Jakarta, CNBC Indonesia - Banjir bandang dahsyat yang melanda Nepal tengah minggu ini menimbulkan korban jiwa puluhan orang dan ratusan lainnya dinyatakan hilang. Peristiwa itu sekaligus memicu peringatan keras dari para ahli yaitu rencana pembangunan bendungan raksasa China di wilayah Himalaya yang rawan gempa ibarat "bom air" yang siap meledak kapan saja.
Moneycontrol dan NDTV melaporkan peringatan dari Brahma Chellaney, ahli geostrategi dari India.
"Himalaya adalah pegunungan utama paling aktif secara seismik di dunia. Bahkan gempa berkekuatan sedang saja sudah mampu memicu bencana banjir besar seperti yang terjadi hari ini. Bayangkan apa yang bisa terjadi jika gempa serupa mengguncang bendungan raksasa yang sedang dibangun China di sana," dikutip dari laman Moneycontrol dan NDTV, Rabu (26/8/2026).
Chellaney melapor peringatan setelah gempa 4,4 magnitudo memicu luapan banjir dari Sungai Bhote Koshi dan Trishuli pada Rabu pagi waktu setempat. Air yang mengalir deras menghantam bangunan, menghancurkan desa, jembatan, serta proyek pembangkit listrik tenaga air di beberapa distrik Nepal.
Analisis awal menunjukkan bencana dipicu longsoran es dan batu yang diduga terpicu oleh gempa bumi berkekuatan 4,4 magnitudo di wilayah perbatasan Tibet-Nepal. Meski tergolong gempa berkekuatan sedang, dampak beruntun yang ditimbulkan ternyata sangat dahsyat.
Proyek yang dimaksud Chellaney adalah Bendungan Medog di Sungai Yarlung Tsangpo, Tibet yaitu hulu Sungai Brahmaputra di India dan Jamuna di Bangladesh. Dengan kapasitas terpasang 60.000 MW, bendungan ini akan menjadi pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia, tiga kali lipat kapasitas Bendungan Tiga Ngarai yang kini memegang rekor.
Namun, lokasi pembangunannya berada tepat di atas jalur patahan aktif Paizhen, di wilayah pertemuan lempeng tektonik India dan Eurasia yang terus bergerak. Bahkan penelitian geologi yang dibiayai pemerintah China sendiri telah mengonfirmasi bahwa situs bendungan itu berada di atas garis patahan aktif yang dapat mengancam kestabilan struktur bendungan raksasa tersebut.
"Proyek yang terletak di dekat perbatasan India-Tibet ini adalah bom air yang siap meledak. Jika struktur bendungan itu jebol karena gempa, air yang meluap dapat menenggelamkan wilayah timur laut India dan mendatangkan malapetaka jauh ke hilir hingga Bangladesh," kata Chellaney.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Gempa berkekuatan 7,1 magnitudo yang mengguncang wilayah Tibet pada awal 2025 lalu saja sudah menyebabkan retakan pada lima bendungan yang sudah beroperasi. Jika gempa yang lebih besar mengguncang bendungan Medog saat air pada ketinggian puncak, dampak yang ditimbulkan dapat melampaui segala bencana yang pernah tercatat di wilayah Asia Selatan.
Sementara itu, pihak berwenang Nepal mengeluarkan peringatan bahwa bahaya belum berlalu. Danau yang terbentuk akibat sungai yang tersumbat longsoran batu belum sepenuhnya surut, sehingga air dapat meluap secara tiba-tiba kapan saja. Warga di sepanjang tepian Sungai Bhote Koshi dan Trishuli diminta tetap waspada dan menjauh dari aliran sungai.
Peristiwa ini sekaligus membuka mata dunia bahwa pembangunan bendungan raksasa di wilayah yang sangat rawan gempa seperti Himalaya bukan sekadar masalah teknis semata, melainkan ancaman nyata bagi jutaan orang yang tinggal di hilir.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]


















































