Krakatau Meletus Bawa Tsunami 30 M, Sapu Kota-Warga Nyangkut di Pohon

2 hours ago 1
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat hari ini 143 tahun lalu, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dahsyat. Letusan tersebut memicu tsunami besar yang menewaskan sekitar 36.000 orang. Namun, di tengah bencana tersebut, ada sejumlah orang yang berhasil selamat. Salah satunya adalah Ong Leng Yauw.

Ong merupakan anak berusia 14 tahun yang tinggal di Karangantu, Banten. Pada 27 Agustus 1883, dia bersama kawannya, Ong Boen Seng, berjalan kaki menuju Banten untuk membeli kue sembahyang. Karangantu sendiri dulunya dikenal sebagai kawasan pesisir yang sibuk, pusat ekonomi dengan berbagai aktivitas perdagangan dan pelabuhan.

Saat itu, Ong dan ribuan warga Banten serta Sumatra bagian Selatan sebenarnya sudah mendengar suara gemuruh selama sekitar tiga bulan. Hanya saja, mereka tidak mengetahui dari mana suara tersebut berasal.

"Suara gemuruh dari Krakatau sudah terdengar selama kira-kira tiga bulan, tetapi pada waktu itu tidak ada yang tahu dari mana suara tersebut berasal," kenang Ong saat menceritakan pengalamannya kepada Kwee Tek Hoay dalam memoar berjudul Apa jang saja denger tentang kamandjoerannja klenteng Kwan Im di Bantam (1937).

Sampai akhirnya, petaka tiba ketika suara gemuruh tersebut berubah menjadi ledakan dahsyat. Abu seketika turun dengan lebat dari udara. Matahari menghilang dan siang berubah menjadi gelap gulita. Situasi tersebut membuat warga Banten seolah merasakan suasana seperti kiamat.

"Tangan di depan mata pun tidak bisa terlihat," tutur Ong.

Ong dan Boen Seng pun kebingungan melihat keadaan tersebut. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Hingga tiba-tiba, terdengar suara gemuruh ombak. Ong berusaha menyelamatkan diri dengan berenang. Dalam kepanikan itu, ia kemudian tersangkut di sebuah pohon dan bertahan di sana sambil menunggu air surut.

"Di sana-sini ramai suara orang berteriak minta tolong, tapi tidak kelihatan apapun," jelas pria kelahiran 1869 tersebut.

Boen Seng ternyata juga berhasil selamat. Ia tersangkut di atas atap sebuah lumbung yang hanyut terbawa air dan kemudian tersangkut di antara pepohonan.

Selama bertahan di atas pohon, Ong melihat air mencapai ketinggian pohon kelapa. Rata-rata pohon kelapa dapat mencapai ketinggian sekitar 15-30 meter. Belakangan, pengamatan Ong benar. Riset kontemporer mengungkap tsunami mencapai 30 meter. 

Namun, setelah air mulai surut, bencana belum benar-benar berakhir.

Ong kemudian turun dari pohon tempatnya bertahan hidup. Pemandangan yang dilihatnya begitu mengerikan. Tidak ada rumah yang masih berdiri. Bangunan pasar dan gudang rata dengan tanah. Reruntuhan bercampur dengan jasad manusia dan hewan yang sebagian tertutup abu.

Saking tebalnya, banyak batang pohon patah karena tak kuat menahan beban abu. Kondisi serupa juga terlihat di kampung tempat tinggalnya. Rumah dan harta benda milik warga telah hilang tersapu bencana.

"Saya punya rumah dengan isinya semua lenyap, dan boleh dibilang semua orang Tionghoa di Karangantu telah binasa," tutur Ong.

Ong kehilangan rumah keluarga sekaligus seluruh hartanya. Meski begitu, dia berhasil selamat bersama Boen Seng dan dua perempuan yang ditemukan dalam kondisi bergelantungan di atas pohon.

Kedua perempuan tersebut kemudian dibawa ke Serang. Namun, sekitar sebulan kemudian, keduanya meninggal dunia setelah tidak sanggup menanggung kesedihan akibat kehilangan keluarga dan harta benda.

Sementara itu, Ong yang berhasil selamat mendapat bantuan berupa beras dan uang 1,5 gulden setiap minggu. Ia kemudian diminta mengungsi ke Batavia dan kembali mendapat bantuan.

Kesaksian Ong Leng Yauw baru dituturkan puluhan tahun setelah bencana. Pada 1937, sekitar 54 tahun setelah letusan Krakatau, Ong yang saat itu berusia sekitar 68 tahun menceritakan kembali pengalamannya kepada Kwee Tek Hoay yang dituliskan ke dalam memoar berjudul Apa jang saja denger tentang kamandjoerannja klenteng Kwan Im di Bantam (1937).

Kini, Gunung Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883 telah musnah. Namun, dari kawasan tersebut kemudian muncul Gunung Anak Krakatau yang hingga kini masih aktif. Dalam beberapa hari terakhir Gunung Anak Krakatau dilaporkan mengalami erupsi.

(mfa/mfa)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |