Muncul Masalah Baru Ancam Manufaktur RI, Apa Obatnya?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri nasional masih menghadapi ketidakpastian akibat gejolak geopolitik yang membuat harga sejumlah komoditas bergerak fluktuatif. Namun, persoalan yang kini paling terasa bagi pelaku industri justru bergeser ke biaya dan kepastian logistik.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri harus menghadapi ongkos angkut yang semakin mahal. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen dalam negeri, tetapi juga mulai terasa pada barang impor yang masuk ke pasar Indonesia.

"Tetapi untuk beberapa komoditas, memang saat ini justru fenomenanya yang jadi kendala bukan masalah bahan baku dan harga, tapi yang jadi kendala adalah logistik," ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Inaplas Fajar Budiono kepada CNBC Indonesia, Jumat (28/6/26).

Biaya freight yang tinggi membuat pengiriman barang menjadi lebih mahal. Kondisi ini sekaligus membuat pasokan impor tidak semurah sebelumnya, termasuk produk yang berasal dari China.

"Logistik, jadi sekarang freight-nya itu mahal-mahal semua, sehingga barang-barang impor pun juga mulai turun. Dari Cina juga sudah mulai agak tinggi harganya," kata Fajar.

Di sisi lain, ketidakpastian pengiriman membuat pelaku usaha di pasar domestik cenderung menahan keputusan. Mereka memilih melihat perkembangan biaya angkut, harga barang, serta kepastian pasokan sebelum mengambil posisi.

"Tetapi pasar lokal kayaknya juga masih wait and see untuk ambil posisi atau gimana, karena, pengirimannya itu tidak terlalu bisa dipastikan, yang kedua juga harganya fluktuasi sehingga orang cenderung ke wait and see," ujarnya.

Dari sisi legislatif menilai biaya transportasi dan angkutan logistik menjadi salah satu komponen yang perlu segera ditekan. Pasalnya, ongkos tersebut memberikan porsi cukup besar terhadap keseluruhan biaya usaha.

"Terus juga masalah transport, transportasi angkutan logistik. Ini juga terlalu mahal. Padahal itu memberikan satu kontribusi, apa ini, kontribusi usaha biaya produksi itu kurang lebih sekitar 30% sampai 40%," kata Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono kepada CNBC Indonesia, Jumat (28/6/26).

Tingginya ongkos logistik tidak hanya menjadi persoalan bagi industri yang sudah beroperasi. Biaya distribusi yang mahal juga dapat menjadi pertimbangan bagi investor asing ketika menentukan lokasi pembangunan fasilitas produksi.

"Ini juga perlu dilakukan atau diregulasi oleh pemerintah, dalam arti dibatasi oleh pemerintah, jangan sampai tarifnya itu terlalu mahal dan sebagainya. Jadi terus mereka juga dipermudah dengan apa itu kelancaran yang ada di jalan-jalan tol dan sebagainya," ujar Bambang.

Biaya transportasi harus ditekan bersamaan dengan biaya energi agar Indonesia memiliki struktur biaya yang lebih kompetitif. Ongkos logistik, listrik, dan gas yang lebih murah dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam bidang manufaktur.

"Ini karena apa? Transportasi logistiknya murah dan cepat. Terus juga listrik sama energi maupun gasnya juga murah. Terus juga kesulitan ekonomi biaya tinggi dari sisi perizinan dan sebagainya, mungkin juga bisa dipermudah dan dipermurah atau dipersingkat jadi tidak ada birokrasi yang berbelit-belit dan lain-lain," kata Bambang.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |