, dengan total kapasitas 53 MW.
Proyek-Proyek Strategis Global
Pada 2013, pembangkit panas bumi biner terbesar di dunia, Ngatamariki 100 MW di Selandia Baru, mulai beroperasi komersial. Ormat menangani rekayasa, pengadaan, dan konstruksi proyek tersebut yang memasok energi berkelanjutan bagi sekitar 80.000 rumah per tahun.
Pada 2017, fasilitas panas bumi skala utilitas pertama Honduras, Platanares 35 MW, mulai beroperasi komersial. Presiden Honduras Juan Orlando Hernández menghadiri peresmian dan menegaskan target 80% energi terbarukan pada 2032.
Ormat juga mengumumkan akuisisi Viridity Energy, yang menandai langkah strategis perusahaan memasuki bisnis penyimpanan energi.
Pada Mei 2018, unit NIL 2 di proyek panas bumi Sarulla, Sumatra Utara, Indonesia, mulai beroperasi komersial, melengkapi kompleks tiga unit dengan total kapasitas 330 MW menjadikannya salah satu pembangkit panas bumi terbesar di dunia. Masing-masing unit 110 MW menggunakan uap dan brine untuk mengoptimalkan efisiensi.
Kompleks Olkaria III di Kenya juga menjadi contoh pendekatan strategis Ormat dalam memaksimalkan sumber daya panas bumi. Pada 2018, kapasitasnya meningkat menjadi 150 MW. Dimulai dari fasilitas 8 MW pada 2000, selama 18 tahun Ormat terus menambah unit dan meningkatkan kapasitas pembangkit tersebut.
(pgr/pgr)
Addsource on Google


















































