Nama Trump "Banjiri" Dokumen Skandal Epstein, Ungkap Pengakuan Korban

11 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah ribuan dokumen terkait mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein dirilis ke publik.

The New York Times mengungkap lebih dari 5.300 berkas memuat referensi terhadap Trump dan istilah terkait lainnya, meski tidak ditemukan bukti komunikasi langsung antara keduanya.

Dokumen tersebut merupakan bagian dari sekitar tiga juta halaman arsip yang dikumpulkan Departemen Kehakiman AS (DOJ) selama bertahun-tahun penyelidikan terhadap Epstein, yang meninggal pada 2019 lalu.

Rilis dokumen ini dilakukan kurang dari 48 jam sebelum Wakil Jaksa Agung Todd Blanche menyatakan bahwa penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran seksual yang menyeret nama Trump tidak menemukan informasi kredibel untuk ditindaklanjuti.

"Departemen Kehakiman telah menyelidiki tuduhan tersebut dan tidak menemukan dasar yang cukup untuk penyelidikan lebih lanjut," ujar Blanche dalam sebuah wawancara, Minggu (1/2/2026) waktu setempat.

Kontroversi Epstein memang terus membayangi Trump dalam setahun terakhir, terutama setelah janji kampanye sekutu Trump pada 2024 untuk membuka penuh berkas Epstein tak sepenuhnya ditepati. Hal ini memicu spekulasi publik bahwa dokumen tersebut menyimpan informasi sensitif yang berpotensi merugikan Trump atau lingkarannya.

Berdasarkan penelusuran The New York Times menggunakan alat pencarian khusus, lebih dari 38.000 referensi ditemukan terkait Trump, istrinya, klub Mar-a-Lago di Florida, serta kata dan frasa terkait dalam email, dokumen pemerintah, video, dan catatan lain.

Sebagian besar berkas tersebut merupakan artikel berita dan materi publik yang masuk ke kotak masuk email Epstein, termasuk dokumen dari awal 2000-an saat keduanya masih berteman.

Sejumlah dokumen FBI yang dirilis memuat informasi yang belum diverifikasi, termasuk ringkasan internal yang menyebut Trump sebagai salah satu dari beberapa tokoh publik yang namanya muncul dalam laporan berisi "informasi cabul". Namun, ringkasan tersebut tidak disertai bukti pendukung. The New York Times juga menyatakan tidak merinci klaim yang belum terverifikasi itu.

Berkas lain berisi catatan wawancara penyelidik federal dengan para korban Epstein. Salah satunya, catatan tulisan tangan dari September 2019, menyebut seorang korban mengingat pernah dibawa ke Mar-a-Lago untuk bertemu Trump. Namun catatan tersebut tidak menunjukkan adanya pelanggaran oleh Trump.

Trump sendiri kembali membantah semua tuduhan. Seorang juru bicara Gedung Putih menolak berkomentar lebih jauh dan merujuk pada pernyataan Trump kepada wartawan.

"Berkas-berkas itu membebaskan saya," kata Trump, Sabtu lalu.

Dokumen yang dirilis juga menguatkan laporan sebelumnya mengenai kedekatan sosial Trump dan Epstein pada masa lalu, termasuk foto-foto Epstein bersama tokoh berpengaruh yang dipajang di rumah mewahnya di Manhattan. Namun, penyelidik, pengacara, dan jurnalis menegaskan bahwa banyak informasi terkait hubungan tersebut sudah lama berada di domain publik.

Secara keseluruhan, rilis terbaru ini menambah detail tentang bagaimana Epstein memantau dan mengoleksi informasi terkait Trump, bahkan setelah hubungan keduanya berakhir. Meski demikian, hingga kini, tidak ada bukti baru yang menunjukkan Trump melakukan pelanggaran hukum dalam kasus Epstein.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |